Suami, One Day

Suami, One Day
Chapter 23


__ADS_3

Sampai di halte dekat kantor bus yang di tumpangi Alle pun berhenti, alle turun ia tak hanya Alle beberapa orang pun ikut turun tak lama bus itu pun kembali berjalan


"Pagi Alle?" sapa seorang teman Alle


"Pagi juga" ucap Alle tersenyum menatap teman nya itu


Mereka berjalan berdampingan menuju kantor sampai di depan pintu teman alle menghentikan langkah nya alle yang melihat nya pun bertanya


"Ada apa?" tanya Alle mengkerut kan kening nya


"Ada mobil CEO kita berhenti dulu" ajak teman Alle menggandeng tangan Alle agar Alle berdiri di samping nya


"A emm kayak nya aku harus duluan deh aku masih ada kerjaan" tolak Alle


"Ck ayolah Alle, sebentar saja, lagi pula CEO kita sudah turun itu" bisik teman Alle melihat Alex sudah turun dari mobil nya


"Ta tapi" ucap Alle


"Sudah diam saja lihat mereka sudah dekat" ujar teman Alle


Alle pun menghela nafas panjang mau tak mau ia menemani teman nya menyapa CEO mereka apalagi melihat wajah teman nya yang antusias menyambut kedatangan CEO mereka


"Selamat pagi tuan, Alex asisten Ben" sapa teman Alle dengan senyum antusias nya


Alex dan asisten Ben menghentikan langkah nya mereka lalu menatap dua orang itu


Alex menatap intens wajah Alle, alle yang di tatap seperti itu semakin gugup


Apa lagi teman Alle ia menyenggol lengan Alle


"Sapa mereka Alle lihat CEO kita menatap mu" bisik teman Alle


"Pa pagi tuan, pagi as asisten Ben" ucap Alle gugup ia menunduk kan kepala nya


Entah kenapa di tatap Alex seperti itu membuat nya gugup dan sedikit takut


"Hem" dehem Alex ia kembali melanjutkan perjalanan ke ruangan nya di ikuti asisten Ben


"Kamu kenapa sih Al?, kenapa kamu gugup sekali" ujar teman Alle menatap Alle bingung

__ADS_1


"Ak aku tidak gugup" bohong Alle


"Gak usah bohong, aku tau kamu gugup" ucap teman Alle


"Ah aku tau pasti kamu gugup kan melihat wajah tampan CEO kita" ujar Teman alle sebelum Alle menjawab pertanyaan nya


Alle hanya tersenyum kaku


"Ah tidak ada yang bisa menolak wajah tampan CEO kita termasuk kamu sendiri" ucap teman Alle menggandeng tangan Alle sambil berjalan menuju ruangan mereka


(Aku bukan terpesona dengan wajah nya tapi aku merasa canggung atas kejadian kemarin apalagi melihat nya menatap ku seperti itu) batin Alle


Ia terus mengikuti langkah teman nya yang terus berceloteh memuji CEO mereka yang tampan


Di tempat lain di negara berbeda


Prang prang prang


"Mana perhiasan yang dia kasih, kemarikan" ujar seorang pria paruh baya menatap tajam orang di depannya


"Apa kamu tak ingat sama sekali, semua barang di rumah ini sudah kamu jual semua nya" teriak orang di depan nya yang tak lain adalah istri nya


"Termasuk sofa, tv, kulkas, perhiasan, termasuk mobil di rumah ini" teriak istri nya lagi


"Apa kalian tidak capek apa berantem terus, papa seharus nya papa itu bekerja bukan cuma menjual seisi rumah ini lihat, rumah semewah ini tapi tidak ada apa-apa nya, semua kosong seperti rumah yang tak berpenghuni" ujar Cherly dengan emosi


Ia muak dengan keluarga nya yang terus ribut setiap hari, ibu nya yang selalu foya-foya sedangkan ayah nya suka menjual barang di rumah untuk bermain judi


