
Dokter Alfred membuka kedua matanya ketika dia merasa tangannya pegal. Pria itu melebarkan kedua matanya melihat jarum infus tertancap di punggung tangannya. Satu hal yang membuat dia semakin bingung. Sekarang dia ada di rumah sakit. Bukankah sebelum tidur dia masih ada di mansion?
"Apa yang terjadi? Kenapa aku bisa ada di rumah sakit ini? Apa ketika aku tidur mansion diserang lalu aku tertembak dan kritis?" Dokter Alfred diam sejenak. " Tidak! Ini tidak mungkin. Tapi, kenapa aku sampai tidak sadarkan diri?"
Pintu terbuka. Walter, Fabio dan Lara masuk ke dalam ruangan tersebut. Mereka bertiga terlihat sangat senang karena Dokter Alfred sudah sadar.
"Alfred, bagaimana keadaanmu?" tanya Lara. "Kenapa kau tidak bilang kalau lagi sakit?"
"Sakit? Siapa yang sakti?" Dokter Alfred duduk di atas tempat tidur. Karena dia merasa tubuhnya sehat, pria itu bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa. "Aku baik-baik saja. Kenapa aku di bawa ke rumah sakit?"
"Walter pulang dan membangunkanmu di kamar. Tetapi kau tidak juga bangun. Kami khawatir jadi segera membawamu ke rumah sakit," sahut Lara.
Dokter Alfred memijat dahinya. Ini satu tindakan yang bodoh. Dia baru saja minum obat tidur. Jelas saja dia sulit bangun. "Kalian sudah salah paham. Aku tidak sakit!" Dokter Alfred membuka selang infus yang ada di tangannya. Menurunkan kedua kakinya karena dia ingin pergi dari sana. "Aku mau pulang saja!" protesnya lagi.
"Alfred, dokter belum mengizinkanmu pulang!" ujar Lara tidak setuju.
"Aku juga dokter, Lara. Aku tahu mana yang terbaik untuk tubuhku!"
"Alfred, kau memang butuh istirahat." Lara seperti tidak mau menyerah. Wanita itu tidak akan membiarkan dokter Alfred pergi meninggalkan rumah sakti sebelum mendapat ijin dari dokter.
"Apa dokter yang memeriksaku tidak tahu kalau aku sedang meminum obat tidur?"
"Mereka tahu. Tapi, ada masalah bukan? Kenapa kau meminum obat tidur, Alfred? Sejak kapan? Ini tidak bagus untuk kesehatan. Dokter bilang, kau depresi. Apa kau ingat dengan Ines? Aku tahu kau butuh teman. Tolong jangan seperti ini, Alfred. Ceritakan apa yang kau rasakan. Kami keluargamu!"
Dokter Alfred tidak bisa menyangkal lagi. Memang jika dia tidak memiliki masalah, seharusnya dia tidak membutuhkan obat seperti itu. Sudah hampir setiap hari dia meminumnya. Tidak hanya sekali saja dalam sehari. Bahkan bisa sampai dua atau tiga kali dalam sehari. Semua dia lakukan agar dia bisa tidur. Tanpa obat, kedua matanya tidak pernah bisa terpejam karena pikirannya dipenuhi dengan kenangan dia bersama istrinya.
"Maafkan aku," ucap Dokter Alfred kalah.
Fabio dan Walter hanya bisa menjadi penonton saja. Mereka berdua juga tidak tahu harus ada di pihak mana. Dua-duanya sangat berarti bagi mereka. Mereka semua adalah keluarga yang tidak boleh terpisahkan dan harus saling menguatkan.
"Aku merindukannya. Jika sedang bersama kalian, aku sedikit lupa. Tetapi, jika sedang sendirian, wajahnya mengganggu pikiranku. Memaksa jiwaku untuk ikut pergi bersamanya. Sering sekali aku berpikir untuk bunuh diri saja. Sering kali aku berpikir, apa bisa aku hidup tanpa dia?"
