
Di ruang keluarga kini tersisa tiga orang yang duduk diam bahkan bicara pun tidak hanya saling memandang dan menunduk
"Ehem, apa kabar mu selama ini nak?" ucap tuan Hutapea memecah keheningan
Satu dua tiga
Baru tiga detik Alle batu menjawab nya
"Baik tuan" ucap Alle melihat kedua tangannya yang saling meremas satu sama lain
"Boleh kah saya menggenggam tangan mu?" pinta nyonya Hutapea dengan wajah berharap
Alle diam ia melirik nyonya Hutapea dengan wajah sendu dan penuh harap ia menjadi tidak tega hingga ia tanpa sadar mengangguk kepalanya secara pelan
Nyonya Hutapea yang melihat Alle mengangguk tapi Masih menunduk melihat ke arah suami nya
Tuan Hutapea tersenyum tipis lalu mengangguk, dengan wajah penuh kebahagiaan nyonya Hutapea menghampiri Alle dan menggenggam tangan Alle
Walau menggenggam tangan saja nyonya Hutapea sudah bahagia, ingin sekali ia memeluk erat putri sulung nya tapi ia tahan
Karena ia tak mau Alle merasa risih dengan nya oleh sebab itu ia menggenggam tangan nya lebih dulu sebelum pelan-pelan agar Alle mau menerima nya
"Kau cantik sekali" puji nyonya Hutapea melihat wajah Alle tangan nya masih menggenggam tangan Alle
Lagi-lagi Alle mengangguk padahal ketika ia menghadapi orang yang tak ia suka akan memberontak tapi ini ia merasa tidak berdaya entah apa yang ia rasakan sekarang
"Kau sudah makan?" tanya nyonya Hutapea padahal ia sendiri belum makan karena sering memikirkan Alle
"Su sudah nyonya" ucap Alle mengangguk
"Hah, bisakah kau memanggilku dengan sebutan Mommy " lirih nyonya Hutapea
Alle diam padahal ia mendengar nya
"Tak apa-apa pelan-pelan saja, tapi yang kau tau kita tidak akan mencelakakan kamu, kami semua, mommy, daddy, dan adik mu Ara sayang menyayangi mu" tulus nyonya Hutapea
Deg
Jantung Alle berdetak kencang mendengar ucapan nyonya Hutapea ia melihat wajah nyonya Hutapea sejenak lalu ia kembali mengalihkan pandangan nya ke bawah
"Apa kau takut dengan ku?* ucap nyonya Hutapea dengan lembut ia mengelus tangan Alle yang masih di genggam nya
Lagi-lagi Alle tak bersuara ia hanya mengangguk saja, karena jujur ada sedikit rasa takut yang di tinggalkan oleh keluarga Yohanes
"Apa mereka melakukan hal buruk terhadap mu, sehingga kau takut dengan ku?" ucap nyonya Hutapea
Yang ia maksud takut akan sosok ibu yang melahirkan nya
__ADS_1
"I ya" ucap Alle pelan
"Maafkan aku jika kamu tersiksa karena mereka" ucap nyonya Hutapea menitikkan air mata
"Maafkan aku ini semua salah ku" ucap nya lagi sambil mengusap air mata nya yang semakin deras mengalir
"Maafkan aku, maafkan aku" ucap nyonya Hutapea semakin terisak
Alle yang mendengar isakan nyonya Hutapea merasa sakit hati tanpa sadar ia meremas pelan tangan nyonya Hutapea yang menggenggam nya
"Shh" Ringis nyonya Hutapea ketika merasakan tangan nya sedikit sakit karena remasan tangan Alle
"Mommy kau tidak apa-apa?* tanya Ara yang tiba-tiba muncul di belakang mereka sambil membawa nampan
"Kau kenapa sayang" tanya tuan Hutapea khawatir menghampiri istri nya
"Mommy ada yang sakit " tanya Ara ketika selesai meletakkan nampan di atas meja
"Mommy tidak apa-apa" ucap nyonya Hutapea terkekeh kecil dengan mata sembab nya
