
Walter dan Rosita sudah ada di dalam mobil. Kejutan terakhir Walter harus gagal karena hujan turun dengan derasnya. Tadinya dia sudah menyiapkan kembang api yang akan melengkapi suasana romantis malam itu. Tetapi, semua hanya tinggal rencana.
Dalam perjalanan pulang. Baik Rosita maupun Walter sedang bergulat dengan pikiran mereka masing-masing. Walter yang terus saja mengumpat keadaan karena kejutannya harus gagal. Sedangkan Rosita, memikirkan kalimat yang tepat untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Mesy. Dia tidak mau sampai salah bicara hingga membuat Mesy salah paham.
Rosita memandang ke arah Walter lalu memandang ke depan. Malam itu Walter tidak tidak bisa melajukan mobilnya dengan kencang. Jalanan dipenuhi dengan genangan air dan licin. Beresiko tinggi jika dia sampai balapan saat itu.
"Apa kau kedinginan?" tanya Walter ketika Rosita lagi-lagi memeluk lengannya sendiri.
Rosita hanya menggeleng karena tidak mau merepotkan Walter. "Tidak."
Walter memberhentikan mobilnya di pinggir jalan. Pria itu memandang Rosita sejenak sebelum melepas jas hitam yang ia kenakan. "Maafkan aku. Seharusnya sejak tadi aku berikan jas ini kepadamu. Tetapi, karena sesuatu hal. Aku sampai lupa," ucap Walter apa adanya.
Rosita tersenyum sambil mengangguk. "Terima kasih, kak." Wanita itu segera memakai jas yang diberikan oleh Walter.
Walter masih memandang Rosita. Semakin hari calon istrinya itu semakin cantik. Rasanya dia sama sekali tidak menyesal sudah memutuskan untuk menikah dengan Rosita.
Rosita yang sadar kalau sejak tadi Walter memandangnya hanya bisa menunduk dengan wajah malu-malu. "Ada apa kak? Kenapa memandangku seperti itu? Apa ada yang salah dengan wajahku?"
Walter memang bukan tipe pria yang romantis. Pada umumnya pria akan langsung memuji atau mengatakan kata-kata manis ketika berduaan seperti ini. Sedangkan Walter justru memilih untuk melanjutkan perjalanan agar mereka segera sampai.
__ADS_1
"Sudah larut malam. Kita harus segera tiba di rumah," ucap Walter tanpa memandang. Pria itu kembali melakukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Rosita sendiri hanya diam sambil memandang ke depan. Dia juga tidak tahu dan tidak bisa menebak apa yang ada di dalam pikiran Walter saat ini.
"Kak, sepertinya besok pagi aku akan memberi tahu Kak Mesy soal hubungan kita. Aku tidak mau terlalu lama menutupinya. Semoga saja Kak Mesy bisa menerima hubungan kita," ucap Rosita dengan nada takut-takut.
"Pibi, kau harus tahu. Terima atau tidaknya dia. Itu tidak merubah apapun. Kita akan tetap menikah pada tanggal yang sudah kita tentukan. Tidak ada yang boleh menghalanginya. Walau dia kakak kandungmu!" sahut Walter.
Rosita menghela napas panjang. Seharusnya dia sudah tahu bagaimana kerasnya sifat Walter. Pria itu selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Maka dari itu, Rosita tidak kaget mendengar Walter mengatakan kalimat seperti ini.
"Kak, boleh aku tanya sesuatu?"
"Katakan saja. Aku pasti akan menjawabnya."
"Kenapa? kau tidak nyaman tinggal di sana?"
"Bukan seperti itu. Mansion memiliki fasilitas yang sangat lengkap. Wanita mana yang tidak suka tinggal di sana? Hanya saja ... untuk orang yang baru menikah. Temapt seramai itu tidak baik." Wajah Rosita tersipu malu. Dia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya lagi.
"Apa maksudmu, Pibi? Kalau baru menikah kenapa?" Walter yang sama sekali tidak peka hanya membuat Rosita semakin malu.
"Maksudnya ...." Rosita diam lagi. "Duh, bagaimana ya menjelaskannya? Aku kan gak mungkin bilang kalau aku malu di ledekin sama orang satu mansion setelah melalui malam pertama," gumam Rosita di dalam hati.
__ADS_1
"Pibi ... kenapa kau diam? Sekarang apa lagi yang kau pikirkan? Apa ada yang membuatmu tidak nyaman?"
"Gak, Kak. Bukan seperti itu. Orang yang ada di mansion semua baik-baik. Aku senang bisa kenal dengan mereka. Hanya saja ... aku lelah." Rosita memandang Walter. "Ya, aku lelah karena mansion terlalu luas!"
"Aku tidak memintamu untuk mengelilingi mansion. Kau juga sudah tahu arah mana jalan pintas menuju ke kolam renang, dapur dan pintu depan. Sepertinya itu tidak terlalu jauh dari posisi kamar yang kau tempati sekarang."
Rosita kehabisan akal di buat Walter. Dia hanya ingin Walter mengerti tanpa harus menjelaskan apa yang dia pikirkan. "Kak, setelah menikah nanti kita tidur di mana?"
Walter kali ini di buat tersenyum oleh pertanyaan Rosita. "Di kamarlah, Pibi. Lalu, kau ingin kita tidur di mana?"
Rosita mengepal kuat kedua tangannya. Dia sangat geram mendengar jawaban Walter. "Ya, aku tahu. Maksudnya ... kita itu-"
"Aku sudah membeli sebuah rumah untuk kita berdua," potong Walter sebelum Rosita sempat menyelesaikan kalimatnya. Pria itu memandang wajah Rosita sekilas sebelum memandang ke depan lagi. "Kau akan menjadi nyonya di rumah kita nanti."
Rosita benar-benar melayang mendengarnya. Dia tidak menyangka kalau sebenarnya Walter sudah paham dengan apa yang dia katakan. Wanita itu lagi-lagi bergelayut manja di lengan kekar Walter. "Terima kasih, sayang. Kau memang yang terbaik," pujinya. Kali ini tidak ada kecupan karena Rosita sendiri juga masih malu-malu. Kecupan di pagi itu, spontan yang dilakukan Rosita. Setelah menyadarinya, Rosita sangat menyesalinya karena dia malu sendiri.
Walter hanya memasang ekspresi dingin ciri khasnya. Walau begitu, di dalam hatinya dia sedang bahagia karena bisa membuat calon istrinya tersenyum indah seperti itu.
"Aku akan melakukan apapun asal kau bahagia, Rosita. Jangankan rumah. Nyawaku saja akan aku berikan jika kau memang menginginkannya," gumam Walter di dalam hati.
__ADS_1