
Rosita mengaduk-aduk makanan yang ia pesan di salah satu restoran berbintang. Padahal makanan tersebut rasanya sangat lezat. Dihidangkan dengan cara yang unik hingga membuat siapa saja tertarik. Walter yang memesan semua makanan dan minuman yang ada di meja. Rosita sama sekali tidak kenal dengan menu-menu yang ada di restoran tersebut. Sayangnya mood Rosita menjadi buruk ketika ia kembali ingat dengan kakak kandungnya yang kini jauh dari mata.
Walter yang sudah menghabiskan setengah makan malamnya memandang Rosita dengan bingung. Namun, pria itu memilih untuk menyelesaikan makan malamnya lebih dulu sebelum mengajak Rosita mengobrol.
Rosita menyadari tatapan Walter beberapa detik yang lalu. "Apa dia marah karena aku tidak makan? Sebaiknya aku makan saja walau sedikit. Entah kenapa perutku tiba-tiba tidak lapar," gumam Rosita di dalam hati. Ia mulai memasukkan makanan tersebut ke dalam mulut dan mengunyahnya secara perlahan.
"Makanannya enak sekali, Tuan. Apa anda sering makan di sini?" ujar Rosita dengan penuh semangat. Berniat mencairkan suasana yang dinginnya sudah mengalahkan gunung es.
"Habiskan dulu makananmu baru bicara," sahut Walter. Sepertinya pria itu tidak tertarik untuk menanggapi pertanyaan Rosita karena masih dalam keadaan menyantap makanan.
Ketika sudah lima siap masuk ke dalam mulut, tiba-tiba Rosita berhenti. Wanita itu melepas sendok dan garpu yang sempat ia genggam. Jelas saja tingkah laku Rosita membuat Walter bingung.
"Ada apa? Apa kau baik-baik saja?"
"Tuan, kalau aku boleh tahu. Apa bahan utama makanan ini? Rasanya enak. Sepertinya saya pernah memakannya. Tapi, saya tidak tahu apa," tanya Rosita sambil sesekali menggaruk wajahnya secara perlahan. "Kenapa gatal sekali. Aku sudah mandi tadi sore," gumamnya di dalam hati.
Walter mengeryitkan dahinya. Sepertinya nafsu makannya juga telah hilang ketika Rosita terus-menerus mengajaknya mengobrol. "Kepiting."
"KEPITING?" Kedua mata Rosita melebar. Dia benar-benar syok ketika tahu kalau makanan lezat yang baru saja dia santap berbahan dasar kepiting. Seafood yang paling ia benci karena bisa membuat rasa gatal yang luar biasa bagi seluruh tubuhnya. Bukan hanya itu saja. Wajah Rosita bisa berubah menjadi monster jika tidak segera diberi obat penawar.
"Ada apa? Kenapa kau panik seperti itu? Ini bukan racun," ucap Walter membela diri.
"Saya-" Rosita memejamkan mata. Rasanya dia tidak tega jika harus menyalahkan Walter. Pria itu sudah baik mengajaknya makan. "Saya mau ke toilet."
Rosita segera pergi meninggalkan meja makan. Meninggalkan tas dan seluruh barang miliknya di sana. Walter memandang Rosita dengan tatapan bingung. Pria itu mengambil gelas yang ada di depannya dan meneguknya secara perlahan.
__ADS_1
"Kenapa dia aneh sekali? Apa seperti ini seorang wanita?" gumamnya di dalam hati.
Di dalam toilet, Rosita mencuci mukanya untuk beberapa saat. Ketika mengangkat wajahnya dan melihat cermin, Rosita di buat syok lagi. Bibirnya bengkak hingga memerah seperti badut. Belum lagi wajahnya yang berubah seperti monster.
"Wajahku. Wajahku." Rosita memutar tubuhnya. Tiba-tiba saja perutnya terasa sakit. Rasanya ia juga ingin muntah. Seorang wanita yang juga ada di dalam sana mendekati Rosita karena kasihan.