"Beneran mommy tidak apa-apa?" ucap Ara memastikan
"Kita ke rumah sakit kalau kamu tidak nyaman" ucap tuan Hutapea
Nyonya Hutapea malah tersenyum menatap mereka
"Tidak apa, tidak sakit hanya kaget saja" ucap nyonya Hutapea dengan lembut tersenyum menatap Alle
Ara dan tua Hutapea saling menatap lalu bernapas lega, ia kira kesehatan nyonya Hutapea kembali turun jadi ia khawatir akan hal itu
"Kau buat apa nak?" tanya tuan Hutapea menatap Dira lalu beralih ke arah Ara
"Kita hanya buat jus om, silhakan di minum semoga suka" ujar Dira tersenyum
"Haha terimakasih banyak ya, panggil daddy aja anggap om seperti papa mu ya" ucap tuan Hutapea tersenyum mengangguk
"Panggil juga Tante Mommy ya sayang ya" ucap nyonya Hutapea tersenyum mengangguk
Dira menatap mereka bergantian dengan hati senang ia mengangguk pasti
(Aku jadi kangen mama papa) batin Dira
Suasana kembali hening mereka larut dalam pikiran hingga suara tuan Hutapea memecah keheningan
"Aduh, manis sekali" ucap nya meletakkan gelas berisi jus mangga di atas meja
"Masak manis Daddy, tadi ara gak kasih gula kok" ujar Ara melihat Daddy nya bingung
__ADS_1
"Coba kau icip, aduh nanti gula Daddy naik kalau kemanisan" ujar nya menunjuk jus mangga itu
"Masak sih, aku gak kasih gula kok iya kan kak, Kaka tadi lihat kan" ujar Ara melihat Dira
Dira mengangguk membetulkan
"Mungkin ketuker punya Alle" celetuk Dira menunjuk jus di depan Alle
Mereka semua menoleh ke dua jus mangga itu lalu saling mengangguk setuju, karena Ara masih penasaran ia mencoba punya Daddy dan Alle
"Iya ketuker maaf ya kak, Daddy jus kalian ketuker" ucap Ara tersenyum lebar ia berdiri lalu mengambil dua gelas jus itu meletakkan di atas nampan
"Gak apa ketuker jus nya yang penting bukan roh nya nanti Alle jadi laki-laki dong" canda Dira mempraktekkan gaya laki-laki
"Hahaha" tawa Ara menatap Dira
"Terus Daddy jadi, Hay cin yuk kita arisan" ucap tuan Hutapea seperti perempuan kW sambil menekuk tangan nya khas banci
"Hahaha" Dira dan Ara tertawa ketawa keras Daddy dan mommy Alle terkekeh geli
Sedangkan Alle ia tersenyum tipis mendengar nya suasana di dalam sana sedikit cair ketika mendengar candaan Dira dan sang Daddy
(Tuhan, apakah mereka benar-benar menyayangi ku) batin Alle menatap keluarga kandung nya
Karena jujur saja ia masih membentengi hati nya dengan tembok tinggi
Di dunia lain bukan dunia ghoib lebih tepat dunia bagian sana
Seseorang yang sedang duduk di depan tv lebar nya sambil memakan cemilan ia memandangi tv dengan muka serius
Ia menonton dengan teliti hingga adegan berikut nya ia kaget bukan main
Cemilan yang tadi ia pangku kini tumpah bertebaran di atas karpet depan sofa
"Apa" pekik nya mata nya membulat sempurna
"Tidak mungkin" ucap nya tak percaya
"Tidak mungkin, ini semua pasti mustahil" ujar nya menggeleng kepala nya tak percaya
"Kenapa dia selalu beruntung hah" teriak nya dengan kencang
"Tunggu saja aku akan membalas mu, aku tak terima itu semua kamu harus menderita " ucap nya
"Haha, tunggu saja" kekeh nya seperti orang gila
"Aku menderita kamu juga harus menderita lebih dari ku" ucap nya matanya menatap tajam layar tv sambil memikirkan suatu cara yang membuat nya tersenyum smirk
__ADS_1