Suamiku Pinky Boy

Suamiku Pinky Boy
SPB. Bab 10


__ADS_3

Pagi hari di mansion terasa jauh berbeda jika dibandingkan dengan keadaan di apartemen. Jika pagi hari di apartemen hanya terlihat orang-orang yang berlalu lalang. Di mansion justru terlihat sunyi seperti kuburan.


Rosita keluar kamar saat jam sudah menunjukkan pukul tujuh. Wanita itu ingin bertemu dengan pekerja di sana dan bertanya bagaimana caranya keluar agar bisa meninggalkan mansion tersebut. Sayangnya, ketika Rosita berada di depan kamar dia tidak melihat satu manusia pun di sana. Tadinya Rosita berpikir akan banyak menemukan orang yang sedang beres-beres. Secara mension itu sangat luas, sudah pasti yang kerja banyak dan bisa ditemui di setiap sudut ruangan.


"Kemana semua orang?" Rosita memperhatikan lantai yang kini ia pijak. Sudah bersih dan mengkilap. Itu menandakan kalau lantai dan seluruh ruangan yang ada di dekat kamarnya sudah dibersihkan. "Jam berapa mereka membersihkan ruangan ini?" umpat Rosita di dalam hati. Ia memandang ke depan sambil mengingat-ingat. Ke arah mana dia pergi tadi malam hingga bisa bertemu dengan jajaran pintu kamar.


"Ke tengah atau kanan ya?" tanyanya sendiri. Rosita terus saja melangkah sambil menerka-nerka lorong mana yang ia lewati tadi malam.


Suara seseorang bicara membuat Rosita menghentikan langkah kakinya. Wanita itu bersembunyi di balik lemari hias yang ada di dekatnya.


"Jangan lupa untuk antarkan sarapan pagi ke ruangan Bos Walter. Sudah waktunya Bos Walter minum obat," ujar seorang pria kepada pelayan di sampingnya.


"Baik, Tuan."

__ADS_1


Dua pria itu berpisah dan melalui lorong yang berbeda. Rosita memandang ke arah lorong yang dilewati pelayan pria sebelum mengikutinya dari belakang. Ia berharap bisa bertemu dengan Walter dan meminta kepada pria itu agar diizinkan pulang pagi ini.


Pelayan pria itu menuju ke dapur. Dia menyiapkan makanan dan minuman untuk sarapan Walter. Seorang dokter memberikan obat yang harus di konsumsi Walter lagi ini. Rosita berdiri dengan alis saling bertaut. Seharusnya di senang karena orang-orang yang ia cari sejak tadi ternyata berkumpul di dapur tersebut. Namun, entah kenapa dia tidak lagi tertarik untuk menemui pekerja tersebut. Rosita ingin tahu dimana Walter berada.


"Aku harus mengikuti pria itu. Aku tidak boleh sampai kehilangan jejak," gumam Rosita di dalam hati. Ia berlari mengejar pelayan pria tersebut. Langkahnya terhenti ketika pelayan itu masuk ke lift. Rosita mengumpat kesal karena di depan lift ada dua penjaga berbadan tegap. Sudah pasti dia tidak diizinkan masuk ke lift.


"Sekarang aku harus bagaimana?" tanya Rosita kepada dirinya sendiri.


"Siapa anda?"


"Saya ...."


Seorang pria berdiri dan menatap Rosita dengan tatapan tajam. "Penyusup?" tuduhnya.

__ADS_1


Rosita cepat-cepat menggeleng. "Tidak. Aku bukan penyusup. Aku ke sini karena di bawah oleh Tuan Walter," sahut Rosita cepat. Berharap pria di depannya percaya dengan apa yang dia katakan.


"Bos Walter?" Dia cepat-cepat menurunkan senjata apinya. Jika memang benar wanita di depannya di bawah ke mansion oleh Walter, maka tidak ada yang boleh mengusiknya apa lagi sampai menakutinya seperti ini.


"Apa saya boleh bertemu dengan Tuan Walter? Ada yang ingin saya bicarakan," pinta Rosita.


"Tidak sembarang orang bisa bertemu Bos Walter. Anda harus meminta izin dahulu jika ingin bertemu dengannya," sahut pria itu apa adanya.


"Meminta izin? Lalu, bagaimana caranya aku bisa minta izin jika aku tidak diperbolehkan bertemu dengannya?" protesnya mulai kesal.


Pria itu bersikap sangat tenang hingga membuat Rosita mulai kesal. Ia memandang Rosita dengan tatapan yang penuh arti hingga akhirnya tanpa di sadari, Rosita memilih menunduk dan merasa bersalah karena sudah membentak pria tersebut. Padahal, memang sebenarnya dia lagi kesal. Rosita ingin cepat keluar dari mansion itu. Apapun caranya!


"Anda tunggu di sini, Nona." Pria itu mencari tempat yang layak untuk Rosita menunggu. Sebuah kursi kayu yang letaknya tidak jauh dari posisi mereka berdiri, menjadi pilihannya untuk meletakkan Rosita di sana.

__ADS_1


"Baiklah," sahut Rosita sebelum pria itu menunjuk kursi yang ia pilih. Rosita justru lebih tertarik untuk duduk di sofa yang ada di dekat kolam renang. Pria tadi hanya menggeleng saja sebelum masuk ke dalam lift.


__ADS_2