
Plak
"Bagaimana bisa kamu yang membuat tapi tidak tau maksud nya" bentak Bu Sandra meletakkan sebuah map di atas meja dengan keras hingga menimbulkan suara
"Kamu tau gak ibu malu, malu sekali mau taroh di mana muka ini" geram ibu Sandra menatap tajam orang di depan nya
"Selama ini kamu selalu membuat proposal yang tidak tau bentuk nya, sekali membuat proposal, membuat orang kagum tapi di suruh menjelaskan inti nya kamu malah tidak paham, kamu ini niat kerja tidak sih, Barbara" teriak ibu Sandra dengan kesal
Lantaran saat rapat ibu Sandra meminta Barbara untuk menjelaskan inti dari proposal nya
Karena sebelum itu ibu Sandra sudah mengecek nya dan proposal itu sangat bagus bahkan sangat sangat terperinci
Tapi saat Barbara di suruh maju untuk presentasi malah ia diam saja melirik ke kanan ke kiri mulut nya berbicara tak jelas
Itu membuat ibu Sandra kesal, marah dan malu sekaligus karena rapat ini di pimpin oleh pemilik perusahaan ini
Karena Barbara tak bisa menjelaskan CEO tersebut langsung Memperingati ibu Sandra dengan keras
Hingga akhirnya ibu Sandra memarahi Barbara di ruangan nya karena sudah membuatnya terkena amukan atasan nya
"Maaf Bu, kemarin saya belum sempat mempelajari nya" ujar Barbara dengan menunduk ia mengepalkan tangannya dengan kesal
"Apa kamu bilang, belum sempat mempelajari nya kamu ini bodoh atau gimana, kamu itu mengerjakan proposal, walau pun tak mempelajari nya setidaknya otak kamu ada sedikit inti informasi yang kamu tulis" ucap ibu Sandra menggeleng kepala nya
"Sekarang kamu keluar" usir ibu Sandra menunjuk pintu keluar
"Tapi Bu" ucap Barbara enggan pergi
"Keluar" teriak ibu Sandra yang sudah emosi jiwa
Dengan cepat Barbara keluar dari ruangan ibu Sandra
Lain di dalam lain di luar, di dalam Barbara sedang di marahi oleh ibu Sandra tapi di luar malah asyik mendengarkan Barbara di marahi oleh ibu Sandra
Mereka bersorak gembira lantaran Barbara terkena amukan ibu Sandra karena mereka tidak suka dengan tingkah Barbara yang suka memerintah
Saat ibu Sandra teriak keluar mereka langsung membubarkan diri menempati posisi masing-masing seolah tak terjadi apa-apa
Barbara keluar dengan muka merah padam ia menatap Alle dengan api kemarahan ia mengepalkan kedua tangannya
Karena semua ini ulah alle pegawai baru yang cantik menurut nya
(Awas saja kau) batin Barbara ia semakin benci terhadap Alle
__ADS_1
Sedangkan Alle ia bersorak gembira
(Rasakan itu siapa suruh kamu seenaknya mengerjakan pekerjaan kamu) batin Alle
Barbara ya Barbara orang yang kemarin memberi alle pekerjaan nya, dan setumpuk dokumen yang tebal
Waktu istirahat tiba seluruh karyawan keluar kantor untuk mencari makanan
"Alle, yuk kita cari makan" ajak Deby dengan senyum manis nya
"Kamu duluan aja aku mau ke toilet sebentar" ucap Alle tersenyum
"Oke kalau gitu aku tunggu di kantin ya" ucap Deby mengangguk
"Ya hati-hati" ucap Alle tersenyum tipis
Deby keluar ia menuju kantin kantor, ternyata Deby juga berasal dari negara yang sama dengan Alle, setelah kemarin mereka bercerita panjang lebar
Maka tak khayal jika wajah Deby berbeda dari yang lain
"Kau enggak ke kantin?" tanya Michel yang meletakkan sebuah map di atas meja nya
