Suamiku Pinky Boy

Suamiku Pinky Boy
SPB. Bab 60


__ADS_3

"Baby?" celetuk Walter tidak percaya.


Rosita mengangguk. Dia berjalan mendekati Walter dengan wajah malu-malu. Di sana hanya mereka berdua. Rosita memiliki sedikit keberanian untuk lebih dekat dengan calon suaminya itu. Kapan lagi dia memberanikan diri seperti ini. Rosita juga ingin tahu, sebenarnya Walter pria yang seperti apa jika ada di dekat wanita. Apa dia pria yang agresif? Sejauh ini Rosita memandang Walter sebagai pria dingin yang tidak memiliki perasaan.


"Bukankah itu terdengar manis? Baby? Bagaimana kalau mulai dari sekarang kita panggilan sayangnya baby saja," ucap Rosita dengan penuh harap.


Walter sepertinya kurang setuju. Dia ketua mafia yang biasa di kenal dengan kekejamannya. Bagaimana bisa dia di panggil Baby? Itu terlalu manis untuk di dengar. Entah seperti apa Dokter Alfred meledeknya nanti jika pria itu sampai tahu panggilan sayang mereka adalah baby.


"Tidak ada yang lain? Tuan misalnya," tawar Walter.


Rosita melebarkan kedua matanya mendengar tawaran Walter. Tuan bukan panggilan sayang. Melainkan sapaan untuk menghormati seseorang. Bagaimana bisa Rosita memanggil Walter dengan sebutan Tuan. Itu hanya akan membuat Rosita ingat dengan derajat yang ia miliki.

__ADS_1


"Tuan?" tanya Rosita tidak percaya.


"Apa itu jelek?" Walter membuat Rosita semakin kesal.


"Tidak. Itu panggilan sayang yang paling romantis yang pernah saya dengar, Tuan," sahut Rosita dengan tangan terlibat di depan dada. "Oh ya, apakah anda akan memanggil saya dengan sebutan nona?"


"Tidak aku akan tetap memanggilmu dengan nama Pibi."


"Itu tidak adil." Rosita memandang ke arah lain. Dia benar-benar kesal hingga tidak mau memandang wajah Walter lagi. Walter menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena bingung. Pria itu bukan tidak mau di panggil Baby. Tetapi dia belum siap. Dia butuh waktu untuk menerima sapaan semanis itu.


Rosita masih diam tidak memberikan respon apapun. Semakin Walter bersikap lembut padanya, dia semakin percaya diri untuk melanjutkan drama ini. Rosita tidak akan menyerah sampai Walter mau memanggilnya dengan sebutan baby.

__ADS_1


"Rosita ... ini tidak lucu. Kenapa kau diam saja?" umpat Walter yang mulai tidak sabar.


"Baby! Apa susahnya sih?" protes Rosita di dalam hati.


Walter menarik pinggang Rosita ketika wanita itu tidak juga mau bicara. Walter memandang wajah Rosita yang kini jaraknya sangat dekat dengannya. Pria itu mengusap lembut pipi Rosita yang mulus.


Rosita terpana dibuat Walter. Wajah tampan pria itu lagu membuat Rosita kehilangan akal. Dia seperti melayang mendapatkan sentuhan lembut dari Walter. Ingin sekali Rosita memeluk erat tubuh kekar Walter agar dia bisa merasakan hangatnya tubuh calon suaminya itu. Namun, Rosita juga masih mempertahankan gengsinya. Dia tidak akan bicara sebelum Walter memanggilnya baby!


"Kau benar-benar keras kepala." Walter melepas rangkulannya. Dia menghela napas panjang sebelum memandang wajah Rosita lagi. "Baby," ucapannya terdengar kaku dan aneh. Di tambah lagi nada bicara Walter seperti sangat jijik memanggil nama baby.


"Hei, kenapa harus seperti itu ekspresinya? Ucapkan dengan nada yang lembut dan penuh cinta!" protes Rosita. Walter memejamkan kedua matanya. Dia memandang Rosita lagi dan tersenyum. Senyuman pria itu memang sangat manis. Sayangnya, dia jarang tersenyum.

__ADS_1


"Baby, aku mencintaimu," ucap Walter dengan lembut dan penuh perasaan. Rosita melebarkan kedua matanya sebelum tertawa geli. Dia sendiri juga tidak bisa menahan tawanya mendengar Walter memanggilnya dengan sebutan baby.


Walter yang geram segera menarik pinggang Rosita dan mencium bibir wanita itu tanpa permisi. Rosita langsung terdiam dengan kedua mata melebar. Dia menahan dada Walter seperti ingin mendorongnya. Namun, sentuhan lembut itu sungguh memabukkan hingga akhirnya Rosita memilih untuk memejamkan mata dan menerima apa yang ingin dilakukan calon suaminya.


__ADS_2