
Rosita terlihat kikuk ketika tiba di dalam kamar pribadi Walter. Kamar serba hitam itu terlihat menyimpan banyak rahasia. Aroma maskulin khas pria tercium dengan jelas di hidung Rosita. Pengawal pria yang mengantarkan Rosita sudah pergi. Bahkan pengawal itu tidak sampai masuk ke dalam kamar. Kini, Rosita tidak tahu harus bagaimana. Dia berdiri sambil melihat pria yang sedang tertidur lelap.
"Apa orang tidur harus di jaga?" gumamnya di dalam hati. Menurut Rosita tidak ada yang salah di sana. Tanpa di jaga juga pasti Walter akan baik-baik saja.
Rosita yang memang memiliki watak ingin tahu, tidak akan bisa diam duduk di sofa. Wanita itu melangkah mendekati lemari berwarna abu-abu tua yang terletak di sudut ruangan. Sesekali ia memandang Walter untuk memastikan pria itu masih terlelap.
"Lemari apa itu? Kenapa desainnya bagus sekali."
Rosita ingin menyentuh lemari tersebut. Namun, dia tersadar kalau kini berada di kamar seorang pria yang misterius. Mereka baru bertemu semalam siang. Tidak ada dasar yang bisa membuat Rosita bisa berkata kalau Walter orang baik. Justru hingga detik ini Rosita berkesimpulan kalau Walter pria jahat. Pria baik mana yang bisa mendapat banyak luka di tubuhnya? Memegang senjata berbahaya dan bersikap songong seperti itu?
"Sebaiknya aku tidak cari masalah. Aku ke sini hanya ingin membujuk Tuan Walter agar diizinkan pulang. Jadi, lebih baik aku bersikap baik budi di depannya."
Rosita memutar tubuhnya dan memilih kembali ke sofa. Wanita itu duduk dengan kaki terlipat sambil memperhatikan wajah Walter yang masih terlelap.
"Ganteng bener ya Tuan Walter. Apa lagi kalau lagi tidur gini. Kalau kayak gini, bagaimana aku bisa tahan?" puji Rosita di dalam hati. Dia segera geleng-geleng ketika kembali sadar. "Aduh, ingat Rosita! Kalian berbeda. BERBEDA! Sadar diri!" umpatnya sendiri di dalam hati.
Setelah hampir satu jam menunggu Walter tidur, akhirnya Rosita mulai bosan. Di tambah lagi kini dia merasa ingin buang air kecil.
"Apa itu ya toiletnya." Tanpa pikir panjang, Rosita berlari ke arah pintu warna cokelat yang tidak terlalu jauh dari jendela. Wanita itu sudah tidak bisa menahannya lagi. Ia sangat butuh toilet.
Ketika pintu di buka, Rosita di buat kaget melihat ruangan rahasia milik Walter. Ruangan itu adalah gudang senjata yang menyimpan koleksi senjata milik Fabio dan Walter. Dari sisi lain, bisa juga di masukin dari luar. Namun, ada juga pintu penghubung dari kamar pribadi Walter.
Rosita yang tadinya sudah sangat ingin buang air kecil, akhirnya menundah keinginannya itu. Ia melangkah pelan memasuki ruangan yang tidak boleh di masukin oleh siapapun.
"Apa sekarang aku ada di markas tentara? Kenapa senjatanya banyak sekali? Apa ini senjata mainan?" Rosita memperhatikan satu persatu senjata tersebut. "Tidak mungkin Tuan Walter mengoleksi senjata mainan. Apa untungnya?"
Rosita mengambil sebuah pistol berwarna gold yang terletak di depan matanya. Ia mengukir senyuman ketika berada hasil memegang senjata tersebut. Rosita memperhatikan detail senjata berbahaya itu dengan saksama.
__ADS_1
"Bagaimana caranya menembak?" Rosita mengarahkan senjata itu ke depan. Ia bertingkah seolah sedang membidik sasaran. Jemarinya ada di pelatuk dan secara perlahan menarik pelatuknya.
DUARRRR
Rosita melebarkan matanya. Secara spontan senjata api itu terlepas hingga terbanting ke lantai. Beberapa langkah mundur ke belakang dengan wajah tidak percaya. Rosita merasa seperti terhipnotis ketika memegang senjata itu. Entah kenapa ada keinginan untuk menembaknya.
"Apa tadi? Kenapa aku ...." Rosita mematung ketika melihat dari sebuah cermin ada beberapa pria bersenjata berdiri di belakangnya. Dengan sigap wanita itu berputar.