Awalnya ayahnya berhenti bermain judi beberapa waktu hingga akhirnya ia tak betah, lalu ia memutuskan untuk memainkan judi kembali


Kalah, kalah, kalah terus hingga membuatnya tak punya sehingga ia menjua perhiasan, mobil dan barang-barang di dalam hingga di dalam rumah hanya tersisa kemoceng sapu, bahkan kasur yang awal nya besar dan empuk kini berganti kasur kecil dan tipis


"Diam kamu, dasar anak kecil tau apa kamu, bukan kah jika aku menang kalian juga merasakan uang nya, dasar dua orang tak berguna" umpat nya lalu keluar dari rumah dengan tangan kosong


Cherly menatap tajam punggung ayah ia lalu menatap ibu nya


"Cherly mau keluar, Cherly gak mau tinggal dengan kalian berdua" teriak Cherly berlari ke kamar nya


Tak lama Cherly menyeret sebuah koper nya, ibu Cherly yang melihat secepat nya menghampiri nya

__ADS_1


"Kamu mau kemana sayang?" tanya ibu Cherly


"Cherly mau pergi" ketus Cherly ia terus menggeret koper nya


"Cherly kamu jangan pergi, kalau kamu pergi kamu mau tinggal di mana nak?" ucap ibu Cherly


"Itu urusan Cherly, lepas" bentak Cherly menepis keras tangan ibu nya


"Cherly, ibu masih butuh kamu, kalau kamu pergi ibu minta uang dari siapa" teriak ibu Yohanes


Cherly menghentikan langkah nya lalu menatap ibu nya


"Minta Sama suami kamu" ketus Cherly lalu meninggalkan ibu nya


"Cherly jika kau berani keluar dari pintu itu kau jangan pernah menginjakkan kaki kamu ke sini lagi" teriak ibu Yohanes


Cherly masa bodo Ia terus melangkah keluar dari itu ia muak semuanya, semenjak Alle angkat kaki dari rumah itu Cherly selalu di minta uang ibu nya


"Semua gara-gara kak Alle, kalau saja ia tidak pergi dari negara ini pasti aku tidak akan kesusahan" gerutu Cherly


"Lihat sekarang aku harus pergi dari rumah itu, hah untung aku masih punya apartemen yang lumayan besar" gumam Cherly


Ia berhenti di pinggir jalan lau menyetop taksi mobil yang lewat, kemudian ia masuk ke dalam dan menyebut kan alamat apartemen nya


"Untung aku punya cowok kaya, kalau tidak pasti aku udah tidur di jalanan, ya walau hanya jadi selingkuhan nya, siapa suruh punya istri gak guna" lirih nya


Ya Cherly ia Sekarang menjadi seorang simpanan orang kaya, semua apa yang ia mau bisa dengan gampang pacar nya memberikan


Termasuk apartemen yang ia akan tempati sekarang, toh aku juga malas untuk bekerja, aku tidak mau kalau tubuh ku menjadi kusam karena bekerja batin nya


Mobil taksi itu sampai di apartemen Cherly, Cherly pun turun ia menggeret koper nya lalu masuk ke dalam nya


Beda dengan keluarga Yohanes, keluarga paman Alex juga semakin gencar mencari jejak keberadaan Alex dan asisten Ben


"Sial kemana mereka sebenarnya, jejak wanita itu pun aku tidak bisa menemukan nya" umpat paman Gilbert


"Awas saja kalau aku bisa menemukan kalian akan ku buat kalian bertekuk lutut" ucap paman nya


"Hahahahaha"

__ADS_1


Tawa nyaring dalam ruangan itu siapa pun yang mendengar nya dari luar ruangan pasti berpikir nya itu orang gila yang ketawa


Karena ketawa nya keras dan seperti tak ada beban sama sekali di hidup nya apalagi paman Gilbert sering mengamuk lengkap sudah


__ADS_2