
Mereka menunggu jawaban Alle dengan antusias seolah itu adalah keputusan kepala sekolah lulus tidak lulus nya seorang murid
"Aku. . . " ucap Alle ragu-ragu tenggorokan nya seperti mengganjal tak dapat meneruskan ucapannya
"Sayang maukah kau memaaf kan ku, aku janji tidak akan mengulangi nya lagi, tak akan mengkhianati for mu lagi" ucap Alex menatap Alle dengan wajah mohon nya
"Nona tolong bicara lah kami sudah menunggu nya dengan tidak sabar" celetuk salah seorang wartawan saat suasana hening melanda
Landa beberapa dari mereka menoleh menatap nya tapi aja juga yang masih menatap sepasang pasangan di depan
"Ah kalau aku jadi Alle aku gak mau maafkan dia enak saja dia mengatakan kalau dia khilaf mana ada khilaf sampai bertahun-tahun " ucap dira dengan Amarah menggebu gebu tangan menggenggam erat sambil meninju pelan di telapak tangan yang satu nya
Asisten Ben yang si samping nya bergidik ngeri lantas ia berkata
"Semua orang berhak mengakui kesalahan nya, berhak memaafkan atau tidak memaafkan, tapi sebagai orang yang ingin hidup tenang lebih baik memaafkan agar hati kita lebih damai menjalan kan kehidupan selanjutnya " ucap asisten Ben
Dira menoleh ke asisten Ben
"Cih, itu tuan mu maka nya kamu belain dia" decih Dira tak suka
"Aku tak membela siapa pun karena tuan juga melakukan kesalahan yang amat sangat fatal, pernikahan bukan sesuatu yang main-main " ucap asisten Ben memandang sepasang kekasih di depan nya
"Kau menyalahkan tuan mu akan aku adukan kau" ucap dira menunjuk asisten Ben
"Hah, terserah nona" ucap asisten Ben
Ia menghela nafas panjang lebih baik ia diam daripada meladeni wanita yang ada di samping nya tak ada habis nya jika di ladeni
__ADS_1
"Alex bangun lah apa kau tidak capek berlutut di samping ku" ucap Alle memegang kedua lengan Alex
"Aku tidak akan berdiri jika kau belum menjawab pertanyaan ku sayang" ucap Alex
"Berilah dia kesempatan nak, papa yakin jika ia sudah berubah" ucap seorang pria paruh baya tiba-tiba masuk ke dalam ruangan
Ia berjalan menggandeng istri nya dan seorang wanita muda di kanan dan kiri nya
Mereka sontak menoleh ke arah sumber suara, suara pintu terbuka pun tak ada yang menyadari nya karena mereka menanti jawaban Alle
"Semua orang pasti melakukan kesalahan, berhak merubah apa yang buruk dari dalam diri kita sendiri" imbuh nya ia berjalan menghampiri mereka
Kegiatan itu tak luput dari sorotan kamera, entah itu kamera ponsel maupun kamera lensa
Alex dan Alle menatap mereka dengan wajah terkejut asisten Ben juga ikut terkejut bahkan Dira sekarang merasa serasa mau pingsan
Ia terlalu banyak menelan informasi mendadak dalam waktu sebentar
"Jangan pingsan dulu nona, nanti anda melewat kan informasi yang penting" sahut asisten Ben
"Ah ya kau benar" ucap dira mengangguk setuju
"Tuan anda ada hubungan apa dengan istri tuan Alex, kenapa anda memanggil diri sendiri dengan sebutan pa"
"Iya bahkan anda itu seorang yang terkenal se-Asia ini"
"Bukan kah anak anda cuma satu?, lalu siapa dia?"
__ADS_1
Begitu lah pertanyaan para awak media mengenai apa yang mereka dengar tadi
"Sebelum perkenalkan saya Simon Hutapea, ini istri saya seena Hutapea dan ini anak saya Arabella Hutapea anak kedua" ucap tuan Simon
Ya ia adalah tuan Simon Hutapea atau tuan Hutapea orang yang membantu Alex saat keadaan kritis kemarin
"Sebenarnya saya mempunyai anak sulung ia terpisah dengan saya ketika ia masih masih kecil belum mengenal apapun, kami terpisah karena ada nya sebuah tipu muslihat seseorang yang ingin menghancurkan kebagian keluarga kami" ucap tuan Hutapea menggenggam erat kedua tangannya
"Kami di tipu mengatakan bayi kami kecelakaan, dan meninggalkan di tempat sewaktu pengasuh kami dan orang itu ingin menjenguk istri saya yang saat itu lagi sakit" ucap tuan Hutapea
"Karena setelah istri saya melahirkan anak sulung saya ia sakit cukup serius sehingga ia harus di rawat di rumah sakit agar bisa mendapatkan perawatan yang intensif, saat itu dokter mengatakan kalau istri saya harus mendapatkan semangat untuk melakukan pengobatan, semangat dari orang-orang terdekat terutama orang yang membuat nya mendapatkan penuh semangat. oleh sebab itu lah saya mengijinkan nya membawa anak saya dan pengasuh dari rumah ke rumah sakit" ucap tuan Hutapea panjang lebar
Mereka masih mendengar kan cerita tuan Hutapea tapi tidak dengan sang istri ia menangis tersedu sedu mengingat kejadian itu
Ara yang di samping nya pun mengelus punggung ibu nya menenangkan
"Saya mengijinkan nya karena sebelumnya ia meminta izin pada saya ingin menjenguk istri saya dan membawa anak saya, toh saya pikir mungkin dengan adanya anak saya di sisi istri saya walau sejenak saja bisa membangkitkan semangat nya kembali" ucap tuan Hutapea
"Tapi naas, di tengah perjalanan mobil yang di tumpangi mereka di tabrak oleh truk yang di mana sopir truk itu dalam keadaan mabuk. sopir saya, pengasuh dan anak saya meninggal di tempat tapi orang itu masih selamat karena saat kecelakaan itu mobil yang di tumpangi mereka sedang berhenti di depan minimarket menunggu orang itu membeli sesuatu dari minimarket tersebut" ucap tuan Hutapea ia menghela nafas sebelum melanjutkan kembali cerita nya
"Karena saya tak curiga apapun karena bukti cctv mengatakan seperti itu saya ikhlas menerima nya mungkin takdir anak saya seperti itu" ucap tuan Hutapea
"Tapi,. tapi siapa sangka beberapa waktu belakangan ini saya mendapat kabar jika bayi yang saya kubur itu bukan anak saya" ucap tuan Hutapea sedikit menetes kan air mata
"Awal nya saya pikir itu cuma omong kosong saja tapi hati saya mengatakan hal lain, oleh karena itu saya melakukan penyelidikan dan memang hasil nya benar anak itu bukan anak saya" ucap tuan Hutapea
"Saya marah saat itu, marah karena ternyata kecelakaan itu telah di rencanakan oleh nya, dan bayi itu juga di tukar dengan bayi orang lain, sedangkan bayi saya sendiri di buang jauh dari tangan ke tangan hingga ia besar bukan di negara asl nya" ucap tuan Hutapea menatap Alle
__ADS_1
"Saya terus mencari keberadaan anak saya walau sempat saya mengalami kesulitan tapi saya tidak menyerah dan akhirnya usaha saya membuah kan hasil" ucap tuan Hutapea tersenyum tipis menatap Alle
Alle yang di tatap tanpa sadar menetes kan air mata entah itu karena cerita tuan Hutapea atau karena hal lain