
"Ya, aku mengenalnya. Bahkan sekarang aku memiliki niat untuk menjodohkan mereka." Alfred memandang ke depan. "Tetapi, aku tidak yakin akan berhasil." Pria itu bersandar di sofa mencari posisi nyamannya. Ia mengitari ruangan itu untuk memastikan ada atau tidak orang yang mendengar pembicaraannya bersama Lara.
Lara mengeryitkan dahinya mendengar jawaban Dokter Alfred. "Dari segi mananya tidak berhasil? Wanitanya suka kan sama Walter? Bukankah dengan begitu kita hanya perlu meyakinkan perasaan Walter saja?" jawab Lara santai. Dipikiran Lara, tidak ada wanita yang akan menolak pesona seorang Walter. Tampan, pemberani, kaya dan sudah pasti setia karena tidak sembarang wanita bisa dekat dengannya.
"Di situ letak permasalahannya, Lara." Dokter Alfred membenarkan posisi duduknya. Kali ini kedua tangannya ada di atas paha. "Kalau wanitanya sudah jatuh cinta pasti akan lebih mudah untuk menyatukan mereka. Dari Walternya sendiri aku lihat sepertinya memiliki rasa pada wanita ini. Tetapi, wanitanya masih tanda tanya."
"Tunggu. Apa maksudmu wanita yang kau maksud ini tidak mencintai Walter? Dia sudah bertemu dengan Walter kan? Bagaimana bisa ada wanita yang menolak peson seorang Walter? Bahkan kalau mau di tanya, seluruh wanita yang ada di perusahaan rela mengantri demi mendapatkan perhatian Walter."
"Sepertinya dia sempat tertarik tapi ketika tahu kalau Walter seorang pembunuh dia memilih untuk mundur. Hanya wanita pilihan yang mau menerima seorang pembunuh." Dokter Alfred memandang Lara dengan tatapan penuh arti. Secara tidak langsung dia sedang menyindir Lara karena mau menerima seorang pembunuh seperti Fabio.
Lara tertawa di buat Alfred. "Maksudmu aku wanita pilihan?" tunjuknya pada diri sendiri sambil tertawa geli. Dia sudah tahu arah bicara sahabatnya kemana.
"Sadar juga. Sejak kau menikah bahkan sampai detik ini, aku masih belum percaya kalau kau sudah menjadi Nyonya Fabio Cassano. Sejenak aku memandangmu sebagai seorang Lara Alessandra yang lugu dan pemalu."
"Mafia tidak buruk. Hanya perlu menguatkan mental saja. Dan ... banyak berdoa agar pasangan kita baik-baik saja agar bisa menang ketika berperang."
Lara melirik pelayan yang datang membawakan jus jeruk dan cemilan untuknya dan Dokter Alfred. Wanita itu menahan kalimatnya sampai palayan yang datang selesai menghilangkan makanan yang di bawa. Setelah pelayan itu pergi, Lara kembali memandang Alfred untuk melanjutkan obrolan mereka tadi.
"Aku yakin, wanita itu pasti mengerti jika nanti dia sudah mengenal Walter lebih jauh lagi," sambung Lara sebelum mencicipi jus jeruk segar yang ada di meja.
"Andai Rosita memiliki pemikiran sepertimu maka semua ini akan terasa mudah," sahabat Dokter Alfred sebelum ikut untuk menikmati jus jeruk dan camilan yang disediakan.
Lara menahan gerakannya. Ia menjauhkan sedotan dari bibirnya dan menatap dokter Alfred dengan alis saling bertaut. "Namanya Rosita? Bukankah Rosita itu pelayan pribadi Walter?"
"Ya, Kau pernah bertemu dengannya. Dia memilih pergi meninggalkan mansion ini dan melupakan apa yang sudah pernah ia lalui. Lara, ada satu cerita yang belum aku katakan padamu hingga detik ini. Saat aku mencari penawar untuk Walter aku tidak pergi sendirian. Rosita ikut bersamaku. Sayangnya semua tidak berjalan sesuai dengan rencana. Aku berhasil kabur sedangkan Rosita tertangkap oleh anak buah Robert. Rosita sempat disiksa dan dianiaya di sebuah lorong gelap yang ada di Belanda. Dia mengalami trauma yang begitu berat. Sepertinya ini alasan Rosita untuk berhenti mengenal Walter. Dia tidak mau kejadian yang sama terulang lagi."
