
“Lalu kenapa jika dia Tuan Muda Klan Mo?”
Mo Yangcen menaikkan alisnya mendengar respon Weiruo setelah mengetahui identitasnya. Biasanya gadis-gadis yang bertemu dengan dirinya akan langsung mendekatkan diri padanya setelah mengetahui identitas Mo Yangcen sebagai Tuan Muda Klan Mo.
Namun, tidak hanya tidak tertarik, Weiruo juga terlihat tidak peduli dengan identitas Mo Yangcen.
Mo Yangcen begitu kesal, melihat penampilan Weiruo pemuda tersebut menganggap jika Weiruo hanyalah seorang anak pedagang kaya.
Tangan Mo Yangcen terulur untuk meraih Weiruo. Namun, gadis tersebut dengan cepat menghindar dan ganti meraih tangan Mo Yangcen lalu menggenggamnya dengan kuat.
“Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!” teriak Mo Yangcen.
Pemuda tersebut berusaha menarik tangannya dari genggaman Weiruo, tapi entah kenapa Mo Yangcen merasa jika tangannya yang digenggam oleh Weiruo tidak memiliki tenaga sedikitpun.
Weiruo mempererat genggamannya, dapat ia rasakan jika tulang-tulang telapak tangan Mo Yangcen bergeser dari tempat seharusnya.
“AARGH LEPASKAN TANGANKU!!” pekik Mo Yangcen.
Teriakan Mo Yangcen tentu menarik perhatian begitu banyak orang, para pelayan buru-buru melihat keributan yang dihasilkan oleh Weiruo.
Weiruo melepaskan genggamannya dari tangan Mo Yangcen, seketika juga pemuda tersebut melangkah mundur dan memeganggi tangannya yang terasa begitu sakit.
“Kurang ajar! Apa kau tahu akibat dari menyinggung Klan Mo?” Mo Yangcen berteriak pada Weiruo.
Namun, Weiruo terlihat tidak peduli bahkan mengabaikan pemuda tersebut dan menuang teh ke dalam cangkirnya.
Melihat itu Mo Yangcen langsung naik darah, dengan satu isyarat mata sekelompok pemuda yang datang dengannya langsung menghampiri Weiruo.
“Keributan apa ini?”
Weiruo melirik ke arah Da Feng yang baru saja naik ke lantai 3, wajah Da Feng terlihat kurang bagus setelah melihat Mo Yangcen.
“Siapa kau? Jangan ikut campur!” ucap Mo Yangcen kesal.
“Seharusnya aku yang bertanya. Siapa kau? Apa yang kau ributkan dengan bosku?” Da Feng menunjuk Weiruo dengan jempolnya, tangan pemuda tersebut penuh dengan barang belanjaan.
Mo Yangcen menutup mulutnya rapat-rapat, pemuda tersebut merasakan dengan jelas energi membunuh dari tubuh Da Feng, belum lagi energi membunuh itu begitu kuat dan diarahkan kepadanya.
__ADS_1
Mo Yangcen buru-buru meninggalkan Weiruo tanpa banyak bicara, anak buahnya juga langsung mengikuti pemuda tersebut begitu Mo Yangcen melangkah pergi.
“Keluarga Mo ku tidak akan pernah melupakan penghinaan ini!”
Da Feng hanya melihat Mo Yangcen dengan aneh sebelum duduk di depan Weiruo.
“Apa kau meracuninya?” Da Feng mengembalikan jarum yang sebelumnya menancap di kursi yang akan didudukinya.
“Sedikit.”
Melihat senyum Weiruo, Da Feng tidak yakin jika Weiruo melakukan seperti apa yang dikatakannya.
“Kau membeli banyak barang.”
Weiruo melihat barang yang dibawa oleh Da Feng, pemuda tersebut menjelaskan jika dirinya melihat banyak barang bagus di pinggir jalan sehingga membeli banyak sebelum menemui Weiruo.
***
Klan Mo, satu dari tiga klan terkuat yang menjadi fondasi Kekaisaran Huangjin. Klan Mo begitu terkenal dengan pendekar hebat yang dihasilkan klan tersebut tiap tahunnya.
Mo Jangyun tentu begitu dihormati oleh penduduk kota dengan posisinya tersebut.
Dengan begitu banyak rasa hormat yang didapatkan olehnya, Mo Jangyun memiliki sikap sombong karena hal itu, siapapun yang berurusan dengan klannya tidak akan berakhir dengan baik.
Hari ini di tengah malamnya yang damai Mo Jangyun dikejutkan dengan teriakan putra semata wayangnya, Mo Yangcen.
