
Rosita menyisir rambutnya sambil memandang ke cermin. Wanita itu masih belum tenang. Debaran jantungnya menjadi tidak karuan. Rosita tahu untuk menceritakan masalah yang terjadi. Tetapi dia tidak mau masalah ini berlarut-larut. Dia ingin segera menemukan kebenaranya.
"Pibi, apa ada masalah?" Walter berjalan mendekati Rosita. Pria itu berdiri di belakang Rosita dan memandang wajah Rosita dari cermin. "Apa yang kau pikirkan? Apa ada yang kau sembunyikan dariku?"
Rosita menggeleng dan berusaha mengukir senyuman manis. "Aku baik-baik saja. Mungkin karena aku kelelahan jadi terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu."
Walter menaikan satu alisnya. Dia memaksa Rosita berdiri agar bisa menatap mata wanita itu secara langsung.
"Kak, ada apa? Kenapa kak Walter memaksaku berdiri? Aku belum selesai menyisir rambutku." Rosita seperti menghindari tatapan Walter.
"Katakan saja. Kita akan mencari solusinya bersama-sama. Tidak perlu ada rahasia lagi di antara kita." Walter mengusap pipi Rosita. Pria itu mendekati leher Rosita sebelum mengecupnya dengan penuh godaan. Padahal niat awalnya hanya ingin interogasi. Namun, entah kenapa melihat leher jenjang istrinya lagi-lagi membuat pertahanannya hancur.
Rosita memejamkan matanya mendapat godaan dari bibir Walter. Walau begitu, dia tetap ingin menyelesaikan masalah ini. "Kak, apa kakak pernah membunuh seseorang?"
Walter menahan gerakannya. Pertanyaan Rosida adalah pertanyaan yang tidak harus di jawab. Seharusnya Rosita sendiri tahu. Bahkan Walter sudah sering membunuh di depan mata Rosita. Lalu, untuk apa lagi wanita itu bertanya?
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang ingin kau tanyakan, Pibi?"
Rosita menghela napas panjang. Dia memandang ke samping untuk beberapa saat sebelum menatap wajah Walter.
"Kak Mesy bilang, Kak Walter adalah orang yang sudah menyebabkan kedua orang tua kami meninggal. Apakah itu benar?"
Walter melebarkan kedua matanya tidak percaya. Memang selama ini dia suka membunuh siapapun yang menurutnya tidak pantas untuk hidup. Entah itu karena membahayakan nyawa Fabio. Atau membahayakan dirinya sendiri. Selama orang itu melakukan kesalahan yang tidak termaafkan lagi, maka Walter akan langsung menghabisinya. Namun, apa yang harus ia lakukan jika salah satu korbannya adalah orang tua istrinya sendiri?
"Siapa nama kedua orang tuamu, Pibi?"
Rosita merasa semakin sesak ketika ingin menyebutkan nama ayah kandungnya. Rasanya ini adalah momen yang menyangkut masa depan mereka berdua.
Walter mengeryitkan dahinya. Bukan ingin menghindar, tetapi dia tidak pernah berurusan dengan pria bernama Louis.
"Pibi, kau percaya padaku?"
__ADS_1
Rosita mengangguk. "Aku percaya pada Kak Walter. Maka dari itu, jangan pernah rusak kepercayaanku, Kak."
"Aku tidak membunuh bahkan tidak pernah terlibat dengan kematian orang tuamu. Pibi, kau harus tahu satu hal. Menghilangkan nyawa seseorang bukan sesuatu yang mudah. Aku tidak sembarang membunuh. Bagaimana bisa kakakmu menuduhku seperti ini? Apa dia tidak suka dengan pernikahan kita?"
Rosita diam sejenak. Dia sendiri tidak tahu harus jawab apa. Sejak dulu hubungannya dengan Mesy memang tidak pernah baik. Sampai-sampai sulit bagi Rosita untuk mempercayai apa yang dikatakan oleh Mesy.
"Dia memintaku untuk melakukan sesuatu. Sepertinya dia tidak menyukai kak Walter. Dia memiliki tujuan lain. Tetapi aku tidak tahu apa tujuannya."
Walter tersenyum mendengar kejujuran istrinya. Rasanya dia semakin cinta dan semakin sayang.
"Pibi, kau ingin tahu tujuan dia apa?"
Rosita mengangguk. "Bagaimana caranya?"
"Itu hal yang mudah. Aku akan memberi tahumu nanti."
__ADS_1
"Nanti? Kenapa harus nanti?"
Walter menatap Rosita dengan tatapan penuh arti. "Karena sekarang ada urusan yang jauh lebih penting."