Suamiku Pinky Boy

Suamiku Pinky Boy
SPB. Bab 52


__ADS_3

Rosita baru saja bangun dari tidurnya. Wanita itu meras jauh lebih segar pagi ini. Dia tersenyum manis ketika membayangkan lamaran Walter tari malam. Wanita itu masih tidak menyangka kalau sebentar lagi dia dan Walter akan menikah. Padahal pertemuan mereka bisa terbilang sangat singkat.


"Kak Walter," gumam Rosita di dalam hati. Mengingat sebentar lagi dia dan Walter akan menikah, tiba-tiba Rosita kembali ingat dengan kakak kandungnya. Ia ingin di hari bahagianya nanti kakaknya ada di sana. Menyaksikan hari bahagianya.


Bahkan jika memang hidup kakaknya yang sekarang sulit, Rosita memiliki niat untuk mengajak kakaknya tinggal di mansion ini bersamanya. Mansion ini sangatlah besar. Ada banyak kamar kosong juga. Sudah pasti Fabio tidak akan keberatan. Namun, Rosita tidak memiliki petunjuk apapun mengenai kakak kandungnya. Dia tidak tahu dimana wanita itu tinggal bahkan nomor teleponnya saja tidak ada. Hanya foto yang dimiliki Rosita. Itu juga fotonya tertinggal di apartemen.


"Hari ini aku harus ke apartemen. Aku ingin mengambil foto Kakak. Aku ingin mencarinya. Semoga saja Kak Walter bisa membantuku," gumam Rosita di dalam hati. Dia turun dari tempat tidur dan melangkah menuju ke balkon. Melihat langit biru membuatnya tertarik untuk menikmati pemandangan di luar sana.


Rosita membentangkan tangannya dengan mata terpejam sebelum memandang ke bawah. Alisnya saling bertaut melihat kolam renang yang ada di bawah kini dipenuhi dengan bunga. Di tengahnya tertulis kalimat yang begitu romantis.


"I love you," eja Rosita. Dia melipat kedua tangannya. "Tuan Fabio memang romantis. ini pasti untuk Kak Lara."


Rosita memutuskan untuk segera mandi. Dia juga ingin sarapan karena perutnya mulai terasa lapar.


Tidak lama kemudian, Rosita sudah selesai mandi. Pagi ini dia memilih gaun berwarna cokelat muda. Rambutnya yang baru saja kering sengaja di gerai untuk membuatnya terlihat lebih segar. Sebenarnya Rosita ingin sekali memakai gaun warni pink.


Tetapi, dia sekarang harus membuat orang nyaman di dekatnya. Rosita sebentar lagi akan menjadi bagian dari mansion ini. Orang yang penting di hati Walter. Dia berpikir kalau gak semua orang menyukai warna pink. Bahkan sebagian orang justru berpikir kalau orang yang memakai warna pink terbilang sok gaya. Kekanak-kanakan.


"Aku harus segera turun dan menemui Kak Walter. Aku ingin mengajak dia berangkat ke apartemen." Rosita pergi meninggalkan kamarnya.


Masih sampai depan kamar, wanita itu di buat kaget oleh Walter. Pria itu tersenyum melihat wajah cantik Rosita pagi ini.


"Selamat pagi, Pibi. Apa kau mau sarapan pagi?"


Rosita mengangguk dengan sedikit ragu. Ia memandang ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada orang di sana. "Kak Walter sudah sarapan?"


"Aku menunggumu. Ikut denganku," ajak Walter. Pria itu memegang tangan Rosita dan membawanya menuju ke lift.

__ADS_1


"Kita mau ke mana kak?"


"Sarapan. Kita akan sarapan di bawah," jawab Walter. Dia menekan tombol lift sebelum memandang Rosita lagi. Sebenarnya dia agak kurang suka melihat Rosita memakai baju warna cokelat muda. Namun, dia tidak mau membuat tunangannya tersinggung.