__ADS_1
"itu artinya Rosita tidak benar-benar mencintai Walter. Jika dia memang benar-benar mencintai Walter seharusnya pengorbanan seperti ini tidak akan diperhitungkan. Kita tidak harus memaksa Rosita untuk mencintai Walter juga. Kasihan Walter. Aku tidak mau wanita yang dekat dengannya, mencintainya karena terpaksa," jawab Lara. Dia kembali diam sambil memikirkan solusi yang terbaik untuk Walter.
"Ya, kau benar. Apa sekarang kita kembali ke rencana awal? Mengadakan pesta dan mengundang para gadis agar Walter bisa menemukan jodohnya?" Dokter Alfred kembali bersemangat. Sepertinya dia memiliki pemikiran yang sama dengan Lara. Mencari gadis cantik dan mengadakan sebuah pesta akan membuat peluang besar bagi Walter untuk menemukan jodohnya.
"Ya. Apa kau mau membantuku untuk mempersiapkan segalanya? Fabio tidak paham masalah seperti ini. Aku juga tidak mau menyerahkan urusan pesta ini sepenuhnya sama orang lain. Aku ingin ikut campur di dalamnya agar aku bisa membuat pesta sesuai dengan keinginanku."
"Baiklah. Tapi sebelumnya pastikan dulu Fabio tidak cemburu padaku," ledek Dokter Alfred. Dia tahu bagaimana cemburunya SEO Fabio. Sampai-sampai Alfred sekarang berusaha menjaga jarak dengan Lara agar Fabio tidak salah paham. Mungkin jika sebelumnya hak itu tidak akan jadi masalah. Tetapi, setelah Dokter Alfred menyandang status duda. Pria itu harus lebih ekstra menjaga perasaan orang lain.
Lara mengeryitkan dahinya. "Kau tahu sesuatu?"
"Aku tahu dia cemburu padaku. Tapi itu tidak jadi masalah karena tandanya dia sangat mencintaimu Lara. Aku senang sahabatku mendapatkan suami yang sangat mencintainya."
"Kau benar-benar sahabat yang pengertian. aku merasa beruntung sudah kenal dengan pria sepertimu, Alfred. Kau mau menerimaku sebagai sahabatmu sejak tubuhku seperti monster."
"Hei, Kau harus tahu kalau kau lebih mengasikan ketika tubuhmu menjadi monster. Aku bebas mengajakmu makan apapun sebanyak apapun itu. sekarang setiap kali aku ajak makan kau selalu berpikir nanti gemuk. Itu sungguh sangat merepotkan!"
"Oke, deal. Tapi untuk saat ini fokuslah dulu pada program kehamilan yang sudah kau rencanakan bersama Fabio. Aku akan selalu membantumu Lara."
Lara terharu mendengarnya. "Terima kasih, Alfred."
Di balik dinding, Rosita membisu mendengar perbincangan Lara dan Dokter Alfred. Wanita itu secara tidak sengaja lewat dan mendengar obrolan Lara dan Dokter Alfred. Awalnya dia mau pergi saja karena tidak mau ikut campur. Namun, ketika namanya muncul di dalam obrolan mereka. Rosita tertarik untuk berhenti dan menguping sampai akhir cerita. Bahkan wanita itu rela bersembunyi agar tidak ketahuan orang lain kalau sedang menguping.
"Tuan Walter menyukaiku? Apa benar yang dikatakan Dokter Alfred?" Rosita memegang dadanya sendiri. Debaran jantung menjadi tidak karuan ketika dia membayangkan kalau Walter suka dengannya. Sebenarnya jika harus menjawab jujur, Rosita juga suka sama Walter. Tetapi dia belum yakin kalau perasaan itu adalah cinta. Rosita selalu berpikir kalau debaran yang ia rasakan ketika ada di dekat Walter hanya sekedar perasaan kagum dan canggih semata. Tidak sampai menjurus ke arah jatuh cinta.
"Tidak. Aku tidak boleh terlalu percaya diri. Ini hanya perkiraan Dokter Alfred saja. Belum tentu Tuan Walter benar-benar menyukaiku. Sebaiknya aku tidak terlalu percaya diri agar tidak sakit hati," gumam Rosita di dalam hati. Dia memilih untuk segera pergi agar dokter Alfred tidak menyadari kalau dia sudah menguping sejak tadi.
__ADS_1
...***...
