Suamiku Pinky Boy

Suamiku Pinky Boy
SPB. Bab 76


__ADS_3

Walter dan Black Dragon berhasil tiba di dalam gedung yang menjadi tempat persembunyian Felix. Lagi-lagi tidak ada satu orangpun yang muncul untuk menyambut kedatangan mereka. Dan itu membuat Walter semakin curiga. Dia tahu berapa liciknya seorang Felix.


"Bos, apa langsung aja kita periksa gedung ini? Saya yakin Felix bersembunyi di salah satu kamar yang ada di gedung ini. Dia tidak berani menghadapi anda langsung," ujar salah satu pasukan Black Dragon.


"Tetap berhati-hati. Lokasi yang tenang tidak selamanya aman."


Walter juga melangkah maju. Begitupun dengan pasukan Black Dragon yang memilih berpencar untuk mencari keberadaan Felix. Baru beberapa menit mereka berpencar sudah terdengar suara tembakan. Walter segera mengangkat senjatanya dan bersembunyi. Begitupun dengan pasukan Black Dragon.


Ternyata Felix menggunakan mesin tembak otomatis yang sudah ia tempatkan dibeberapa titik. Sebagian pasukan Black Dragon yang tidak menemukan tempat berlindung harus tewas mengenaskan. Walter memperhatikan satu persatu mesin tembak otomatis itu sebelum melumpuhkannya satu persatu.


"Felix benar-benar licik!" umpat Walter sebelum menembak satu mesin terakhir.


Pasukan Black Dragon kembali berkumpul dan memperhatikan keadaan sekitar. Walter juga masih di sana untuk memastikan tidak ada lagi jebakan di sana.

__ADS_1


Dari sebuah lorong, muncul segerombolan orang bersenjata. Walter melangkah maju ke depan sedangkan pasukan Black Dragon bergerombol melindungi Walter. Mereka menatap ke depan. Terlihat jelas Felix muncul di sana.


"Aku pikir kau tidak lagi memiliki keberanian untuk menemuiku," ledek Walter.


"Tidak berani?" Felix menyunggingkan senyuman tipis. "Justru aku sudah tidak sabar untuk melihat kematianmu! Hari ini adalah hari yang sangat aku tunggu-tunggu!" Felix melirik ke arah anak buahnya yang ada di samping sebelum memberi sebuah kode.


Walter tahu seperti apa cara kerja Felix. Dia meminta pasukan Black Dragon lebih waspada lagi.


Felix menatap tajam ke arah Walter. Pria itu bersikap sangat tenang. Seperti sudah ada rencana besar yang ia persiapkan untuk mengalahkan Walter.


"Berhati-hatilah. Sikapnya sangat mencurigakan," bisik Walter memperingati.


Walter melihat ke arah tangan Felix. Di sana dia melihat sebuah remot. "Dia pasti sudah memasang jebakan di sini," gumam Walter. Pria itu menunduk lalu mencari ke sana kemari. Tatapan pria itu terhenti ke arah benang tipis yang terhubung dari satu pintu ke pintu lainnya. "Ternyata itu jebakannya," batinnya di dalam hati.

__ADS_1


Walter melangkah maju ke depan untuk menantang Felix. Dia sudah tidak sabar untuk menantang Felix dan menghajar lawannya itu.


Felix mulai waspada. Pria itu menatap tajam ke arah Walter sebelum melangkah maju. Semua pasukan saling menatap satu sama lain. Baik itu pasukan Black Dragon maupun pasukan milik Felix.


"Kau cari mati Walter!"


Melihat Walter semakin dekat membuat Felix melangkah lebih cepat. Hingga pada akhirnya dua pria itu berdiri saling berhadapan dengan tatapan penuh kebencian. Suasana semakin tegang ketika Walter dan Felix belum mengucapkan satu katapun. Mereka hanya berdiri diam sambil menatap tajam.


"Kau harus tahu satu hal, Walter. Dulu aku kalah tapi tidak untuk sekarang. Jika malam ini aku tidak menang, kau juga tidak akan pernah ada di dunia ini lagi!"


Walter yang sudah geram tidak mau banyak bicara lagi. Tanpa pikir panjang pria itu menghajar wajah Felix hingga membuat pria itu mundur beberapa langkah.


"Kemampuanmu ternyata masih sama seperti dulu, Felix! Kau pria payah!"

__ADS_1


__ADS_2