
Walter menekan bom yang terakhir. Kali ini dia merasa sangat yakin kalau musuh sudah habis. Kalaupun tersisa, itu hanya satu dua dan bisa dengan mudah ia kalahkan. Walau di lubuk hatinya yang paling dalam masih kepikiran anak buahnya yang menghilang tanpa kabar.
"Rumah ini memang sangat besar," ujar Walter sambil berlari cepat.
Ketika Walter berlari menuju sebuah lorong yang ada di halaman belakang, Walter bertemu dengan nenek Maria. Wanita itu duduk dalam keadaan terikat. Walter menahan gerakannya dan memandang nenek itu dengan saksama. Tentu saja dia waspada. Saat ini dia ada di markas musuh. Siapapun itu, entah anak-anak ataupun nenek-nenek. Tetap harus diwaspadai agar tidak terjebak untuk yang kesekian kalinya.
“Tolong saya,” ujar nenek Maria. Wanita tua itu merasa kesakitan karena kaki dan tangannya diikat dengan begitu kencang. Tidak diberi ruang untuk bergerak. Ia hanya dimanfaatkan untuk membuat ramuan racun dan penawarnya. Setelah selesai membuatnya, dia akan kembali diikat.
“Maaf, saya tidak bisa menolong anda,” ujar Walter yang saat itu berniat untuk segera berlari.
“Anda orang baik. Saya akan memberi satu informasi untuk menjadi bahan pertimbangan,” teriak nenek itu berharap Walter mau bernegosiasi dengannya.
__ADS_1
“Apa yang ingin anda tawarkan?” tanya Walter. Dia ingin segera pergi agar bisa menolong Fabio.
“Mereka membuat racun dan penawarnya. Racunnya di kirim ke seorang wanita bernama Lara. Racun itu cukup berbahaya karena bisa menyebabkan wanita itu tidak bisa hamil,” ujar nenek itu dengan serius.
“Nona Lara?” Walter terbelalak kaget. Pria itu segera mendekati nenek tersebut. “Dimana penawarnya?”
“Kemungkinan racun itu belum mereka berikan. Tapi, jika memang racun itu sampai terminum, berikan penawarnya. Saya menyimpan penawarnya sedikit.” Nenek itu terlihat tulus. Walter tidak memiliki alasan lagi untuk tidak menolong nenek itu. Ia segera melepas ikatan nenek itu dan membiarkannya berdiri. Nenek itu memberikan botol kecil kepada Walter. “Berikan saja satu tetes. Maka racun itu tidak akan bekerja.”
“Karena memang anda yang ditunggu-tunggu sejak kemarin. Mereka merasa gagal sudah menyekap Rosita. Jadi, mencari cara untuk mendapatkan kelemahan geng mafia bernama ….” Nenek itu seperti sedang mengingat-ngingat. “Black Black. Black apa ya,” ujar nenek itu pikun.
“Black Dragon?”
__ADS_1
“Ah, iya. Black Dragon. Darimana anda mengetahuinya?” tanya Nenek tua itu dengan wajah ling lung. Dia memang sudah menjadi pelupa sekarang. Bahkan dengan kejadian yang baru saja terjadi. "Tadi saya sempat melihat mereka menyeret orang-orang yang memiliki tato bertuliskan Black Dragon. Apa kau kenal dengan mereka?" tanya Nenek Maria dengan wajah bingung.
"Kemana mereka pergi?" Walter semakin bersemangat. Pria itu ingin tahu kemana semua anak buahnya di bawa. Apa mereka masih dalam keadaan hidup atau sudah tidak bernyawa.
"Ke arah sana. Apa kau mau nenek antar? Nenek masih sanggup berjalan jauh," tawar Nenek Maria dengan senyuman
“Tidak perlu, Nek. Terima kasih. Anda bisa pergi sesuka hati anda sekarang. Saya harus menyelesaikan masalah saya,” ujar Walter sebelum pergi. Pria itu kini berlari menuju ke lorong yang di tunjuk Nenek Maria.
Sedangkan Nenek Maria berdiri sambil menggaruk tangannya yang gatal.
“Pria itu siapa ya? Apa dia kenal dengan Rosita?” gumam Nenek itu bingung.
__ADS_1