Suamiku Pinky Boy

Suamiku Pinky Boy
SPB. Bab 35


__ADS_3

Ketika Walter ingin melangkah maju mengikuti pria tersebut, Fabio menahan pundak Walter. Pria itu memperhatikan anak buahnya yang sudah tidak ada. Ya, tadi mereka masuk ke dalam rumah itu ramai-ramai. Sekarang, dimana mereka semua?


“Kau meminta mereka bersembunyi?” tanya Fabio untuk kembali memastikan. Karena memang sejak naik ke lantai atas, Fabio tidak lagi fokus dengan bawahannya.


"Saya tidak memberi perintah untuk bersembunyi, Bos. Bahkan saya meminta mereka untuk tidak jauh-jauh dari anda," jawab Walter apa adanya. "Kemana mereka? Ini sangat aneh. Mereka tidak akan berani meninggalkan kami seperti ini!"


Walter mengeryitkan dahinya sembari memandang keadaan sekitar. Pria itu juga baru sadar kalau bawahannya yang seharusnya ada di belakang mereka dan melindungi mereka kini telah terganti anak buah musuh. Bahkan jumlahnya semakin banyak. Mereka seperti sudah dikepung.


Seorang wanita berjalan mendekati Fabio dan Walter. Wanita itu membawa dua gelas air dan ingin memberikannya kepada Fabio dan juga Walter. Fabio menerima gelas berisi minuman tersebut. Ketika si wanita mau pergi, Fabio menarik wanita itu dan meminumkan minuman berwarna kristal itu kepada wanita tersebut secara paksa. Dengan kasar Fabio melempar wanita itu hingga terjungkal di lantai.


Walter mengeluarkan dua pistol. Jika mereka tidak memiliki anggota lagi, setidaknya dua pistol itu bisa menyelamatkan nyawa mereka. Wanita itu langsung pingsan setelah meneguk minuman tersebut.


Pria yang tadinya ingin bertarung dengan Walter juga sudah menghilang. Sepertinya ini memang bagian dari rencananya. Mengulur waktu agar Fabio dan Walter tidak berhasil menangkapnya.


“SIAL! Kita dijebak!” umpat Fabio.


Beruntung memang Fabio dan Walter sadar di awal. Namun, saat ini mereka harus benar-benar berjuang keras untuk mengalahkan musuh yang jumlahnya puluhan itu.


“Anda kejar pria itu, Bos. Saya akan mengamankan mereka di sini,” ujar Walter. Dia lebih baik menghadapi puluhan pria bersenjata daripada harus mengejar satu pria licik seperti itu. Walau ahli dalam bela diri, tapi Walter lemah dalam hal analisa.

__ADS_1


Fabio menembak satu persatu musuh yang menghalangi di depan sebelum mengejarnya. Ia sampai harus melompat dari lantai atas ketika melihat musuhnya turun menggunakan tangga.


Walter menarik satu tubuh musuh yang sudah tidak bernyawa dan menggunakannya sebagai tameng. Pria itu menembak lagi musuhnya dengan senjata api yang ia miliki. Setiap kali ada musuh yang ingin turun tangga atau menembak dari atas. Walter akan mengincarnya dan menghabisi nyawanya lebih utama.


Tetapi, sepertinya musuh mereka memang tidak ada habisnya. Walter ingat bom yang mereka siapkan dan belum diledakkan. Pria itu berlari menuju ke jendela. Ia harus membawa musuhnya ke sana agar lebih mudah menghabisinya dalam jumlah yang banyak.


Di sisi lain, Fabio segera masuk ke dalam mobil ketika orang yang ia incar masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pria itu tidak lagi mempedulikan keselamatan nyawanya. Jika sudah bertarung seperti ini, Fabio menjadi fokus dan lupa segalanya.


Mobil melaju dan memasuki jalanan ramai. Fabio sedikit kelimpungan ketika hampir saja dia kehilangan jejak. Namun, takdir masih memihak padanya. Ketika mobil itu memasuki wilayan lapangan golf, Fabio bisa melihatnya dan mengikutinya.