Putranya berjalan tertatih kepadanya dengan pergelangan tangan kanan yang memerah. Mo Yangcen terus mengeluhkan tangannya yang terasa begitu sakit setelah tiba di kediaman sang ayah.
“Apa yang terjadi padamu? Siapa yang berani menyerangmu?” tanya Mo Jangyun pada putranya tersebut.
“Ayah, seorang gadis pendekar menyerangku ketika berada di restoran. Ketika aku ingin melawan, ternyata dia memiliki seorang penjaga yang begitu hebat. Sepertinya tulang tanganku sedikit bergeser.”
Mo Yangcen menunjukkan tangan kanannya yang terluka. Setelah Mo Jangyun memeriksanya, pria tersebut tidak bisa menyembunyikan amarahnya dan segera memanggil sekelompok orang yang bekerja di bawah perintahnya.
Mo Jangyun meminta ciri-ciri orang yang menyerang putranya tersebut.
Mo Yangcen langsung menjelaskan ciri-ciri Weiruo serta Da Feng. Namun, karena Mo Yangcen tidak mengetahui dari mana asal mereka, maka pasukan khusus milik ayahnya hanya akan mencari informasi lebih rinci sebelum menyerang.
__ADS_1
Mo Jangyun menatap pemuda di hadapannya sekarang, walaupun Mo Yangcen adalah tuan muda dari klannya, tapi pemuda tersebut tidak begitu ahli dalam bela diri, membuat pria tersebut frustasi dengan kelakuan anak semata wayangnya tersebut.
***
Bau alkohol yang begitu menyengat tercium dari kamar Da Feng, pemuda tersebut sepertinya meminum terlalu banyak arak sehingga membuatnya langsung jatuh tertidur begitu tiba di penginapan.
Weiruo memasukkan sebutir pil ke mulut pemuda tersebut sebelum pergi meninggalkan kamar Da Feng dan kembali ke kamarnya.
Setelah menelan sebutir pil, Weiruo segera duduk bersila dan mulai berlatih.
Malam terus berjalan, keheningan menguasai sekitar, hanya suara desiran angin yang menemani malam Weiruo yang begitu hening.
Weiruo membuka matanya setelah cukup lama berlatih, gadis tersebut berjalan ke arah jendela kamar dan membukanya, sedikit memberi celah agar udara dapat masuk ke dalam kamar.
Angin malam menyapu wajah Weiruo, gadis tersebut mengamati malam yang hening itu dengan tenang. Cahaya dari lampion serta obor menghiasi jalanan kota, terlihat hanya segelintir orang yang berlalu lalang.
Weiruo mengeluarkan sebuah jarum perak dan mengalirkan sedikit tenaga dalam pada jarum tersebut, sedetik kemudian melemparnya ke arah pepohonan.
Dalam hitungan detik sesosok bayangan hitam jatuh ke tanah, Weiruo melanjutkan aksinya dan melempar jarum-jarum lain ke arah yang berbeda.
Tidak ada keberadaan lain di sekitar penginapan, yang artinya tidak ada satupun jarum yang Weiruo lempar mengenai musuh yang bersembunyi.
“Tangkap mereka, aku sudah mengantuk,” ucap Weiruo.
Jendela kamar sebelah yang ditinggali Da Feng terbuka dan sesosok bayangan melompat keluar, tidak lain adalah Da Feng. Pemuda tersebut sudah menyadari jika ada musuh di sekitar mereka, tapi memilih untuk tetap berada di kamarnya karena tidak ada pergerakan dari mereka, sekaligus Weiruo juga belum memberi perintah.
Da Feng menarik keluar pedangnya dan menyerang sosok yang bersembunyi di balik bayangan.
Para pembunuh tersebut kerepotan mengatasi Da Feng, belum lagi Weiruo selalu melempar jarum beracun ke arah mereka.
Di sisi lain Weiruo menebak-nebak siapa yang mengirim pembunuh padanya. Untuk sekarang Weiruo tidak memiliki banyak musuh, jadi Weiruo dengan cepat langsung menebak orang di balik para pembunuh tersebut.
Siapa lagi jika bukan Klan Mo, mereka pasti akan mencari Weiruo setelah gadis tersebut melukai tuan muda mereka.
“Tapi mereka cukup lemah.”
Weiruo mengeluarkan beberapa pisau dan melemparkannya pada para pembunuh yang sibuk bertarung di bawah. Pisau-pisau tersebut mengenai titik vital para pembunuh, bahkan salah satu dari mereka langsung tewas setelah pisau Weiruo menembus lehernya.
__ADS_1