
"Benarkah? Kau dan Tuan Walter akan menikah? Rosi, kenapa kau tidak memberi tahuku sejak awal. Aku sangat senang mendengarnya. Selamat, Rosi. Aku turut bahagia."
Rosita melangkahkan kakinya sambil tersenyum membayangkan respon yang diberikan kakaknya saat di kamar tadi. Kini kebahagiaan Rosita lengkaplah sudah. Kakaknya telah merestuinya. Wanita itu memang sudah banyak berubah. Rosita senang karena saat ini kakaknya sudah berubah menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Karena terlalu bahagia, sampai-sampai Rosita tidak sabar kalau sudah ada Walter berdiri di depannya. Wanita itu terus saja melangkah dengan kepala menunduk hingga akhirnya di menabrak tubuh kekar Walter.
BRUUKK
"Au, sakit!" Rosita memegang dahinya. Walter menaikan alisnya sebelum menarik tangan Rosita. Pria itu menyingkirkan rambut di dahi Rosita untuk memeriksa apakah dahi calon istrinya benar-benar sakit.
"Apa disini yang sakit?" tanya Walter dengan ekspresi wajah yang serius.
Rosita yang tadinya merasa sakit kini sudah tidak merasakan apapun lagi. Hanya dengan memandang wajah tampan Walter sudah membuatnya merasa jauh lebih baik.
"Pibi, kenapa kau diam saja?" Walter semakin khawatir melihat Rosita tidak memberikan respon apapun. "Pibi ...," panggilnya sekali lagi
Rosita tersadar. Wanita itu segera memalingkan wajahnya ke arah lain karena malu. "Kak Walter, maaf ya. Aku tidak tahu kalau kakak berdiri di sini."
__ADS_1
Walter menaikan satu alisnya. Pria itu merangkul leher Rosita dan menyeretnya pergi dari sana. "Ayo kita ke suatu tempat."
"Kemana?" tanya Rosita bingung. Namun wanita itu tetap melangkahkan kakinya mengikuti Walter.
"Kau juga tahu nanti," jawab Walter tanpa mau menjelaskan.
Walter membawa Rosita ke sebuah tempat dimana ruangan itu berisi ratusan buku yang tersusun rapi di rak yang menjulang tinggi ke atas.
Rosita mengeryitkan dahi. Ini pertama kalinya dia datang ke tempat itu. Rosita menyebut ruangan itu adalah perpustakaan raksasa. Bagaimana tidak? Ada buku raksasa di tengah ruangan. Walter membawanya mendekati buku raksasa yang kini terletak di atas meja.
"Ini tempat yang tidak pernah dikunjungi oleh siapun," jawab Walter. Pria itu menulis sesuatu di atas buku tersebut dengan pena yang tersedia di sampingnya. Ternyata buku raksasa itu seperti layar sentuh ponsel. Jika Walter menulis sesuatu, tulisan itu akan muncul di dinding dan tulisannya berjalan ke pinggiran hingga beberapa detik sebelum hilang.
Rosita mengeryitkan dahi pertama kali membawa tulisan selamat datang. Dia juga ingin menulis sesuatu dan melihat tulisannya muncul di dinding.
Namun, ketika ada tulisan I love you di sana, Rosita menahan langkahnya. Wanita itu memandang ke arah Walter dengan pipi tersipu malu.
__ADS_1
"Kak ...."
Walter memandang Rosita dengan eskpresi tidak terbaca. Pria itu seperti tidak mengakui kalau dia sudah menulis kalimat cinta tersebut.
"Kau senang ada di tempat ini? Jika kau bosan, kau boleh datang ke tempat ini untuk membaca. Kau juga bisa menulis apapun di buku ini. Biasanya aku datang ke tempat ini jika aku sedang mengingat-ingat nama musuhku. Maka mereka akan tertulis di dinding dan aku tidak akan pernah melupakan nama mereka."
"Selain aku apa ada wanita lain yang datang ke tempat ini?"
Walter menggeleng. "Tempat ini dibangun atas izinku waktu itu. Jadi, tidak ada yang bisa masuk tanpa izin dariku. Termasuk Bos Fabio."
Rosita tertegun mendengar jawaban Walter. Seberharga itu Walter di maya Fabio. Sampai-sampai Fabio tidak berani bertindak sesuka hati walau sebenarnya mansion ini miliknya.
"Pibi, apa yang kau pikirkan?" tanya Walter bingung ketika lagi-lagi Rosita terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Tidak ada." Rosita mencoba untuk menulis sesuatu. Walter memandang ke dinding tempat tulisan itu akan muncul. Pria itu mengernyitkan dahinya melihat kalimat yang di tulis Rosita.
__ADS_1
"Baby, I love you ...."