
Rosita berjalan menuju ke salah satu meja yang ada di sebuah cafe. Wanita itu memandang ke kanan dan ke kiri sebelum lanjut jalan lagi. Gerak geriknya sudah seperti pencuri. Padahal dia datang ke cafe itu karena dia ingin bertemu dengan kakak kandungnya sendiri.
Mesy yang sudah menunggu Rosita sejak setengah jam yang lalu terlihat sangat kesal. Sudah ada gelas kosong di atas meja dekat Mesy duduk. Wanita itu mengeryitkan dahinya melihat Rosita muncul.
"Apa kau mengerjaiku? Kau yang mengatur tempat dan waktunya tidak tetapi justru kau yang datang terlambat!"
"Maafkan aku kak. Susah sekali keluar dari mansion. Kak Walter terus saja mencegahku." Rosita meletakkan di meja. "Kak, setelah kau pikir-pikir aku lebih percaya dengan apa yang kakak katakan. Aku juga tidak mau menjadi anak yang durhaka. Aku ingin membuat orang tua kita tenang. Sekarang aku mau membantu kakak."
"Bagus! Anak pintar. Tadinya aku sempat kecewa melihat sikapmu. Sekarang aku menjadi semakin sayang padamu, Rosi. Kau memang adik yang selalu bisa di handalkan."
Rosita tersentuh manis. "Kak, apa jus ini untukku?"
__ADS_1
"Ya. Silahkan minum." Mesy mengangkat tangannya untuk memesan makanan. Padahal sebelum Rosi dekat dengan Walter, Mesy tidak pernah makan di resto atau cafe mewah. Sekarang sejak Rosi menikah dengan Walter, wanita itu juga kecipratan dan ikut tajir.
"Kak, aku masih penasaran. Sebenarnya rencana apa yang sudah kakak siapkan? Aku takut jika sampai beresiko kak. Bukankah Kak Walter pria yang hebat. Dia pasti tahu apa yang sudah kita rencanakan."
"Ini tugasmu. Jika kau pandai buat alasan, kita tidak akan ketahuan," jawab Mesy dengan santai.
"Kak, cepat katakan. Apa yang harus aku lakukan?" Rosita terus saja memaksa Mesy. Dia tidak mau berlama-lama meninggalkan suaminya di mansion.
"Surat perjanjian? Surat perjanjian apa kak?"
"Surat perjanjian untuk memberikan 75% harta yang dia miliki atas namamu. Sebagai wanita kita juga harus pintar. Jangan sampai kita kehilangan satu-satunya hal yang paling berharga yang kita miliki namun ujung-ujungnya ditendang."
__ADS_1
"Oke, sejauh ini aku mengerti dengan apa yang kakak pikirkan. Lalu, setelah aku berhasil mendapatkan tanda tangannya, aku harus melakukan apa lagi? Tidak mungkin kan hanya menyimpan surat itu saja?"
"Kita harus membuat cerita seolah-olah kau ini disiksa oleh Walter. Dikhianati. Kita akan menjebak Walter bersama dengan wanita lain. Di sata itu kau marah-marah saja padanya. lalu, minta cerai."
Deg. Rosita harus menelan salivanya sendiri ketika mendengar kata cerai. Dia sangat mencintai Walter. Bagaimana mungkin dia menjebak pria itu agar tidak dengan wanita lain?
"Aku setuju," jawab Rosita dengan senyuman. Dia tidak perlu takut karena semua yang mereka bicarakan juga bisa di dengar jelas oleh Walter di kejauhan sana.
"Rosi, ini masalah yang mudah. Setelah cerai kau akan menjadi wanita kaya raya. Kau tenang saja. Kakak akan selalu menemanimu," ucap Mesy dengan lebih percaya diri.
Rosita tersenyum dengan penuh arti. Sekarang dia tahu apa tujuan kakaknya melakukan semua ini. Harta! Ya, karena harta. Walau terkesan matre, tapi Rosita tidak sedih karena kakaknya tidak menyiapkan rencana jahat yang bisa melukai suaminya. "Setidaknya kakak tidak bekerja sama dengan musuh," gumam Rosi di dalam hati.
__ADS_1