Suamiku Pinky Boy

Suamiku Pinky Boy
SPB. Bab 68


__ADS_3

Selama resepsi berlangsung, Rosita terlihat tidak bersemangat. Wanita itu lebih banyak diam dan tidak terlalu sering menatap mata Walter. Berbeda jauh dengan resepsi pernikahan malam kemarin. Hal itu membuat Walter curiga. Pria itu bisa mengetagui mana senyum terpaksa mana yang memang benar senyum bahagia.


“Aneh, malam ini kenapa Rosita terlihat tidak bersemangat? Apa aku melakukan kesalahan? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa setelah bertemu dengan kakak kandungnya, Rosita menjadi seperti ini?” gumam Walter di dalam hati.


“Rosita, ayo kita ke sana.” Lara muncul dengan gaun hitam yang begitu elegan. Wanita itu ingin mengajak Rosita bergabung dengan pelayan-pelayan wanita yang sedang berkumpul di dekat taman.


“Kak, anda terlihat sangat cantik malam ini,” puji Rosita ketika pertama kali melihat penampilan Lara yang begitu menakjubkan.

__ADS_1


“Rosita, kau tidak perlu memujiku. Bagiku pujian yang keluar dari mulut Fabio sudah bisa membuatnya melayang ke atas langit.” Lara memandang ke arah Walter. “Aku pinjam dulu ya. Banyak sekali hal penting yang harus kami ceritakan. Tetapi, ini rahasia wanita.”


Walter hanya bisa tersenyum dan menundukkan sedikit kepalanya ketika berdiri di depan Lara. Walau statusnya sudah cukup tinggi di mansion itu, tetap saja Lara dan Fabio dia hormati setiap kali bertemu.


Rosita memandang ke arah Walter sejenak sebelum ikut melangkah bersama Lara. Wanita itu juga tidak bisa menolak ajakan Lara walau sebenarnya dia hanya ingin berdiri di samping Walter sampai acara selesai.


Walter memandang punggung Rosita sampai wanita itu benar-benar jauh darinya. Dokter Alfred yang baru saja muncul segera menepuk pundak Walter.

__ADS_1


“Apakah wanita yang baru menikah moodnya bisa berbeda-beda? Tadi dia baik-baik saja. Malam ini dia terlihat aneh,” ucap Walter. Dia berharap Dokter Alfred bisa membantunya kali ini.


“Bukan hanya setelah menikah. Sifat dasar wanita memang seperti itu. Moodnya tidak bisa di tebak. Kadang dia bahagia tanpa sebab. Kadang marah tanpa sebab. Bahkan kadang menangis tanpa sebab. Itu hal yang wajar. Tandanya dia memang benar-benar wanita. Kau tidak perlu mengkhawatirkannya, Walter. Seiring berjalannya waktu kau akan mengerti sendiri nanti dan mengerti bagaimana cara menghadapinya.”


Walter menghela napas panjang. “Baiklah, Dok. Terima kasih atas jawabannya. Tetapi, sejauh ini aku perhatikan Nyonya Lara tidak seperti itu. Dia terlihat ceria setiap harinya.”


“Setiap wanita berbeda-beda. Tidak semua wanita seperti apa yang aku katakan tadi. Tetapi, rata-rata seperti itu.” Dokter Alfred meneguk minuman yang ada di tangannya. “Ayo kita gabung dengan Bos. Malam ini kita puasin minum. Kita harus bahagia di pesta malam ini. Jarang-jarang bukan kita mengadakan pesta di mansion?”

__ADS_1


Dokter Alfred membawa Walter untuk bergabung dengan Fabio dan pasukan Black Dragon. Pria itu tidak mau Walter sendirian di sana seperti orang bodoh. Sedangkan Rosita memperhatikan Walter dari kejauhan. Sebenarnya sejak tadi dia sedang memikirkan kalimat yang sesuai untuk mengatakan apa yang diceritakn Mesy di hotel tadi siang. Rosita sudah tidak sanggup menahannya lebih lama lagi. Dia ingin segera mendengar penjelasan dari bibir suaminya langsung.


“Jika nanti Kak Walter mengakui perbuatannya. Lalu, apa yang harus aku lakukan?”


__ADS_2