
Rosita berjalan menelusuri lorong yang panjang. Tidak seperti Lara. Kini Rosita justru mengikuti lorong yang akan menghubungkannya dengan kamar para pekerja yang ada di rumah tersebut. Seperti pelayan dan pengawal. Masih berjarak puluhan meter dengan lokasi kamar, Rosita sudah di buat kaget. Bagaimana tidak? Mendekati lokasi kamar karyawan, suasana berubah menjadi sejuk.
Ada banyak tanaman yang sengaja di tanam di dinding. Atap lorong itu di buat dengan kaca hingga memperlihatkan langit malam yang dipenuhi bintang. Tidak cukup sampai di situ, Rosita lagi-lagi di buat kaget ketika melihat sebuah taman yang di tengahnya ada kolam ikan lengkap dengan miniatur air terjunnya. Rosita di buat kagum sampai-sampai dia tidak sadar kalau berjalan terlalu jauh dari kamar yang sempat ia tiduri.
"Rumah Tuan Walter mewah sekali. Dia pasti konglomerat yang kaya raya. Uangnya pasti tidak ada habisnya. Dia bisa membeli apapun yang dia inginkan. Beruntung sekali wanita yang akan menjadi istrinya nanti," puji Rosita dengan bibir tersenyum dan tatapan kagum.
"Ini bukan mansionku!" sahut Walter.
Rosita melebarkan kedua matanya sebelum berputar. Ia mengeryitkan dahi ketika melihat Walter bersandar di dinding dengan salah satu tangan di dalam saku.
"Sejak kapan anda ada di sana, Tuan?"
Walter mendengus. Pria itu berjalan pelan mendekati Rosita. "Sejak kau kabur dari kamar. Mansion ini tidak ada ujungnya. Salah masuk ruangan, kau akan celaka."
"Celaka?"
"Ya, di mansion ini ada singa, serigala dan juga...." Walter menyipitkan kedua matanya. "Buaya."
__ADS_1
Rosita mundur beberapa langkah. "Kenapa pemilik mansion ini harus memelihara binatang buas seperti itu?"
"Agar orang-orang sok tahu dan ingin tahu seperti kau tidak selamat!" ketus Walter lagi.
Rosita kali ini terlihat tidak terima. Ia melipat kedua tangannya dan menatap wajah Walter. "Anda yang membawa saya ke mari. Tentu saja ini semua salah anda. Saya hanya ingin pulang. Tuan, tolong beri tahu saya di mana jalan keluarnya?"
"Jauh. Karena sekarang kita ada di bagian belakang mansion. Itu berarti, butuh beberapa kilometer lagi untuk tiba di gerbang depan," sahut Walter dengan santainya.
Rosita menggeleng pelan. "Saya tidak percaya." Ia memandang pintu-pintu kamar pekerja yang berbaris rapi di sana. "Sepertinya jalan keluarnya ada di sekitar sini."
"Dia bahkan lebih merepotkan jika dibandingkan Nona Lara," umpat Walter.
Rosita memperhatikan pintu cokelat yang tinggi. Letaknya di ujung kamar pekerja. Rosita merasa sangat yakin kalau pintu itu adalah pintu keluar. Tidak harus keluar dari pintu depan. Keluar dari pintu belakangpun bagi Rosita tidak jadi masalah. Yang terpenting dia bisa keluar.
Rosita memegang handle pintu tersebut. Namun, ia tidak berhasil membukanya karena seseorang telah mengunci pintu terbuka dari luar sana.
"Tidak sembarang orang bisa keluar dari mansion ini. Kenapa kau keras kepala sekali!" ujar Walter.
__ADS_1
"Tuan, saya mau pulang."
"Aku akan mengantarkanmu besok. Malam ini ada kerjaan yang harus aku selesaikan. Kembali ke kamarmu atau kau akan benar-benar bertemu singa!" ancam Walter dengan ekspresi yang menyakinkan.
"Tapi, Tuan-" Rosita menahan kalimatnya ketika seorang pria berbadan tegap dan berwajah sangat seram muncul. Wanita itu langsung ketakutan dan berlari mendekati Walter.
Pria berbadan tegap itu melirik Rosita sejenak sebelum menunduk di depan Walter. "Semua sudah siap, Bos."
Walter mengangguk. Ia memandang Rosita yang masih bersembunyi di belakang tubuhnya. "Ikuti jalan ini. Kau tidak akan tersesat. Ingat! Jangan telusuri mansion ini jika kau tidak mau celaka!"
"Baiklah." Rosita berjalan lebih dulu mengikuti jalan yang tadi sempat dia lalui. Walter memandang Rosita sejenak sebelum menatap bawahannya.
"Apa Bos Fabio juga sudah siap?"
"Bos Fabio meminta kita pergi duluan, Bos," jawabnya.
Walter mengeluarkan senjata api yang ia bawa dan memeriksa pelurunya. "Ayo berangkat! Semakin cepat semakin baik!"
__ADS_1