Strongest Lady

Strongest Lady
Ch. 44-Naga Biru


__ADS_3

Weiruo tertidur cukup lama, ketika terbangun dan mengecek ke luar, matahari sudah berada di atas kepala. Entah kenapa tidurnya terasa begitu nyenyak, terlebih tidak ada sedikitpun suara yang mengganggu.


Selama seharian Weiruo menghabiskan waktu di kamarnya, sore harinya seorang murid Sekte Cakar Naga datang ke kamar Weiruo membawa senampan makanan untuk gadis tersebut serta menyampaikan pesan dan Fu Cheng.


Fu Cheng meminta Weiruo untuk beristirahat dengan nyaman dan jika membutuhkan sesuatu dapat menyampaikannya pada gadis yang membawa makanan tersebut karena gadis tersebut akan mendampingi Weiruo.


Weiruo meminta gadis tersebut untuk kembali daripada menemaninya, baginya Fu Cheng terlalu merepotkan muridnya hanya untuk hal kecil seperti sekarang.


Weiruo menghabiskan sorenya dengan berlatih tenaga dalam, ketika malam tiba Weiruo mengakhiri latihannya untuk beristirahat.


“Ada apa?”


Weiruo menyadari gerak-gerik aneh Chie, burung tersebut bertengger di jendela dan terus menghalangi Weiruo yang ingin menutup jendela.


Chie terbang keluar dan berputar di udara, memberi isyarat agar Weiruo keluar.


“Kau mau aku mengikutimu? Ada apa?”


Weiruo melompat keluar dari jendela, Chie langsung terbang menjauh dan Weiruo mengikuti tepat di belakang. Chie akhirnya berhenti di sudut sebuah gunung besar, Weiruo menghentikan langkahnya dan meminta Chie untuk menunjukkan apa yang ingin ditunjukkan olehnya.


Chie hinggap di sebuah gundukan tanah, kakinya menggaruk tanah di bawahnya.


Melihat itu Weiruo mengeluarkan belati dan menggali gundukan tanah tersebut menggunakan belati. Cukup lama Weiruo menggali hingga belatinya mencapai lapisan bebatuan dari gundukan tanah tersebut.


Sekali lagi Weiruo menggali, kini menggunakan tangannya, memindahkan satu per satu batu hingga sebuah celah kecil terlihat. Tangan Weiruo kotor dan mengalami sedikit luka goresan karena batu-batu tersebut, tapi Weiruo tidak berhenti dan terus memindahkan batu-batu di hadapannya.


Akhirnya sebuah jalan terlihat, Chie masuk mendahului Weiruo, ujung bulu di setiaap sayapnya mengeluarkan cahaya samar sehingga Weiruo dapat melihat jalur kecil tersebut dengan jelas.


Weiruo berjalan cukup lama, setelah mendorong batu besar yang menutup jalan, ia tiba di sebuah ruangan yang begitu besar.


Yang membuat Weiruo terkejut bukan karena ukuran ruangan tersebut, melainkan sosok seekor naga yang tertidur di dalam kolam di tengah ruangan. Naga tersebut memiliki tubuh yang begitu besar, seukuran sebuah rumah satu lantai, sisiknya berwarna biru gelap, dan sepasang tanduk besar di tiap sisi kanan dan kiri kepalanya.


‘Kau sudah datang, manusia.’


Weiruo mengeluarkan pedangnya dan melihat sekitar dengan waspada.

__ADS_1


‘Tidak usah takut, aku tidak akan menyerangmu,’ suara itu kembali terdengar di kepala Weiruo, membuat gadis tersebut menambah kewaspadaannya.


‘Haha, aku ada di depanmu.’


Weiruo berhenti sejenak dan beralih pada sosok naga yang tertidur di hadapannya sekarang.


‘Benar.’


“Siapa kau?” tanya Weiruo penuh waspada.


‘Aku adalah Shulong, penunggu Gunung Naga ini serta satu dari empat Binatang Suci.’


Weiruo tersentak kaget. Binatang Suci adalah sebutan bagi empat sosok binatang spiritual yang mewarisi kekuatan langit yang luar biasa. Binatang spiritual tidak hanya berasal dari binatang spiritual saja, kekuatan empat Binatang Suci akan terus diwariskan kepada binatang spiritual maupun mereka yang memiliki darah siluman. Namun, sangat sedikit sejarah Binatang Suci dengan darah siluman.


Di hadapan Weiruo kini tertidur sosok Shulong, Naga Biru, satu dari empat Binatang Suci yang keberadaannya sudah menghilang ratusan tahun lalu.


“Shulong, kenapa Binatang Suci sepertimu berada di tempat seperti ini?”


Shulong diam sejenak sebelum menjelaskan alasannya berada di dalam Gunung Naga.