"Apa anda baik-baik saja, Nona?"
"Kepalaku." Rosita memegang kepalanya dan memandang wanita di depannya. Kesadarannya mulai hilang. "Dia duduk di kursi nomor 21," ucap Rosita sebelum dia tidak sadarkan diri.
"Nona, Nona. Bangunlah." Wanita itu memandang ke pintu. "Tolong...."
...***...
Rosita membuka kedua matanya secara perlahan. Kepalanya masih terasa pusing. Samar-samar ia melihat dua pria sedang bercakap-cakap di depan sana. Satu berpakaian putih satu lagi berjas hitam. Ingatannya kembali ke restoran. Ketika Rosita sadar kalau dia baru saja jatuh pingsan karena alergi, dia cepat-cepat beranjak.
Walter memutar tubuhnya dan memandang Rosita. Sedangkan dokter yang tidak lain adalah Dokter Alfred berjalan mendekati Rosita sambil tersenyum ramah.
"Bagaimana perasaan anda, Nona? Apa masih terasa mual dan pusing? Masih ada yang terasa gatal?" tanya Dokter Alfred dengan lembut.
Rosita melirik Walter sejenak sebelum menggeleng pelan. "Aku alergi kepiting," ucap Rosita takut-takut.
"Kenapa kau tidak bilang sejak awal?" ujar Walter yang kelihatannya tidak mau disalahkan.
"Tuan, jangan galak-galak. Anda harus ingat kalau anda masih jomblo!" sindir Dokter Alfred. Walter hanya mendengus kesal mendengar ocehan Dokter Alfred.
__ADS_1
"Dok, apa wajah saya masih jelek?" tanya Rosita sedikit berbisik. Ia mengusap-usap wajahnya untuk memastikan kalau wajahnya tidak bengkak lagi.
"Wajah anda sudah kembali seperti semula, Nona." Dokter Alfred mengeluarkan beberapa pil dan memberikannya kepada Rosita. "Minum obat ini agar alerginya cepat sembuh."
Rosita menurut saya. Dia sendiri sudah lama tidak alergi jadi tidak sempat menyimpan obat. Setelah berhasil meneguk semua pil yang diberikan Dokter Alfred, Rosita menurunkan kedua kakinya ke lantai.
"Anda mau ke mana?" tanya dokter Alfred bingung.
"Pulang. Bukankah ini rumah Tuan Walter? Saya tidak pantas ada di sini," jawab Rosita. Ia mengambil tasnya yang tergeletak di atas meja sebelum melangkah menuju ke pintu. Memandang Walter yang kini menatapnya dengan tatapan tidak terbaca sebelum keluar dari kamar tersebut.
"Dia pernah ke sini sebelumnya?" tanya Dokter Alfred penasaran.
Walter menggeleng pelan. "Kejadian yang sama akan terulang lagi."
"Kejadian yang sama?" Dokter Alfred mendekat. "Maksudnya?"
Walter mengangkat kedua bahunya. "Sepertinya dia akan tersesat. Tidak sembarang orang bisa keluar dari mansion ini tanpa izin dari pemiliknya."
Dokter Alfred tertawa geli. "Maksudmu Lara kedua?"
"Bisa jadi. Aku akan mengikutinya sebelum dia salah masuk kamar. Jangan sampai dia masuk ke kamar Bos Fabio dan Nona Lara."
Dokter Alfred tertawa lagi. "Baiklah. Masalah telah selesai. Aku mau pulang. Aku juga sangat merindukan istriku," ujar Dokter Alfred dengan kedipan mata.
Walter mengangguk pelan dan keluar dari kamar. Ia memandang kepergian Dokter Alfred sebelum memandang ke kanan dan ke kiri mencari Rosita.
__ADS_1
"Ke mana dia?"