__ADS_1
Lara tidak bisa membendung air matanya. Wanita itu memandang suaminya lalu Fabio segera melepas rangkulannya. Lara berlari untuk memeluk Dokter Alfred. Wanita itu tahu betapa menderitanya dokter Alfred saat ini. Dia membutuhkan istrinya. Dia merindukan istrinya yang sudah tiada.
"Dia sudah tenang. Dia akan tersenyum jika melihatmu tersenyum. Dia akan menangis jika melihatmu menangis."
Kalimat itu adalah kalimat yang diucapkan dokter Alfred waktu Lara kehilangan kedua orang tuanya dulu. Kini justru Lara menggunakan kalimat itu untuk menenangkan dokter.
"Aku sudah coba, tapi tidak bisa. Jangan ajari aku untuk ikhlas. Ini berat. Aku merindukannya. Aku sangat merindukannya Lara ...," lirih Dokter Alfred. Pria itu juga tidak bisa membendung air matanya. Dia menangis di dalam pelukan Lara.
Walter melirik ke arah Fabio. Kali ini Fabio tidak lagi cemburu. Pria itu justru seperti ingin ikut menangis. Dia mulai bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Dokter Alfred. Bahkan mungkin Fabio akan lebih gila dari Dokter Alfred jika dia sampai kehilangan Lara.
"Kenapa kau tidak bilang? Setiap kali kau bersamaku, kau memaksakan diri untuk terlihat bahagia. Selalu tersenyum. Kenapa kau harus berbohong? Jika hatimu menangis, menangis saja di hadapanku. Aku tidak butuh senyum palsumu. Aku lebih suka kau apa adanya." Lara melepas pelukan mereka. Memegang pundak Dokter Alfred dan menepuknya dengan kuat. "Kau pria hebat. Kau pasti bisa, Alfred. Kau pasti bisa untuk bangkit. Semangatlah. Demi dirimu dan Ines di sana."
Dokter Alfred hanya mengangguk saja. Pria itu tidak tahu harus bagaimana lagi. Walter memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Sebenarnya tadi dia sangat marah dan sakit hati melihat Dokter Alfred.
Setelah tiba di mansion, Walter segera turun dan berlari kencang menuju ke kamar pribadi Dokter Alfred. Pria itu ingin menanyakan langsung sebenarnya apa maksud dokter Alfred mengirimkan pesan seperti itu. Apa dia memiliki rasa terhadap Rosita?
Tidak di sangka, teriakan Walter di kamar tidak juga membangunkan Dokter Alfred. Awal-awal Walter berpikir kalau Dokter Alfred takut dan memilih untuk pura-pura tidur.
Namun, lama kelamaan Walter mulai curiga. Dia menggoyangkan tubuh Dokter Alfred berharap pria itu terbangun. Tetapi, tidak juga ada respon. Walter segera keluar kamar dan memberi kamar ini kepada Lara dan Fabio. Mereka semua membawa Dokter Alfred ke rumah sakit. Setelah hampir dua jam dokter Alfred tidak sadarkan diri, sekarang pria itu sudah terbangun lagi.
Dokter Alfred memandang ke arah Walter. Dari tatapan Walter dia sudah tahu apa yang sekarang dipikirkan oleh Walter. Pria itu tersenyum kecil hingga buatlah Lara bingung.
"Apa yang kau pikirkan. Kenapa kau tertawa?"
Dokter Alfred menggeleng pelan. "Seseorang sedang memakiku di dalam hati."
"Seseorang siapa? Sejak kapan kau bisa membaca hati orang lain?" Lara berpikir kalau orang yang dimaksud Albert adalah Fabio. Wanita itu memandang ke arah suaminya dan memastikan kalau suaminya tidak sedang cemburu. Ketika Lara memandang Fabio, Fabio sendiri tersenyum untuk memberi kode kalau dia baik-baik saja.
"Siapa yang dimaksud, Alfred?" gumam Lara bingung.
Tidak dengan Walter. Pria itu menatap Dokter Alfred seolah ingin melahapnya hidup-hidup. Dia tahu kalau Dokter Alfred sedang menyindirnya. Tetapi, dia tidak mau sampai Lara dan Fabio mengetahui apa yang terjadi.