Di sana telah berdiri beberapa penjaga lengkap dengan senjata mereka yang kini di todongkan ke arah Rosita. Mereka mulai waspada dan panik ketika mendengar suara tembakan di kamar Walter.
"Apa yang terjadi? Kenapa banyak orang? Apa mereka marah karena aku sudah memakai senjata itu?" gumam Rosita yang hanya berani di dalam hati saja.
"Biarkan saja dia. Tinggalkan kami berdua!"
Teriakan Walter dari tempat tidur membuat penjaga itu menurunkan senjata mereka. Semua segera pergi karena tidak mau sampai Walter emosi. Rosita kini bisa bernapas lega. Tetapi, dia sendiri bingung bagaimana mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan Walter.
"PIBI!" teriak Walter.
Rosita mengatur napasnya lagi sebelum melangkah. Ia terlihat kesulitan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut. Jantungnya belum siap menatap wajah Walter secara langsung.
Walter sudah duduk di atas tempat tidur sambil bersandar di sebuah bantal. Pria itu menatap Rosita beberapa detik sebelum mendengus kesal.
"Siapa yang mengizinkanmu masuk ke dalam ruangan itu?"
"Saya pikir itu toilet. Maafkan saya Tuan." Rosita masih menunduk.
"Tutup lagi dan duduklah. Ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan." Di dengar dari nada bicara Walter, sepertinya pria itu sama sekali tidak mempermasalahkan kesalahan yang baru saja di lakukan Rosita. Dengan cepat Rosita menutup kembali pintu ruangan tersebut dan berlari ke sofa yang ada di samping tempat tidur.
__ADS_1
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"
"Ambilkan aku minum!" perintah Walter. Padahal jelas-jelas air minum itu ada di atas nakas yang jaraknya hanya setengah meter dari posisi Walter duduk. Tidak mau cari ribut, Rosita menurut saja. Dia mengambil air putih itu dan memberikannya kepada Walter.
Walter memberikan gelas kosong itu kepada Rosita. Ia menatap tajam wajah Rosita yang kelihatannyaasih belum tenang. "Apa yang kau pikirkan?"
"Tuan, sebenarnya seseram apa anda?" Entah kenapa Rosita ingin sekali menanyakan pertanyaan konyol seperti itu. Memangnya kalau dia tahu seseram apa Walter dia akan untung? Bahkan Rosita sendiri terlihat belum siap mendengarkan jawaban Walter. Dia sendiri tidak tahu, apa masih berani mendekati Walter keesokan harinya seandainya jawaban pria itu mengerikan.
"Seseram apa?" Walter menaikan alisnya. Dia terlihat sangat santai untuk menjawab pertanyaan Rosita. "Aku seorang pria yang tidak pernah dibesarkan oleh seorang ibu!"
Rosita masih belum mengerti. "Saya juga. Tapi, saya tidak menyeramkan. Saya tidak brutal seperti anda."
"Seorang pria yang tidak pernah di sentuh dan di peluk oleh ibunya, akan menjadi brutal karena tidak pernah mengenal kasih sayang. Hatinya sudah di bentuk untuk keras sejak kecil. Di paksa mendiri dan menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa di beri tahu solusinya apa. Seorang pria yang tidak pernah di nasihati oleh seorang ibu, dia akan tumbuh menjadi manusia kuat tanpa perasaan!"
Walter terlihat bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Ia menatap tajam Rosita tanpa berkedip. Rahangnya mengeras dan kedua matanya ada genangan cairan bening. Dia sedang menahan air matanya.
"Ketika hati berulang kali tertusuk duri, apa masih ada rasa sakit ketika seseorang menusuknya kembali? Ketika sudah berulang kali terhempas, apa masih ada rasa kaget ketika seseorang ada yang mendorong? Ketika sudah terlalu sering di hancurkan, maka kehancuran selanjutnya hanya sebuah permainan anak-anak yang tidak beresiko. Hatiku sudah tidak terbentuk. Rasa kasihan saja bahkan sudah hilang. Bagiku dunia ini memang kejam. Tidak tahu salah dan benar seperti apa!"
Rosita kali ini di buat tercengang mendengar Jawa Walter. Dari jawaban pria itu, dia tahu sebenarnya Walter bukan pria yang bahagia. Pria tangguh itu ternyata sad boy.
Visual Tokoh :
Walter
Rosita
__ADS_1