
"Kita pikirkan nanti yang penting bagaimana kita keluar dari sini, aku tak mau terus-terusan di sini, terjebak tidak bisa ngapa-ngapain" keluh nya memegang dagu nya
"Soal itu sudah saya siap kan tuan" ucap asisten Ben melirik koper di tangan nya
Alex mengangkat alis nya sebelah, juga menatap koper si samping asisten ben, koper yang sangat besar
Karena Alex diam saja dan memandang saja asisten Ben berdecak lalu membuka koper nya
"Apa maksudnya ini?" tanya Alex ketika melihat isi koper itu
"Ini untuk penyamaran anda tuan" ucap asisten Ben menunjuk isi koper itu yang di mana isi nya adalah kain kasar obat merah dan juga Pakaian orang biasa
"Maksud mu kau menyuruh ku memakai pakaian ini" ucap Alex mengangkat pakaian itu dengan dua jari nya
"Iya tuan dan juga" ucap asisten Ben melirik ke arah kain kasa
"Jangan bilang kau mau membalut wajah ku ini" tebak Alex
"Iya tuan" ucap asisten Ben mengangguk
"Aku tidak mau" tolak Alex menggeleng keras
"Tapi ini jalan satu-satunya tuan" ucap asisten Ben
"Pokoknya aku tidak mau, pikir kan cara lain" ucap Alex berseri keras menolak ide asisten Ben
Dan akhirnya
Setelah memperdebatkan ide asisten ben, Alex yang selalu menolak asisten Ben yang juga gigih merayu akhirnya mendapatkan sebuah kesepakatan
Dan di sini lah mereka berdua berjalan, tidak lebih tepat nya Asisten ben saja yang berjalan karena Alex duduk di kursi roda dan di dorong oleh asisten Ben
Asisten Ben lengkap dengan penyamaran nya tadi tapi yang berbeda ia mendorong kursi roda bukan koper
Kursi roda yang tadi di antar kan oleh orang suruhan nya
Sedangkan Alex ia duduk di atas kursi roda dengan wajah, kaki tangan semua penuh perban
Awal nya Alex ingin penyamaran seperti asisten Ben tapi asisten Ben berkata
"Jangan tuan, itu terlalu mencolok mereka bisa curiga" elak nya
"Mereka pasti berpikir jika anda akan menyamar seperti saya saat ini" imbuh nya
Mau tidak mau Alex mengiyakan ide asisten Ben ia juga tidak mau ketangkap basah oleh awak media
Dan ini lah asisten Ben yang sekuat tenaga menahan tawa dan Alex yang cemberut menahan kesal
(Hahaha kapan lagi mengerjai tuan Alex, siapa suruh tiap hari memberikan pekerjaan yang banyak dia enak-enakan memadu kasih) batin asisten Ben
__ADS_1
(Kenapa aku mau saja di tipu asisten bodoh ini) batin Alex
Asisten Ben memang sudah merencanakan semua dari rumah tentang penyamaran Alex bisa di bilang mengambil kesempatan dalam kesempitan
Ya tak apa lah hitung-hitung hiburan bagi asisten Ben yang sibuk dapat tugas dari tuan nya
Mereka akhirnya sampai di samping mobil standar, mobil yang tidaklah mewah mobil yang di pakai karyawan biasa
Lagi-lagi Alex mengerutkan kening nya menatap tajam asisten Ben meminta penjelasan
"Agar mereka tidak curiga tuan" bisik asisten Ben sambil membantu Alex masuk ke dalam di bantu oleh sang supir
Dan lagi-lagi Alex mendengus kesal, gara-gara berita sialan ia jadi bahan candaan asisten nya batin nya
Setelah Alex duduk diam, asisten masuk ke samping kemudi menutup pintu lalu mobil itu melaju meninggalkan apartemen Alex dengan supir yang sudah duduk diam menanti mereka
Para awak media pun tak curiga terhadap mereka malah menatap prihatin pada Alex yang duduk di atas kursi roda wajah tangan hingga kaki nya hang terbungkus kain kasa
"Pasti sangat sakit batin mereka ketika melihat Alex"
Selama perjalan Alex terus mengumpat ia sudah tidak tahan dengan kain yang membalut wajah nya apalagi baju yang ia pakai sekarang ini
"Hah aku tidak tahan" kesal Alex tangan memegang kain kasa tersebut
"Tunggu tuan jangan anda buka, takut nya ada yang mengenali anda dan keberadaan anda di ketahui awak media" cegah asisten Ben
"Hah, awas saja kalau aku ketemu dengan pelaku nya" geram Alex
"Cari sampai dapat orang yang menyebarkan berita itu, dan juga bungkam awak media" ucap Alex menatap tajam ke arah depan
"Baik tuan" ucap asisten Ben mengangguk ia melanjutkan meninjau saham saat ini
Alex menatap jalanan kota ia memikirkan Alle saat ini, apakah Alle baik baik saja nanti kalau ia sudah sampai di tujuan ia akan menghubungi Alle
Mobil Alex terus melaju hingga sampai lah mereka di sebuah rumah cukup besar rumah yang terdiri dari tiga lantai
Mobil Alex masuk setelah di buka kan gerbang oleh satpam yang menjaga di sana
"Mari saya bantu tuan" ujar asisten Ben yang sudah membukakan pintu untuk Alex
"Tidak usah" ketus Alex ia keluar sambil melepaskan semua yang menempel di wajah tangan dan kaki nya
Ia berjalan dengan langkah cepat masuk ke dalam, asisten Ben pun mengikuti nya hingga mereka sampai di sebuah ruang kerja
"Lakukan meeting zoom satu jam lagi" ucap Alex
"Baik tuan" ucap asisten Ben mengangguk
"Kau lanjut kan pekerjaan mu" ucap Alex
__ADS_1
Asisten Ben mengangguk lalu pamit undur diri, sepeninggal nya asisten Ben Alex menghubungi Alle
"Hallo" ucap seberang sana
"Kau lagi apa" tanya Alex
"Hem lagi kerja ada apa?* tanya Alle
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Alex lagi tanpa memperdulikan pertanyaan Alle
"Ya aku baik-baik saja" ucap Alle mengangguk
"Apa di sana semua nya baik-baik saja " ucap Alex
"Apa ada kejadian yang membuat mu tidak nyaman" imbuh nya
"Tidak ada, semua nya baik-baik saja, memang nya ada apa?" tanya Alle
"Tidak ada apa-apa kau lanjut lah Bekerja" ucap alex
"Baiklah" ucap Alle
Alex menutup telpon nya ia memikirkan satu hal
"Berarti berita itu tidak sampai di indo" gumam Alex
Tak lama asisten Ben masuk ke dalam sambil membawa tablet di tangan nya
"Tuan" ucap Asisten Ben memasang wajah bingung
"Ada apa?" tanya Alex
"Semua berita tentang anda sudah di bungkam oleh seseorang tuan, entah itu siapa saya tidak tau, berita itu hilang sebelum saya membungkam para media" ucap asisten Ben
Alex mengeryit heran
"Apa kau yakin?" tanya Alex
"Saya yakin tuan, bahkan semua berita itu hilang semua tanpa tersisa" ucap asisten Ben
Alex diam
"Cari tau siapa yang sudah membungkam media itu" ucap Alex
"Baik tuan, tapi mencegah hal tidak baik, lebih baik anda tinggal di sini sementara waktu" ucap asisten Ben
"Ya" ucap Alex mengangguk paham
Ia memang berencana tinggal di sini, di rumah nya rumah yang tak banyak orang tau hanya ia dan asisten Ben saja
__ADS_1