Suamiku Pinky Boy

Suamiku Pinky Boy
SPB. Bab 63


__ADS_3

Walter memandang Rosita dengan mata berkaca-kaca. Ini hari yang tidak pernah di bayangkan oleh Walter. Pria seperti dia tidak pernah memikirkan pernikahan. Pikirannya hanya dipenuhi dengan strategi bertarung. Tidak pernah terlintas sedikitpun untuk terlibat dengan seorang wanita apa lagi sampai menikah.


"Dia sangat cantik," puji Walter di dalam hati.


Rosita memandang wajah Walter sambil tersenyum manis. Dia tidak lagi merasa takut dan gugup setelah melihat wajah calon suaminya di depan sana. Rasanya Rosita ingin melangkah lebih cepat lagi agar bisa segera berdiri di samping Walter.


Lara, Fabio dan Dokter Alfred terlihat sangat bahagia. Mereka juga tidak menyangka kalau Walter akan menikah secepat ini. Pria itu biasa di kenal dengan kekejamannya dan sifatnya yang dingin seperti kutub utara.


"Lara, rencana kita berhasil. Sekarang si pria es sudah tidak tidur sendirian lagi," ujar Dokter Alfred sambil tersenyum.


Lara merangkul lengan Fabio sambil mengangguk. "Mereka pasangan yang serasi."


Fabio mengecup pucuk kepala Lara. "Seperti kita?" tanyanya dengan nada berbisik.


Lara mengusap pipi Fabio. "Aku mencintaimu."

__ADS_1


"Aku juga sangat mencintaimu," jawab Fabio.


"Berhentilah! Sudah cukup. Aku ingin melihat Walter memperlakukan istrinya. Bukan melihat keromantisan kalian," protes Dokter Alfred.


Lara hanya tertawa saja. Dia kembali memandang ke depan untuk melihat proses akad Rosita dan Walter.


Setelah mengucapkan sumpah dan janji, Walter dan Rosita telah resmi menjadi suami istri. Sorak tepuk tangan memeriahkan pernikahan siang itu.


Rosita dan Walter yang masih malu-malu saling memandang satu sama lain. Walter berjalan mendekati Rosita dan mengecup pucuk kepala istrinya dengan penuh cinta.


"Terima kasih," ucapnya dengan lembut.


Walter menarik tangan Rosita dan merangkul pinggang wanita itu. Dia mengajak Rosita untuk mendekati tamu yang ingin mengucapkan selamat kepada mereka.


"Ini tidak mimpi. Bukankah sentuhan ini nyata?"

__ADS_1


Rosita tertawa kecil mendengarnya. "Tuan, setelah menikah anda ternyata romantis juga. Bahkan terlihat semakin menggemaskan," ledek Rosita dengan pelan.


Walter menahan langkah kakinya dan memandang Rosita untuk beberapa saat. "Kau harus ingat dengan janjiku, Pibi. Jangan pernah meninggalkan diriku dalam keadaan apapun."


Rosita mengangguk. "Aku janji untuk selalu setia. Kita akan hadapi semuanya bersama-sama," jawab Rosita penuh keyakinan.


Walter menatap wajah Rosita dengan saksama. Dia menarik wanita itu dan memeluknya. "Terima kasih."


"Hei, pengantin baru. Kalian bisa lanjutkan kemesraan ini di kamar. Jangan di sini," ledek Dokter Alfred. Dia muncul bersama dengan Lara dan juga Fabio.


"Rosita, selamat ya. Sekarang kau sudah resmi menjadi bagian dari keluarga Cassano." Lara memberikan hadiah yang sudah ia persiapkan sejak kemarin. "Ini untuk kalian. Aku harap kalian menyukainya. Aku dan Fabio yang memilih."


"Terima kasih, Kak. Terima kasih." Rosita dan Lara saling berpelukan. Dua wanita itu tersenyum dengan begitu indah.


"Dimana kakak kandungmu, Rosita? Bukankah semalam kau bilang dia juga hadir di sini?" tanya Lara sambil mencari.

__ADS_1


"Kak Mesy?" tanya Rosita. Dia mencari ke kanan dan ke kiri. Alisnya mengernyit dan Wajahnya kecewa. Seharusnya wanita itu sudah berdiri di dekatnya dan mengucapkan selamat seperti apa yang dilakukan Lara, Fabio dan juga Dokter Alfred. Tetapi, justru sekarang wanita itu tidak terlihat batang hidungnya.


"Ini aneh, kenapa Kak Mesy gak pernah mau muncul di depan Tuan Fabio? Apa dia takut? Atau dia malu?" gumam Rosita di dalam hati.


__ADS_2