
Pagi yang begitu indah. Sambil mengaduk gula di dalam cangkir kopi, Rosita kembali membayangkan malam indah bersama Walter tadi malam. Rasanya dia semakin tidak sabar untuk menikah. Rosita ingin tahu, seperti apa Walter setelah menikah nanti. Apa dia tetap menjadi Walter yang dingin atau dia akan berubah menjadi Walter yang manis dan menggemaskan.
Mesy yang baru saja keluar dari kamar mandi mengeryitkan dahi melihat adik kandungnya tersenyum sendiri seperti orang gila. Wanita itu melangkah ke meja rias untuk menata rambutnya yang setengah basah sambil sesekali melirik ke arah Rosita.
"Rosi, sebenarnya apa pekerjaanmu? Kenapa kau melarangku keluar dari kamar dan kau sendiri juga tidak keluar untuk bekerja," tanya Mesy dengan nada yang tinggi agar Rosita mendengar.
"Kak, ada hal penting yang ingin aku sampaikan. Tetapi, sebaiknya kita sarapan dulu," jawab Rosita. Wanita itu telah menyajikan sarapan pagi untuk Mesy dan dirinya sendiri. Rosita tidak mau nantinya Mesy sampai bertemu dengan Lara. Rencana Rosita bisa berantakan jika sampai mereka bertemu. Lara pasti akan menjelaskan semua yang terjadi dan itu hanya akan membuat Mesy kecewa.
"Baiklah. Kakak juga ingin mengatakan sesuatu padamu. Tetapi, setelah sarapan," sahut Mesy. Wanita itu duduk di salah satu sofa dan memilih makanan yang akan dia lahap untuk mengisi perutnya pagi hari ini.
Rosita juga mengambil makanan yang akan ia jadikan menu sarapan paginya. Sambil melahap makanannya, wanita itu kembali merangkai kata yang pas untuk disampaikan kepada Mesy nantinya.
Tidak perlu waktu lama, mereka berdua telah selesai sarapan. Rosita meminta pelayan untuk membawakan piring bekas sarapan mereka ke dapur. Sampai situ Mesy sudah mulai curiga. Hanya saja dia ingin menunggu sampai adiknya bicara apa yang sebenarnya terjadi.
"Kak, tadi kakak bilang ada yang ingin kakak katakan. Sebenarnya apa yang ingin kakak katakan?" Rosita meminta Mesy yang lebih dulu bercerita. Dia juga ingin mempersiapkan diri lagi sebelum mengatakan semua yang terjadi.
"Kakak sudah tidak ingat lagi," jawab Mesy dengan senyuman. Tiba-tiba saja wanita itu mengurungkan niatnya untuk mengatakan apa yang ingin dia sampaikan tadi.
Rosita mengeryitkan dahinya. Tidak mau memaksa, wanita itu segera mencari posisi untuk bercerita dari hati ke hati. "Kak, sebelumnya aku ingin kakak janji lebih dulu. Kalau kakak tidak akan marah setelah mendengar ceritaku pagi ini."
Mesy mengangguk sambil tersenyum. "Baiklah. Cepat katakan. Kakak sudah tidak sabar mendengarkannya."
__ADS_1
Rosita mengatur napasnya lagi sebelum bicara. Dia memandang ke jendela beberapa detik. "Saat kakak pergi, aku menggunakan uang yang aku miliki untuk membeli sebuah apartemen. Tadinya aku pikir kakak akan bahagia bersama keluarga kakak yang baru di sana. Jadi, aku tidak pernah memiliki niat untuk mengganggu kakak. Sebelumnya, aku mau minta maaf kak. Kalau saja saat itu aku tidak berpikir kalau kakak baik-baik saja, mungkin sejak kemarin kita sudah bertemu dan kakak tidak mungkin sampai menderita seperti ini."
Mesy tersenyum mendengarnya. Wanita itu menghapus air mata yang menetes di sudut matanya. "Rosi, kau adikku. Sampai kapanpun kau tetap adikku. Kita keluarga. Apapun yang terjadi, kita tetap keluarga. Masalah yang terjadi pada hidupku, jangan kau jadikan beban. Aku sudah melupakannya sejak lama."
