
Rosita lagi-lagi tidak langsung menuju ke lokasi mobil terparkir. Melihat dokter Alfred membuat Rosita tertarik untuk menanyakan sesuatu. Wanita itu menuruni tangga dengan setengah berlari agar bisa mencegah Dokter Alfred masuk ke dalam mobil.
"Dok, berhentilah!" teriak Rosita. "Ada yang ingin saya katakan!"
Dokter Alfred berdiri di samping mobil dan memandang Rosita. Alisnya saling bertaut melihat Rosita kini berlari menuju ke arahnya. "Ada yang bisa saya bantu, Nona?" Dokter Alfred menutup lagi pintu mobil dan berdiri di samping mobil. Ia melirik jam di pergelangan tangan sebelum memandang wajah Rosita yang kini sudah berdiri di hadapannya dengan napas tersengal.
"Senang bisa bertemu dengan anda, Dok." Rosita tersenyum sambil mengatur napasnya. "Dok, anda bisa membantu saya?"
"Apa yang bisa saya bantu, Nona Rosita ...." Nada Dokter Alfred sangat lembut hingga membuat Rosita tersenyum lagi. Bahkan Rosita merasa sangat nyaman bicara dengan Dokter Alfred. Berbeda jauh ketika dia berbicara dengan Walter yang selalu dipenuhi dengan ketakutan dan rasa kesal.
"Tuan Walter, dia meminta saya untuk berbelanja ke mall. Tapi, saya tidak tahu dimana." Rosita menahan kalimatnya. "Maksud saya, kartu ini. Apa ini dimasukkan ke dalam tagihan saya? Ehm, bukan maksud saya potong gaji. Ya, potong gaji. Tadi Tuan Walter hanya memberikan kartu ini dan meminta saya untuk berbelanja. Dia tidak bilang berapa uang yang boleh dikeluarkan. Berapa banyak barang yang di beli. Saya bingung Dok."
Kali ini Alfred di buat tertawa oleh Rosita. Ternyata Rosita tidak seperti yang ia bayangkan. Mendekati Walter karena harta. Walaupun sebenarnya jika memang seperti itu tidak ada juga yang keberatan. Asalkan Walter bahagia.
Rosita wanita yang lugu. Tidak sembarang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Wanita yang sopan dan pastinya baik.
"Apa yang dikatakan Bos Walter, Nona? Anda sendiri yang bertemu dengannya tadi. Saya tidak ada di kamar itu," sahut Dokter Alfred.
"Dok, ini memang sangat memalukan. Saya juga tidak tahu kenapa saya berani mengatakan kalimat seperti ini kepada anda. Tetapi, saya ini belum pernah bekerja dengan orang seperti Tuan Walter. Saya tidak tahu bagaimana cara bekerjanya. Jika saya tahu kalau semua belanjaan saya akan di potongkan ke gaji saya, maka saya akan membeli barang yang sesuai dengan gaji saya."
"Lalu, jika anda tahu kalau kartu itu diberikan kepada anda secara cuma-cuma bagaimana?"
__ADS_1
"Tentu saja saya akan membeli semua barang mahal yang selama ini saya impikan," sahut Rosita keceplosan. Wanita itu cepat-cepat menutup mulutnya dengan wajah malu. "Dok, maksud saya tidak seperti itu." Wajah Rosita memerah malu.
Dokter Alfred semakin tidak bisa menahan tawanya. Pria itu tertawa geli melihat kepolosan Rosita. "Setahu saya Walter bukan pria pelit. Dia tidak akan menagih apapun nanti. Termasuk memotong gaji anda, Nona."
Padahal dia sudah tahu bagaimana sifat Walter. Hanya saja Dokter Alfred takut salah jawab. Bagaimana kalau ada trik yang sedang dimainkan Walter untuk bisa membuat Rosita selalu ada di sisinya?
"Tetapi, saya juga tidak bisa memastikan. Walter pria yang penuh dengan trik. Entah trik apa lagi yang ia mainkan saat ini. Kalau boleh saya tahu, Bos Walter meminta anda membeli apa? Apa dia meminta anda untuk membeli baju ganti selama anda tinggal di mansion ini?"