“Apa dia ingin menjebakku lagi?” gumam Fabio di dalam hati.


Fabio juga segera memberhentikan mobilnya dan turun dari mobil. Pria itu tetap harus waspada karena tempat yang kini ia datangi tempat yang begitu asing. Fabio tidak tahu apa yang ia pijak dan apa yang akan ia hirup.


“Kalau seperti ini adil bukan? Satu lawan satu,” ujar pria itu dengan senyuman penuh arti. Dia mematikan rokoknya dan melangkah ke depan. “Saya hanya sebagai juri saja,” ujarnya dengan tawa meledek.


Fabio memandang sosok yang baru saja keluar dari balik pohon. Sosok itu sangat ia kenali. Fabio sangat tidak percaya kalau pria yang sama akan bertemu di sini. Bahkan terlibat dalam kematian istri Dokter Alfred.


“Alex Moritz?” ujar Fabio dengan wajah kaget.

__ADS_1


“Wah, sepertinya kalian sudah saling kenal. Baguslah. Cepat ke lapangan dan bertarunglah. Saling membunuh lebih baik!” ucap pria itu penuh dendam.


Alex menatap Fabio dengan tatapan tidak terbaca. Pria itu berdiri di sana dan membuang senjata yang ia miliki. Fabio yang memang selalu emosi melihat wajah Alex, dengan penuh semangat maju untuk bertarung. Jika kemarin-kemarin dia membiarkan Alex tetap hidup, kali ini dia akan membuat Alex tidak terselamatkan.


Alex memandang ke samping sejenak sebelum mengukir senyuman. “Lara dalam bahaya. Aku ada di sini untuk menyelamatkannya. Jadi, jangan pernah berpikir aku berdiri di sini karena ingin menjadi musuhmu, Fabio Cassano!”


“Lara?” Fabio kaget mendengar nama istrinya. Ia bisa menjamin kalau Lara ada di tempat yang aman saat ini. Memang hanya di gedung hotel, tetapi keamanan di sana bisa di jamin.


“Anda berpikir saya bercanda?” ujar Alex. “Saya berdiri di sini karena saya ingin menyelamatkan wanita yang saya cintai dan menghabisi pria yang sudah menikah dengan pujaan hati saya.”


“Oke, pertarungan di mulai!” ujar pria itu penuh semangat. “Penawar racunnya ada di sini. Hanya pemenang yang bisa mendapatkannya,” ujar pria tersebut. Sepertinya dia sudah tidak sabar untuk melihat Fabio dan Alex bertarung siang itu.


“Apa yang terjadi dengan Lara?” gumam Fabio khawatir. “Penawar apa maksudnya? Apa dia sudah meracuni Lara? Aku tidak memiliki waktu untuk menghubungi Lara. Sebaiknya aku selesaikan pertarungan ini dan segera menghubungi Lara.”


Alex melayangkan tangannya yang terkepal dengan kuat ke arah wajah Fabio. Karena Fabio tidak konsentrasi, pukulan itu dengan mudahnya mendarat di rahang Fabio. Alex tersenyum melihat Fabio kalah di awal.


“Rencanaku berhasil. Sekarang dia tidak akan konsentrasi karena memikirkan Lara. Aku akan memanfaatkan situasi ini untuk mengalahkannya. Menyingkirkan namanya dari dunia ini,” gumam Alex di dalam hati.


Sebenarnya cerita yang baru saja ia katakan bahwa Lara dalam bahaya hanya bualan semata. Dia sudah kerja sama dengan pria bernama Robert tersebut. Mereka merekayasa seolah Lara dalam bahaya agar Fabio tidak bisa berpikir jernih. Masalah bawahan Fabio yang hilang, itu semua juga bagian dari rencana Alex. Dia menyebar racun di udara. Hanya orang-orang yang sudah meminum penawarnya yang tidak akan pingsan. Fabio dan Walter berhasil lolos karena mereka berada di atas dan tidak sempat menghirup racun yang di sebar di udara.

__ADS_1


__ADS_2