
Walter duduk di atas tempat tidur dan memakan sarapan paginya. Sebenarnya sejak tadi dia juga sedang memikirkan Rosita. Tetapi, karena wanita itu ada di tempat yang aman. Walter tidak terlalu khawatir. Nanti, ketika tubuhnya sudah jauh lebih baik. Walter akan menemui Rosita di kamarnya. Pria itu sangat yakin, kalau Rosita tidak akan mungkin bisa kabur dari mansion. Masih sampai tengah jalan saja mungkin sudah ada yang menangkapnya dan membawanya kembali ke kamar.
Sambil mengunyah sarapan paginya, sesekali Walter terlihat berhenti seperti sedang memikirkan sesuatu. Padahal obat biusnya sudah habis dan pasien pada umumnya akan menunjukkan banyak keluhan. Tetapi, Walter berbeda. Pria itu terlihat asyik memakan sarapan paginya hingga habis tidak tersisa.
Di depan Walter ada Dokter Alfred yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Walter. Pria itu bahkan tidak pulang ke rumah karena sangat khawatir dengan keadaan Walter. Pagi ini melihat Walter sudah jauh lebih baik, Dokter Alfred berencana untuk pulang ke rumah dan beristirahat. Tetapi, bukan dokter Alfred namanya kalau dia tidak membahas masalah plaster pink yang ia temukan di lengan Walter tadi malam. Pria itu sudah menunggu-nunggu sejak tadi karena sudah tidak sabar membahas masalah plaster pink.
"Sejak kapan kau menyukai warna pink?" tanya Dokter Alfred tiba-tiba.
Sontak saja Walter tersedak mendengar pertanyaan Dokter Alfred. Padahal jelas-jelas dokter Alfred sama sekali tidak berniat mengagetkan Walter. Dia justru ingin melihat ekspresi Walter ketika marah atau sedang ketakutan.
"Apa kau bilang? Warna pink?"
"Bos, berhati-hatilah," ujar Dokter Alfred. Ia mengambil segelas air putih dan memberikannya kepada Walter. Dari ekspresi wajahnya sudah terlihat kalau dia sedang meledek Walter saat ini. Dia merasa sangat yakin kalau Walter tidak bisa banyak gerak karena luka jahit itu masih basah. Sudah pasti dia tidak akan celaka kali ini. Senjata berbahaya juga tidak ada di dekat Walter.
Walter tidak menyangka kalau Dokter Alfred akan bertanya seperti itu. Padahal selama ini Walter sangat hati-hati menyimpan jati dirinya. Jangan sampai ada orang yang tahu kalau dia penyuka warna pink. Cukup Greta yang memergokinya. Tidak boleh ada yang tahu lagi. Terutama dokter Alfred. Pria itu semakin menjadi setelah sahabatnya Lara menjadi istri Fabio. Tidak ada rasa takutnya lagi di mansion itu. Jangankan meledek dan memarahi Walter. Memarahi Fabio saja dia berani. Statusnya di mata Lara sudah seperti saudara kandung.
"Apa maksud Anda, dokter Alfred yang terhormat!" sahut Walter dengan nada penuh penekanan. Yang memang menunjukkan kalau dia sedang menahan emosi. "Warna pink apa? Saya sama sekali tidak mengerti." Tidak mau kelihatan sedang gugup, Walter memalingkan wajahnya memandang ke samping.
"Saya menemukan plaster warna pink di lengan Anda yang tertembak. Di mana Anda membeli plaster imut seperti itu, Bos?"
"Itu milik Rosita. Darahnya mengalir dengan deras, jadi mau tidak mau aku membiarkan Rosita melekatkan benda jelek itu di lenganku?" sahut Walter asal saja.
"Walau warnanya warna pink tetap tidak jadi masalah?"
__ADS_1
"Saya melihat fungsinya bukan warnanya!" ketus Walter. Sepertinya jika Dokter Alfred terus saja melanjutkan ledekan ini, Walter akan kembali kritis karena luka operasinya koyak karena emosi.
"Apa anda sudah memeriksa Rosita pagi ini? Apa alerginya sudah benar-benar sembuh?" tanya Walter untuk mengalihkan topik plaster warna pink.
Dokter Alfred terdiam. Dia kembali ingat dengan Rosita. "Oke, maafkan aku. Aku belum sempat menemui ...." Dokter Alfred menahan kalimatnya. "Rosita. Sepertinya dia cocok untuk dijadikan pelayan pribadi. Ehm, maksudku mengurus anda selama luka di perut anda basah. Satu atau dua hari saja. Tapi, kalau anda suka di layani olehnya. Anda boleh nambah sampai satu minggu atau satu bulan."
