Suamiku Pinky Boy

Suamiku Pinky Boy
SPB. Bab 29


__ADS_3

Walter melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah sakit tempat Dokter Alfred berada. Jaraknya memang tidak terlalu jauh. Namun Walter tidak bisa tiba lebih cepat karena di tengah jalan ada karnaval yang membuat semua orang memenuhi jalan.


Walter rasanya sangat geram melihat segerombolan orang menghalangi jalannya. Ingin sekali dia menabrak semua orang agar bisa tiba di rumah sakit. Dia tidak memiliki banyak waktu. Walter ingin segera menemui Dokter Alfred sebelum kembali lagi ke tempat Rosita berada.


Suara ketukan di jendela mobil membuat Walter memandang ke samping. Seorang anak kecil menawarkan bunga lili kepada Walter. Awalnya Walter sangat tidak tertarik. Bahkan mengabaikan anak kecil itu begitu saja. Tetapi, ketika melihat anak kecil itu berdiri dengan tongkat, dia menjadi kasihan.


Walter membuka jendela mobilnya dan menatap anak kecil yang kini tersenyum kepadanya. "Apa yang kau inginkan?"


Anak kecil itu menyodorkan bunga lili yang ia bawa dan memberikannya kepada Walter. Walter menerimanya dan mencari uang untuk membayar. Ketika dia memandang keluar lagi dengan uang di tangannya, anak kecil itu telah hilang. Walter tidak dapat menemukannya karena di sana banyak sekali kerumunan orang.


"Kemana dia?" ujar Walter. Dia memandang bunga lili yang masih segar sebelum meletakkannya di dashboard mobil.


Pria itu mengambil ponselnya untuk menghubungi pasukan Black Dragon. Walter ingin tahu, berapa kilometer lagi jarak yang harus mereka tempuh. Jika hanya beberapa kilometer saja, Walter akan memutuskan untuk turun dan berlari menuju ke rumah sakit.


"Dimana rumah sakitnya?"


"Di depan kerumunan, Bos. Saya tidak tahu kalau akan ada acara di jalan ini. Sebenarnya ada jalan lain yang bisa kita gunakan untuk menuju ke rumah sakit."


Walter mematikan panggilan telepon itu. "Tidak berguna!" umpatnya kesal. Tanpa pikir-pikir lagi, Walter turun dari mobil. Membawa senjata dan beberapa barang penting miliknya. Dia memandang ke depan sebelum memakai topi dan kaca mata hitam. Pria itu berjalan dengan kepala menunduk menembus kerumunan orang.

__ADS_1


Tiba-tiba ada anak kecil yang memegang tangannya dan menuntutnya menuju ke jalan yang tidak terlalu ramai. Anak kecil itu adalah anak kecil yang menawarkan bunga tadi. Walter mengikuti arah yang di tunjuk anak kecil itu tanpa protes. Setelah tiba di lokasi yang lapang, Walter memandang anak kecil itu sambil berjongkok.


"Siapa kau? Apa kau membutuhkan bantuanku?" tawar Walter. Anak kecil itu mengeryitkan dengan wajah bingung. Ternyata dia tidak mengerti bahasa yang digunakan Walter. Walter menghela napas ketika anak kecil itu tidak menjawab.


"Baiklah, aku anggap kau baik-baik saja. Tolong bantu aku. Dimana letak rumah sakit yang ada di dekat bandara? Aku ingin ke sana."


Anak kecil itu tersenyum. Dia menunjuk sebuah gedung yang terlihat ujungnya dari posisi mereka berdiri. Walter tersenyum. Pria itu mengacak rambut anak kecil itu sebelum berlari. Dia tidak lagi mempedulikan bagaimana nasip anak itu karena dia hanya ingin segera tiba di rumah sakit.


Tidak sampai tujuh menit, Walter telah tiba di rumah sakit. Pria itu berjalan menuju ke tempat Dokter Alfred dan istrinya berada. Pria itu keluar dari lift ketika sudah tiba di lantai yang di maksud.


"Ruangannya ada di sana." Walter segera masuk ke dalam.