Walter memilih untuk latihan di salah satu tempat latihan yang ada di mansion. Di depannya ada samsak yang sejak tadi ia pukuli dengan tangan kosong. Karena terlalu kuat dan tanpa perlindungan, tangan Walter sudah memerah. Tetapi pria itu tidak juga berhenti. Hanya dengan cara latihan seperti ini dia bisa mendapatkan banyak manfaat. Selain melupakan kalimat yang diucapkan Rosita, pria itu juga bisa melatih kekuatan kaki dan tangannya.
"Apa dia pikir dia hebat?" umpat Walter tiba-tiba. Pria itu berhenti ketika lagi-lagi dia mengingat Rosita. Padahal tadinya dia pikir latihan seperti ini akan berhasil membuatnya lupa. Walter melihat tangannya yang berdarah sebelum melangkah mundur. Pria itu memutuskan berhenti latihan untuk sejenak. Dia ingin membungkus luka di tangannya dengan perban sebelum lanjut latihan lagi.
"Apa kau tahu? Nona Rosita tadi di panggil sama Nyonya Lara. Sebelum masuk Nyonya Lara sempat berteriak. Sepertinya Nona Rosita telah melakukan kesalahan," ujar seseorang yang duduk di belakang Walter. Dua pengawal itu tidak tahu kalau Walter ada di belakang mereka. Memang tidak pernah Walter datang ke tempat latihan itu. Biasanya Walter lebih suka latihan di lapangan terbuka.
"Dari informasi yang aku dapat, Nona Rosita menguping obrolan Dokter Alfred dan Nyonya Lara. Lalu ketahuan. Jadi Nyonya Lara marah dan ingin menghukumnya," jawab pria satunya lagi.
Walter menahan gerakannya ketika ingin membungkus jarinya dengan perban. Pria itu memandang ke depan sambil membayangkan nasip Rosita saat ini. Jika memang benar Rosita dipanggil oleh Lara, Walter tidak perlu khawatir karena Lara wanita yang sangat baik dan tidak tegaan. Sudah pasti Rosita hanya di ajak bicara sebelum dibebaskan tanpa syarat.
"Kasihan sekali Nona Rosita ya. Tadi aku lihat ada pelayan yang datang ke kamar Nona Rosita. Sepertinya dia diminta untuk membereskan barang-barang Nona Rosita. Nona Rosita akan di usir dari mansion ini karena telah lancang!"
Walter kali ini tidak bisa diam saja. Pria itu segera beranjak dan pergi. Ia ingin memeriksa sendiri paa benar yang dikatakan oleh dua pengawal tadi. Walter melempar handuk basah yang baru saja di gunakan untuk mengeringkan keringatnya. Pria itu memakai baju dan segera berjalan pergi. Dia tidak mau sampai terlambat. Walau tidak tahu bagaimana caranya bicara dengan Lara, tetapi setidaknya dia tahu pokok permasalahannya yang terjadi.
Walter berjalan cepat menuju ke kamar pribadi Rosita. Pria itu berharap bisa bertemu dengan Rosita di sana. Kebetulan kamar Rosita tidak terlalu jauh dari lokasi Walter latihan.
Pelayan wanita berjalan menuju ke kamar Rosita sambil membawa sapu dan pel. Pelayan itu mengurungkan niatnya untuk masuk ketika melihat Walter ingin masuk juga.
"Selama sore, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" sapa pelayan wanita itu dengan lembut. Walter tidak tertarik untuk menjawab. Pria itu menerobos masuk ke dalam untuk memeriksa keadaan di dalam.
"Rosita!" teriak Walter. Pria itu berdiri di depan pintu dengan wajah bingung ketika melihat kamar itu telah kosong. Tidak ada barang-barang Rosita di dalam sana. Alis Walter saling bertaut sebelum pria itu keluar lagi.
"Dimana Rosita?" tanya Walter kepada pelayan wanita yang masih berdiri di depan.
__ADS_1
"Saya tadi melihat Nona Rosita keluar sambil membawa barang-barangnya Tuan. Lalu, Nona Lara meminta saya membersihkan kamar ini," jawab pelayan itu apa adanya.
"****!" umpat Walter. Pria itu memandang ke depan sebelum berlari. Ia akan mencegah Rosita pergi dari mansion ini. Walau Lara adalah nyonya besar di mansion itu, tetapi Walter masih memiliki hak untuk menentukan apakah Rosita boleh tinggal di mansion itu atau tidak.