"Ini mau ke kantin, tapi mampir dulu ke toilet" ujar Alle
"Mau aku antar" ucap Michel bercanda
"Haha, baiklah baiklah, aku ke kantin dulu ya udah laper soal nya" ucap Michel tertawa
"Oke" ucap alle mengangguk
Tanpa Mereka sadari sedari tadi interaksi mereka di lihat oleh seseorang dengan dada yang kembang kempis menahan amarah
Orang itu semakin kesal, benci terhadap Alle ia mengepalkan kedua tangan lalu mengikuti alle ke toilet
Brak
Pintu tertutup dengan kasar Alle yang sedang bercermin tergejolak kaget ia melihat siapa yang menutup pintu dengan kasar
Setelah siapa pelakunya Alle menghela nafas panjang ia menggelengkan kepalanya
"Pasti dia mau balas dendam" ucap Alle pelan
"Heh kamu" ucap Barbara dengan nada tinggi ia menghampiri alle dan membalikkan badan Alle dengan kasar
__ADS_1
"Sudah puas ya kamu buat aku malu di depan semua orang, dan di amrahi oleh ibu Sandra, berani-beraninya kamu ngerjain aku" ucap Barbara tak terima
Alle menarik satu alisnya ia melihat wajah Barbara menelisik
"Kamu itu baru di sini seharusnya kamu itu nurut sama aku" ucap Barbara menuding Alle
"Maaf nona, saya dan anda adalah partner kerja, dan derajat sama bawahan ibu Sandra" ucap Alle pelan dengan nada tengil nya tak lupa ia menunjuk dirinya menunjuk Barbara dan menyatukan kedua jarinya sejajar
"Siapa bilang, aku itu orang kepercayaan ibu Sandra" kesal Barbara
"Cih, maaf nona, tapi setau saya krang kepercayaan nya ibu Sandra itu Michel, M-I-C-H-E-L" ucap Alle mengeja nama Michel
Barbara semakin geram tangan nya terangkat menampar pipi Alle tapi tangan itu belum sempat mengenai pipi alle
"Mau tampar saya silahkan, tapi nanti jika kamu di keluarkan dari perusahaan ini silahkan" ucap Alle tersenyum tipis
"Lepas" ucap Barbara melepaskan tangan nya yang di pegang Alle
"Ayo tampar" tantang Alle menunjukkan pipi nya
"Oh nantangin ya, kenapa tidak berani nampar kamu, lagian siapa pula yang tau kalau aku nampar kamu" ucap Barbara tersenyum licik
"Lagipula di dalam sini tidak ada cctv satu pun" ucap Barbara melihat sekeliling
"Memang tidak ada yang tau tapi alat ini bisa membuktikan nya" ucap Alle menunduk melihat pena di saku nya
Barbara yang melihat itu langsung meraih pena itu tapi ia tak berhasil karena alle menghindari nya
"Maaf nona tapi saya tidak mau berbagi" ucap Alle terkekeh lalu keluar dari toilet
"Aaahhhkk, awas kamu Alle" teriak Barbara
Ia kesal, marah terhadap Alle ia mengacak-acak rambut nya lalu menatap ke arah cermin dengan muka merah padam nya
(Lihat saja nanti) batin Barbara tersenyum licik
Ia kemudian merapikan penampilan nya yang berantakan, menebalkan lipstik merah merona nya
Sedangkan Alle ia keluar dari toilet terkekeh geli ia mengambil pena itu lalu memandangi nya
"Pertolongan yang sangat luar biasa" ucap Alle tersenyum lebar pada pena di pegang nya
Bagaimana tidak alle tersenyum lebar karena pena yang ia Pelang ialah pena biasa pena untuk menulis bukan untuk merekam
__ADS_1
Alle memang membohongi Barbara mengatakan jika itu perekam padahal itu pena biasa
(Tau rasa emang enak aku bohongi) batin Alle terkekeh geli ia bersenandung kecil menuju kantin mengisi perut nya