Walter mendorong piring yang berisi sarapan pagi. "Apa anda tidak ada kerjaan lain, Dok?"
"Banyak!" Dokter Alfred mengambil tas medis miliknya. Ia memandang pengawal yang masuk ke dalam kamar. Dokter Alfred merasa tidak ada urusan lagi di sana jadi memilih untuk segera pergi setelah berpamitan. Emosi Walter juga sudah mulai sulit untuk dikendalikan.
"Bos, Nona Rosita ingin bertemu dengan anda," ucap Pengawal tersebut.
"Dimana dia?" sahut Dokter Alfred. Ia tidak jadi-jadi pulang karena terlalu ingin tahu dengan urusan pribadi Walter.
"Nona Rosita ada di bawah, Dok," sahut pengawal tersebut. Dia juga tahu kalau Dokter Alfred memiliki posisi yang spesial di mansion itu.
Walter menggeram. Rahangnya sampai merah. "Bawa dia ke mari! Dan untuk anda, Dok. Anda tahu kan di mana pintu keluarnya?"
Dokter Alfred tersenyum. "Selamat pagi, Bos. Semoga cepet sembuh."
Mungkin kalau pria yang ada di atas tempat tidur itu Fabio, Dokter Alfred tidak separah itu meledeknya. Masih ada rasa segan yang membuatnya takut. Tapi, kalau sama Walter. Rasanya pria itu sudah seperti sosok saudara kandung bagi Dokter Alfred. Sosok adik yang ingin ia ganggu setiap detiknya. Di tambah lagi Walter orangnya terlalu kaku. Dokter Alfred semakin suka mengganggu Walter.
Setelah dokter Alfred menghilang di balik pintu, Walter memandang pengawal yang masih berdiri beberapa meter dari ranjang. "Singkirkan benda ini," perintah Walter sambil menunjuk piring dan gelas kotor yang berserak di hadapannya.
__ADS_1
"Baik, Bos." Pengawal itu segera mendekat.
Walter berusaha menurunkan kedua kakinya. Pengawal itu mulai khawatir karena informasi yang ia terima. Dokter bedah bilang kalau Walter tidak boleh turun dari tempat tidur dulu.
"Anda mau ke mana, Bos?"
"Mandi!" Sepertinya Walter tidak mau bertemu Rosita dalam keadaan acak-acakan seperti itu.
"Bos, anda tidak boleh turun dari tempat tidur. Saya akan meminta pelayan pria untuk membersihkan tubuh anda," ucap pengawal sambil berusaha menahan kaki Walter agar tidak turun. Seumur-umur, ini pertama kalinya pengawal itu berani memegang kaki Walter.
"Aku harus ke kamar mandi!" ketus Walter yang memang sangat keras kepala.
"Tapi, Bos."
Pengawal itu terdiam minat kemeja putih yang dikenakan Walter berdarah. Dia panik dan segera berlari keluar kamar. Berharap Dokter Alfred belum jauh. Sedangkan Walter yang bingung hanya diam memandang pintu. Karena masih belum sadar dengan keadaan dirinya sendiri, pria itu kembali melanjutkan niatnya untuk ke kamar mandi.
Saat pertama kali berdiri, Walter merasa pusing. Belum pernah keadaannya selemah ini. Memang pria itu harus banyak istirahat. Dia kehilangan banyak darah bahkan sempat kritis. Walter merasa kakinya tidak bertulang. Dia ingin jatuh. Namun, sekuat tenaga ia tahan tubuhnya sendiri agar tidak jauh. Hingga akhirnya hal itu membuat pendarahan semakin parah.
"Walter! Apa yang kau lakukan!" teriak Dokter Alfred dengan wajah panik. Dia cepat-cepat menangkap tubuh Walter yang hampir terjatuh. Di bantu pengawal pria yang sudah membantunya. "Kau dilarang jalan kemanapun! Termasuk ke kamar mandi!"
"Apa yang terjadi pada tubuhku?"
Walter menyerah. Dia ikut saja ketika Dokter Alfred dan pengawalnya itu membawanya kembali ke tempat tidur.
__ADS_1
"Kau manusia! Bukan robot. Jadi, jangan pernah paksakan dirimu untuk tetap kuat!" Dokter Alfred mengeluarkan alat medisnya. Walter menunduk dan detik ini dia baru tahu kalau ada darah di perutnya.
"Oh, ****!" umpat Walter kesal.