__ADS_1
"Lara, bukankah kau dan Fabio memiliki jadwal pertemuan dengan dokter kandungan? Kenapa kalian masih di sini? Sana pergilah temui dokternya," usir Dokter Alfred.
"Kenapa kau bisa ingat?" tanya Lara bingung.
"Karena kau keluargaku, Lara. Anak yang sedang kalian usahakan kehadirannya adalah calon keponakanku. jelas saja aku ingat segala jadwal program kehamilan yang sedang kau jalani saat ini," jawab Dokter Alfred. "Pergilah. Biar Walter saja yang menemaniku. Aku juga sangat yakin, kalau dokter pasti akan mengizinkanku pulang hari ini. Sakit yang aku derita tidak serius. Aku hanya butuh ketenangan saja. Jika ada di rumah sakit, aku justru menjadi tidak tenang."
"Baiklah. Aku dan Kak Bi pergi dulu." Lara beranjak dari tempat tidur Alfred. Dia memandang Walter sebelum merangkul lengan kekar Fabio. "Tolong jagakan Alfred. Jika Dokter mengizinkannya pulang antarkan dia pulang. Namun jika dokter belum mengizinkannya pulang, pastikan dia bertahan di rumah sakit ini!"
"Baik, Nyonya," jawab Walter sambil menunduk hormat.
Fabio memandang ke arah Dokter Alfred. "Kami pergi untuk periksa terlebih dahulu. Semoga kau bisa menjadi lebih baik," ujar Fabio.
Dokter Alfred mengangguk pelan. "Terima kasih Tuan Fabio."
Lara dan Fabio segera pergi meninggalkan ruangan tersebut. Baru saja terdengar suara pintu tertutup, Walter segera melangkah mendekati dokter Alfred. Sepertinya pria itu sudah tidak sabar mendengar penjelasan dari bibir dokter Alfred secara langsung.
" Ya ya! Aku tahu apa yang kau pikirkan. Ini tentang Rosita bukan? Sebelum kau bertanya, izinkan aku bertanya terlebih dahulu."
Walter menahan langkah kakinya. "Baiklah. Apa yang ingin anda tanyakan?"
"Apa kau mencintai Rosita?"
Walter membisu. Dia masih gengsi untuk mengakui perasaannya sendiri. "Tidak!" jawabnya tanpa memandang.
"Lalu, penjelasan apa yang ingin kau dengarkan dariku? Walter, kita bicara secara logika. Kau pasti tahu kalau aku baru saja kehilangan istriku. Saat ini keadaanku butuh sosok yang bisa menggantikan pasangan hidupku yang telah pergi. Rosita adalah tipeku. Kalau mungkin tidak sekarang, Tapi ke depannya Rosita adalah wanita yang cocok untuk menggantikan istriku yang sudah tiada. jika kau tidak mencintai Rosita kenapa kau harus marah ketika aku memiliki niat untuk menikahi Rosita?"
BRUAKKK
Tiba-tiba Walter meninju wajah dokter Alfred. Karena terlalu emosi pria itu sampai tidak sadar kalau saat ini dokter Alfred dalam keadaan sakit. Dokter Alfred sampai terpental ke tempat tidur. Pria itu memegang rahangnya yang terasa begitu sakit. Namun anehnya dia bukan marah, justru tertawa terpingkal melihat tingkah laku Walter.
"Kau cemburu Walter! Cemburu! Akui saja kalau kau memang mencintai Rosita. Masalah akan semakin mudah. Aku akan membantumu untuk mendapatkannya."
__ADS_1
Walter membisu mendengar perkataan dokter Alfred. Detik ini pria itu baru sadar kalau ternyata dokter Alfred sedang menjebaknya. Walter yang sudah kalah malu memilih untuk duduk di sofa. Pria itu mengatur nafasnya sambil memandang ke arah dokter Alfred.
"Ya, aku mencintainya. Bantu aku untuk mendapatkan hatinya!"