Dokter dan suster yang juga ada di ruangan itu memandang Walter dan mengucapkan bela sungkawa. Mereka tahu kalau Walter bagian dari keluarga pasien yang telah tiada.


"Apa yang terjadi?" ucap Walter dengan nada pelan. Sangat pelan sampai-sampai yang mendengarnya hanya pengawal yang kini berdiri di samping Walter.


"Nona Ines tidak bisa diselamatkan, Tuan. Tusukan itu mengenai organ vitalnya," bisik sang pengawal agar Dokter Alfred tidak mendengar.


"Bagaimana dengan Nona Lara?" Walter tahu, segala sesuatu yang berhubungan dengan Dokter Alfred pasti juga berhubungan dengan Lara. Wanita itu akan marah besar jika masalah sepenting ini tidak diberi tahu.

__ADS_1


"Bos Fabio tidak bisa dihubungi, Bos," jawabnya.


Walter sebelum ingin segera mengambil ponselnya dan mencoba untuk menghubungi Fabio langsung. Namun, langkahnya terhenti ketika Dokter Alfred mengangkat kepalanya dan berdiri. Pria itu berjalan mendekati Walter sambil sesekali menyeka air matanya yang terus saja menetes tanpa permisi.


"Mereka membunuh istriku. Mereka. Orang yang sama dengan orang yang pernah menculik Rosita," jelas Dokter Alfred.


Walter diam sejenak sebelum memeluk Dokter Alfred. Dia tahu ini sangat menyakitkan bagi Dokter Alfred. Pernikahannya dengan istri belum lama. Bahkan sempat dikabarkan kalau wanita itu menunjukkan tanda-tanda hamil. Walter merasa bersalah. Ini semua karena dia! Kalau saja dia tidak sampai keracunan. Rosita dan istri dokter Alfred tidak akan celaka sampai seperti ini.


"Maafkan saya," ucap Walter penuh kesedihan. Sebenarnya dia juga ingin menangis.


Namun, entah kenapa air matanya tidak bisa keluar. Walter kaget bukan main hingga akhirnya dendam itu membuatnya menjadi marah. Walter tidak suka meratapi kesedihan. Satu-satunya tindakan yang ingin segera ia lakukan adalah mendatangi sumber masalah dan memberi pelajaran yang setimpal kepada mereka.


Dokter Alfred melepas pelukannya. "Kalau saja Ines tidak berdiri di hadapanku, mungkin saat ini aku yang tidur di sana. Dia yang berdiri di sini. Aku sangat menyayanginya. Apa yang harus aku lakukan jika dia sudah tidak ada lagi? Selama ini aku belum memberikan kebahagiaan yang sesuai dengan apa yang dia inginkan. Aku sering meninggalkannya pergi. Sekarang dia marah dan pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya. Katakan padaku. Bagaimana caranya menghidupkan orang yang sudah tiada? Selama ini aku menyelamatkan ratusan nyawa. Kenapa saat istriku terluka, aku gagal menyelamatkan nyawanya? Kenapa harus seperti ini, Walter? Kenapa!" teriak Dokter Alfred yang sudah di rundung emosi.


Kehilangan memang hal yang sangat menyakitkan. Apa lagi jika kehilangan orang yang sangat kita cintai secara mendadak seperti yang sekarang dirasakan Doker Alfred. Entah itu wanita ataupun pria. Pasti akan meneteskan air mata jika orang yang dia cintai pergi untuk selama-lamanya. Yang tertinggal hanya rasa penyesalan yang tidak tahu kapan akan sembuh.


"Pergilah. Bawa kabar kematian pria itu kepadaku! Aku ingin dia mati dengan cara di siksa. Lakukan semua ini untukku. Hancurkan hidupnya. Jika dia memiliki keluarga, habisi semuanya tanpa tersisa!" pinta dokter Alfred dengan sorot mata penuh dendam.


"Aku akan membalas perbuatannya. Aku janji tidak akan pulang ke mansion sebelum aku berhasil mengalahkannya. Tolong jaga Rosita selama aku pergi mencarinya."

__ADS_1


Dokter Alfred mengangguk setuju. Dia memandang lagi jenazah istrinya yang tidak akan pernah bangun untuk selamanya.


__ADS_2