Suamiku Pinky Boy

Suamiku Pinky Boy
SPB. Bab 71


__ADS_3

"Jadi dia melakukan semua ini karena uang?" tanya Walter sambil memandang ke depan.


"Hmm," jawab Rosita. "Aku akui kalau kehidupan kami memang tidak semewah orang-orang kaya. Tapi menurutku ini semua lebih dari cukup dibandingkan orang-orang di pinggiran jalan. Aku tidak menyangka kalau Kak Mesy bisa bersikap seperti ini. Dia memanfaatkan adiknya sendiri demi mendapatkan apa yang dia inginkan." Ada rasa kesal di hati Rosita. Dia malu memiliki kakak yang serakah seperti Mesy.


"Kau yakin dia tidak bekerja sama dengan siapapun?" Walter memandang ke arah Rosita sebelum fokus ke laju mobilnya kembali. Rasanya dia masih tidak percaya kalau Mesy hanya menginginkan uang saja.


"Dari apa yang aku tangkap, Kak Mesy memang tidak bekerja sama dengan siapapun. Semua ini murni rencana dia sendiri." Rosita merasa yakin kalau kakaknya tidak sejahat yang dipikirkan oleh Walter. Seserakahnya Mesy, wanita itu tetap kakaknya. Rosita tidak mungkin membiarkan Walter menyakiti kakaknya.


"Lalu setelah tahu apa rencananya sekarang apa yang harus kita lakukan? Dia kakak kandungmu. Aku juga tidak bisa berbuat sesuka hatiku. Bagaimanapun juga dia adalah kakak iparku." Sepertinya Walter tahu apa yang sejak tadi dipikirkan oleh istrinya.


"Untuk saat ini kita lupakan saja soal Kak Mesy. Cepat atau lambat kita pasti bisa menghadapinya," ucap Rosita sambil tersenyum. Dia memandang Walter sejenak sebelum memandang ke depan lagi. Jalan raya yang padat membuat mereka lama di jalan.


Tiba-tiba saja Rosita kepikiran akan sesuatu. Sejak naik ke mobil, suaminya tidak memberi tahu kemana mereka akan pergi. "Sekarang kita mau ke mana? Kenapa rapi sekali?" Sebenarnya suaminya itu selalu rapi. Namun, kali ini memang Walter terlihat berbeda. Pria itu terlihat lebih berkarisma dari biasanya.


"Ke bandara," jawab Walter dengan santai. "Kita akan pergi ke luar negeri hari ini."

__ADS_1


Rosita mengeryitkan dahinya. "Bandara? Untuk apa?"


"Bulan madu."


"Bukan madu? Kenapa mendadak sekali? Bukankah seharusnya kita membicarakan masalah ini sebelum berangkat?"


"Apa lagi yang harus di tunggu dan dipikirkan?" Walter mengeryitkan dahi. Dia kesal melihat Rosita yang seolah tidak setuju dengan idenya.


"Tapi aku tidak membawa apapun."


Rosita memejamkan mata sebelum menghela napas panjang. "Dia selalu saja berbuat sesuka hatinya," umpatnya di dalam hati.


...***...


Mesy menekan nomor seseorang dengan tubuh gemetar ketakutan. Wanita itu berulang kali berusaha tetap tenang. Namun dia tidak juga bisa tenang. Karena terlalu gugup sampai-sampai dia kesulitan berdiri.

__ADS_1


"Cepat angkat teleponnya," umpatnya pelan. Dia mengetuk-ngetuk meja dengan jari sambil memandang pintu dengan rasa takut. "Rosi, kau kemana!" umpat Mesy sebelum menutup teleponnya. Dia mengatur napasnya dengan tenang sekali lagi. Menghirup oksigen yang ada di depannya sebelum menekan nomor Rosita lagi.


Sekali lagi panggilan telepon itu tidak di angkat. Mesy terlihat sangat frustasi kali ini. "Kenapa dia tidak pernah ada saat aku membutuhkannya!"


Mesy menutup teleponnya dengan amarah tertahan.


Suara ketukan pintu membuat Mesy terperanjat kaget. Wanita itu segera beranjak dari sana untuk bersembunyi. Namun, dia tidak tahu harus bersembunyi dimana. Bibirnya sampai pucat karena ketakutan.


"Bagaimana ini? Aku tidak mau sampai tertangkap," gumam Mesy di dalam hati.


Tidak lama setelah suara ketukan pintu, terdengar suara pintu di dobrak secara paksa. Suara sepatu yang begitu ramai terdengar dengan jelas. Mesy kini sudah pasrah. Ia hanya bisa berjongkok di samping kursi sambil menekan nomor Rosita. Hanya adiknya yang kini ia harapkan untuk menolong nyawanya.


"Percuma saja kau bersembunyi. Kau harus ikut bersama kami." Seorang pria menghampiri Mesy yang saat itu masih menunduk ketakutan. Sebelum pria itu menariknya pergi, Mesy sempat merasa lega karena panggilan teleponnya telah di angkat oleh Rosita.


"Felix! Namanya Felix!" teriak Mesy sebelum seseorang memukulnya sampai tidak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2