"Terima kasih, Kak. Aku senang mendengarnya." Rosita mengatur napasnya lagi. "Kak, ada kabar baik lagi yang ingin aku sampaikan sama kakak."
"Kabar baik?" Mesy terlihat sangat antusias. "Cepat katakan aku ingin segera mendengarnya."
"Sebenarnya ...." Rosita menahan kalimatnya beberapa detik. "Aku dan Tuan Walter sudah tunangan dan dalam waktu dekat ini kami akan menikah."
...***...
DUARRR
"Yes, akhirnya." Lara memandang Fabio yang berdiri di sampingnya. Dia menyikut lengan suaminya sambil mengedipkan mata. "Bagaimana bos?"
Fabio tertawa geli mendengarnya. Pria itu menarik pinggang Lara sebelum mengecup bibir wanita itu untuk beberapa saat. Lara membalas kecupan Fabio. Mereka seperti tidak ingat kalau tidak hanya mereka berdua di sana. ada Walter dan juga beberapa pelayan yang mendampingi mereka selama Lara latihan menembak.
"Cukup. Aku malu," bisik Lara. "Kita lanjutkan di kamar saja," bisiknya dengan mesra.
Fabio tersenyum kecil. Pria itu memandang Walter yang sudah memalingkan wajahnya ke arah lain. "Sebentar lagi dia akan menikah. Di juga harus tahu bagaimana caranya membahagiakan istrinya," ucap Fabio dengan senyuman penuh arti.
__ADS_1
Walter mengeryitkan dahinya mendengar ucapan Fabio. Namun, pria itu memang sebentar lagi akan menikah. Dia bisa merasakan semua yang pernah dilakukan Fabio dan Lara.
"Apa kau tidak lelah? Kita sambung saja besok, Chubby," bujuk Fabio ketika Lara lagi-lagi memilih pistol yang akan ia gunakan untuk menembak.
"Tidak. Aku mau sekarang juga. Aku belum capek," tolak Lara. Dia maju ke depan dan mulai membidik sasaran dengan fokus. Fabio memandang Walter dan berdiri di samping pria itu.
"Bos, saya membawa kakak Rosita ke mansion ini. Maafkan saya karena tidak izin terlebih dahulu kepada anda," ucap Walter dengan sopan.
"Ini mansionmu juga. Aku tidak pernah marah dengan keputusan yang kau ambil. Siapapun yang kau bawa, selama dia bisa memberi kenyamanan kepada semua orang. Bagiku dia tidak akan jadi masalah."
"Terima kasih, Bos."
"Walter, apa kau menganggap mansion ini sebagai rumahmu?"
"Ya, bos," jawab Walter cepat.
"Lalu, untuk apa kau membeli rumah baru? Apa mansion ini terlalu kecil untuk kita berdua?"
Walter terdiam mendengar pertanyaan Fabio. Pria itu tidak menyangka kalau Fabio sudah tahu rumah baru yang ia beli untuk Rosita. Padahal baru semalam. Rasanya Walter mulai berada bersalah. Dia sendiri tidak tahu harus jawab apa sekarang. Walter tidak mau membuat Fabio tersinggung.
"Jika rumah itu kau jadikan sebagai tempat bukan madu, aku tidak masalah." Fabio memandang ke arah Walter lagi. "Tetapi, jika selamanya kau jadikan tempat tinggal. Aku tidak setuju. Kau sudah aku anggap sebagai adikku sendiri. Tinggallah di mansion ini sampai tua agar kau selalu aman."
__ADS_1
Fabio melangkah maju mendekati Lara. Pria itu merasa sudah cukup bicara dengan Walter. Sedangkan Walter sendiri hanya diam sambil memandang Lara dan Fabio yang terlihat bercanda ria di depannya.
"Aku hanya ingin membahagiakan wanita yang aku cintai, Bos. Sepertinya yang sekarang anda lakukan terhadap Nyonya Lara."