"Ya. Salah satunya baju. Ada beberapa barang yang harus saya beli." Rosita menghela napas berat. "Tuan Walter meminta saya untuk membeli semua barang berwarna pink."
"Apa?"
...***...
Rosita melajukan mobil bugatti Veyron sport itu dengan lambat. Harga diri mobil tersebut sebagai mobil balap hilanglah sudah. Ini pertama kalinya mobil balap tersebut melaju dengan kecepatan yang bisa di dahului peluh pengendara sepeda. Rosita hanya tidak mau sampai mobil tersebut rusak.
Di tambah lagi Rosita memang ingat-ingat lupa cara mengendarai mobil. Seingat Rosita, terakhir kali dia mengendarai mobil saat mobil kakak kandungnya terparkir di depan dan dengan lancang Rosita membawanya kabur. Itu juga sudah terjadi lima tahun yang lalu.
"Jaman sekarang sudah canggih! Aku bisa lihat You*ube cara melajukan mobil ini. Kalau tidak ada You*ube aku tidak akan mungkin bisa membawa mobil ini ke mall."
Rosita memandang ke kursi samping. Wanita itu tiba-tiba saja kepikiran akan sesuatu. "Apa ini mobil Tuan Walter? Kira-kira secantik apa ya wanita yang pernah duduk di situ? Apa dia wanita yang seksi?"
__ADS_1
Rosita menggeleng pelan. "Pasti wanita yang duduk di sana menjadi besar kepala. Bagaimana tidak? Ada cowok ganteng yang mengemudikan mobil dan memandangnya dengan penuh cinta. Kira-kira pacar Tuan Walter dimana ya? Kenapa dia tidak menjenguk Tuan Walter? Luka Tuan Walter sangat serius bahkan dia sempat kritis." Rosita benar-benar random siang itu. Entah apa saja yang ia ucapkan hingga dia sendiri merasa kalau dirinya sudah gila. Padahal baru sehari dia terkurung di mansion mewah tersebut.
Karena terlalu asyik ngoceh-ngoceh sendiri, Rosita hampir saja menabrak mobil yang berhenti di pinggir jalan. Dengan cepat dia mengerem mobil tersebut, namun karena panik justru Rosita menginjak gas mobil lebih dalam hingga membuat mobil mewah Walter terbentur mobil rusak yang terparkir di pinggir jalan tersebut.
Kepala Rosita terbentur hingga ia merasakan pusing. Seorang pria mengetuk kaca mobil dan membuat Rosita kaget. Ia segera membuka pintu dan berdiri di sana. Sambil mengusap dahinya, wanita itu berusaha menatap pria yang berdiri di hadapannya.
"Anda, tidak apa-apa Nona? Apa ada yang terluka? Maafkan saya karena tidak memberi tanda apapun di sini," ucap pria itu.
Rosita masih belum sadar kerusakan apa yang sudah ia perbuat. Ketika dia melangkah maju dan melihat mobil sport Walter rusak bagian depannya. Kedua matanya ingin sekali mengeluarkan air mata dan menangis sekeras-kerasnya. "Apa ini? Ini kenapa?"
"Nona, anda baik-baik saja?" Pria itu menepuk pundak Rosita. "Saya akan bertanggung jawab karena semua kesalahan supir saya."
"Tuan, tapi ini bukan mobil saya," lirih Rosita dengan suara khawatir.
Di detik yang sama, Dokter Alfred memberhentikan mobilnya di belakang mobil Rosita. Pria itu turun dengan ekspresi wajah yang begitu tegang. Jauh berbeda dari ekspresi wajahnya ketika bertemu dengan Rosita tadi.
Rosita memandang ke arah Dokter Alferd. Sebenarnya dia senang bisa bertemu lagi dengan dokter Alfred dalam keadaan seperti ini. Namun, ia juga takut dokter Alfred memberi tahu apa yang terjadi kepada Walter.
"Dok, saya-"
Dokter Alfred memegang tangan Rosita dan menyeretnya ke samping. Pria itu menatap pria yang berdiri di depan Rosita.
__ADS_1
"Nona Rosita bagian dari keluarga Cassano! Jadi, menghindarlah dari Nona Rosita jika di tengah jalan anda tidak sengaja bertemu dengannya, Tuan Alex Moritz!"