Rosita tertegun melihat hamparan mawar merah yang terbentang seperti jalan menuju ke arah kolam renang. "Apa ini? Kenapa ada banyak bunga di lantai bawah," gumam Rosita di dalam hati.


"Pakai kain ini." Walter menutup mata Rosita dengan kain warna hitam.


"Kenapa harus tutup mata?" protes Rosita.


"Ada sebuah kejutan yang sudah aku persiapkan," jawab Walter. Dia memegang tangan Rosita dan membimbingnya melangkah ke depan. Pria itu terlihat sangat percaya diri kalau kejutan yang ia persiapkan pasti bisa membuat Rosita bahagia.


Walter membawa Rosita ke lokasi yang ada di dekat kolam renang. Ternyata di sana sudah ada meja yang di desain seromantis mungkin untuk mereka sarapan pagi. Hamparan kolam renang penuh bunga melengkapi keindahan di sana. Belum lagi ada beberapa pelayan yang ditugaskan untuk memegang beberapa hadiah yang sudah dipersiapkan Walter.


"Kita sudah sampai." Walter membuka kain penutup mata. "Sekarang buka matamu."


Rosita membuka matanya secara perlahan. Pemandangan yang pertama kali dia lihat adalah kolam renang yang dia lihat dari atas tadi. Alisnya saling bertaut melihat kolam tersebut.


"Apa tadi kau sudah membaca tulisan yang ada di kolam renang ini?" tanya Walter.


Rosita mengangguk.


"Lalu, bagaimana perasaanmu?"


Rosita mengeryitkan dahinya. "Biasa saja," jawabnya. Jelas saja dia biasa saja. Toh, di dalam pikiran Rosita itu kejutan untuk Lara.


Walter terlihat kecewa. "Ayo kita sarapan."

__ADS_1


Rosita di bawa ke meja yang sudah dipersiapkan. Rosita kali ini terlihat kagum. Ia tersenyum bahagia melihat kejutan yang dipersiapkan Walter.


"Ini sangat manis. Kak Walter bisa romantis juga ternyata," puji Rosita.


Walter menaikan satu alisnya. "Setidaknya ada kejutan yang membuatnya bahagia."


Pelayan mendekati Rosita dan memberikan hadiah yang sudah dipersiapkan. Seperti boneka, cokelat dan bunga. Rosita tidak hentinya tersenyum. sebelum sarapan, dia terlihat mencari Lara.


"Dimana Kak Lara?"


"Untuk apa kau mencari Nyonya Lara?"


"Apa nyonya Lara sudah melihat kolam in?" tanya Rosita dengan polosnya.


"Belum. Dia tidak tahu," jawab Walter apa adanya.


"Sayang sekali. Padahal kejutannya sangat indah. Tuan Fabio pasti kecewa," ucap Rosita dengan nada yang pelan.


"Tuan Fabio?" Walter mengeryitkan dahinya.


"Ya, bukankah Tuan Fabio yang mempersiapkan kejutan di kolam renang untuk Kak Lara?" jawab Rosita. "Dia pasti kecil karena Kak Lara belum melihatnya."


Kali ini Walter tidak bisa menahan tawanya. Rasa kecewa yang sempat tersimpan di dalam hati kini hilang sudah. Ternyata dia hanya salah paham saja. Rosita tidak tahu kalau kejutan di kolam renang itu juga untuknya.


"Rosita, aku menyiapkan kolam ini untukmu," ucap Walter dengan sungguh-sungguh.


Rosita melebarkan kedua matanya. "Semua ini untukku?"

__ADS_1


Walter mengangguk pelan. "Ya. Ini semua untukmu."


Rosita yang terlalu bahagia segera beranjak dari kursi. Tanpa sadar dia memeluk Walter dengan begitu erat bahkan mencium pipi pria itu. "Terima kasih sayangku."


__ADS_2