Ratusan tahun yang lalu ketika perang dengan Raja Iblis, empat Binatang Suci berjuang mati-matian bersama ‘Tuan’ mereka untuk menghadang prajurit iblis yang berusaha menguasai tiap benua yang ada.


Peperangan berlangsung begitu lama, hingga akhirnya Raja Iblis berhasil disegel di tempat yang begitu jauh dari kehidupan manusia.


Perang yang begitu lama dengan ratusan ribu korban, sebuah kisah lama yang membekas di hati begitu banyak orang. Empat Binatang Suci yang begitu dikagumi menghilang sesaat setelah perang, selain mengalami luka yang begitu parah, dua di antara mereka tewas di tangan Raja Iblis, membuat tuan mereka mengalami kesedihan mendalam.


Cerita Shulong berakhir di situ, Weiruo yang mendengar cerita itu merasa kagum dengan perjuangan tuan dari Binatang Suci. Empat eksistensi yang begitu kuat di bawah satu orang, entah seberapa kuat tuan mereka dahulu hingga mampu menjinakkan keempat makhluk legendaris.


“Apa lukamu masih belum pulih?”


‘Aku berhasil memulihkan Inti Spiritualku sejak lama, mungkin aku akan bangun dalam satu bulan ... setelah mengumpulkan cukup banyak energi.’


Weiruo menyimpan pedangnya dan mengajak Chie untuk kembali, gadis tersebut ingin beristirahat dengan cukup sebelum berlatih.


‘Bisa tinggalkan dia? Aku ingin berbicara dengan kawan lama.’

__ADS_1


Tanpa banyak bicara Weiruo mengiyakan dan meninggalkan mereka berdua. Weiruo menutup pintu masuknya dengan tanaman sulur sebelum pergi dari gunung tersebut.


Keesokan harinya putri Fu Cheng, Fu Yaran, datang mengunjungi Weiruo dengan membawa begitu banyak hadiah untuknya.


Fu Yaran banyak membawa gaun serta perhiasan untuk Weiruo. Berbeda dengan Weiruo, Fu Yaran bukanlah seorang pendekar dan tidak terlalu memahami keperluan para pendekar sehingga membawa hadiah yang menurutnya disukai oleh para gadis.


Weiruo menerima dengan baik tiap hadiah yang diberikan oleh Fu Yaran, menolakpun tidak akan berguna melihat betapa senangnya Fu Yaran tiap Weiruo mencoba mencocokkan gaun yang diberikan olehnya.


“Putri saya sembuh berkat Nona, hadiah seperti ini rasanya masih belum sepadan,” ucap Fu Yaran tiba-tiba.


“Jangan seperti itu ... lagipula saya tidak memberi bunga itu kepada Ayah anda begitu saja, saya menjualnya pada Ayah anda dengan harga yang telah ditentukan.”


Fu Yaran tersenyum tipis, kemudian meminta Weiruo mencicipi kue yang ia bawa dari kota.


***


Qi Jia menyapu halaman dengan hati-hati, nyanyian kecil menemani gadis tersebut menghabiskan waktunya untuk membereskan semua pekerjaannya.


Qi Jia awalnya berpikir setelah Balai Obat mulai beroperasi Weiruo tidak akan membutuhkan dirinya untuk mengurus tempat tersebut. Namun, Nyatanya Weiruo meminta Qi Jia untuk terus bekerja dan merawat bangunan tersebut.


Tangan Qi Jia berhenti menyapu ketika menyadari ada seseorang di gerbang toko. Qi Jia buru-buru menyambut orang tersebut yang terlihat seperti seorang pedagang.


“Apa anda sedang mencari obat, Tuan?” tanya Qi Jia dengan sopan.


“Aku ingin bertemu dengan Shema, ini hal penting.”


“B-baiklah, silakan masuk terlebih dahulu, saya akan memanggil Nyonya Shema untuk anda.”


Qi Jia membawa pemuda tersebut masuk ke dalam ruang yang khusus untuk menerima tamu. Tidak lama Qi Jia kembali bersama Shema.


“Hal apa yang membuatmu datang kemari?” tanya Shema tanpa basa-basi.


Pemuda tersebut mengeluarkan sebuah gelang dan menunjukkannya kepada Shema.


“Dia mengirimku kemari.”

__ADS_1


Shema mengerutkan alisnya melihat gelang di tangan pemuda tersebut, gelang yang sama seperti yang digunakan oleh Weiruo.


Shema meminta pemuda tersebut menyerahkan gelang di tangannya, wanita tersebut mencium aroma gelang tersebut yang terasa tidak asing. Tidak salah, gelang tersebut memang milik tuannya, Weiruo.


__ADS_2