
Rosita duduk di sebuah kursi yang tidak terlalu jauh dari ruang operasi. Walter harus mendapatkan tindakan operasi ulang dikarenakan luka operasinya bermasalah. Luka itu kembali terbuka hingga membuat pria itu tidak bisa menahannya dan jatuh pingsan.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Sebenarnya bisa dibilang masih sore. Namun, rasanya berada di lorong itu seperti sudah jam 3 pagi. Rasa dingin yang menyerang membuat bibir Rosita terlihat membiru.
Para pengawal segera menghubungi Dokter Alfred setelah menemukan Walter dalam keadaan pingsan. Sebenarnya bukan pingsannya Walter yang menjadi beban pikiran Rosita malam ini. Tapi, ciuman Walter.
Ya, sampai detik ini Rosita masih berpikir. Walter pingsan karena menciumnya? Atau Walter pingsan dan tanpa sengaja menciumnya. Entahlah. Hanya Walter yang bisa menjawab semua itu. Kini Rosita terlihat pasrah saja walau ciuman pertamanya harus hilang direnggut pria yang menjadi atasannya.
Rosita memiringkan kepalanya memandang lorong di sekitar ruang operasi dengan saksama. Sebenarnya tidak terlalu menyeramkan. Rumah sakit bawah tanah itu memang sesuatu yang menakjubkan. Rosita sendiri tidak menyangka kalau bisa menginjakkan kakinya di sana. Rumah sakit itu tidak ada di dalam peta yang pernah diberikan Walter. Keberadaannya seperti memang sengaja di rahasiakan.
Suara sepatu yang sangat ramai membuat Rosita miring ke kiri. Di sana dia melihat rombongan Fabio yang baru saja tiba. Rosita tidak menemukan Lara di sana. Hanya ada Fabio dan beberapa bodyguardnya di belakang. Mereka berjalan dengan langkah yang sama dan cepat. Memasang ekspresi wajah yang dingin.
Rosita memilih menunduk karena tidak berani dapat masalah. Walau begitu, Rosita bisa tahu kini rombongan yang baru lewat itu melirik ke arahnya. Selain Fabio! Memang sejak menikah, pria itu menutup matanya agar tidak memandang wanita lain.
Para bodyguard seperti bertanya-tanya. Tidak ada yang boleh berada di sana. Bahkan Lara saja belum pernah di ajak ke rumah sakit bawah tanah itu. Kenapa seorang Rosita bisa ada di sana dan diijinkan menunggu Walter?
Fabio masuk ke dalam ruang operasi sedangkan sisanya berdiri di depan pintu. Lagi-lagi mereka melirik ke arah Rosita. Namun, bertanya langsung tidak ada yang berani. Mereka tahu jika sudah sampai duduk di kursi itu, berarti Rosita bukan orang sembarangan. Padahal Rosita sendiri merasa kalau dirinya hanya butiran debu yang sama sekali tidak ada artinya.
"Tuan Walter ... kenapa harus seperti ini? Maafkan saya karena sudah membuat anda celaka," lirih Rosita. Ia mengusap wajahnya dengan tangan. Menghirup oksigen dan mengatur emosinya sendiri. Berhenti menyalahkan dirinya karena memang ini tidak sepenuhnya kesalahan dia.
Samar-samar Rosita melihat seperti sebuah kejadian. Alis wanita itu saling bertaut. Lorong itu mengingatkan sedikit peristiwa. Tetapi apa? Rosita tidak mengingatnya. Dia memegang kepalanya yang terasa sakit sebelum bersandar dan melupakan semuanya. Menghilangkan segala bayangan aneh yang selalu muncul dan mengganggu pikirannya.
"Bayangan itu lagi. Gelap dan sempit. Sebenarnya apa yang pernah terjadi? Kenapa aku merasa tidak pernah mengalaminya?" gumam Rosita di dalam hati. "Apa bayangan itu sebuah mimpi buruk?"
Rosita kembali memandang ke arah pintu ketika melihat Fabio dan Dokter Alfred keluar dari ruang operasi. Dokter Alfred masih mengenakan seragam operasi. Pria itu seperti sedang menjelaskan keadaan Walter saat ini.
"Kau yakin?" tanya Fabio dengan wajah yang serius.
"Ya. Aku yakin. Keadaan Walter tidak pernah seburuk ini. Saya kenal dia. Dia pria yang kuat. Infeksi yang terjadi juga tidak wajar," jelas Dokter Alfred.
__ADS_1
"Lalu, dimana kita bisa mendapatkan obat penawarnya?"
Dokter Alfred menggeleng. "Untuk saat ini saya belum tahu. Tapi, akan saya usahakan. Sembari menunggu hasil tes."
"Berapapun biayanya akan saya bayar. Yang penting Walter bisa sembuh."
"Saya selalu berusaha sekuat mungkin demi kesehatan dan keselamatan keluarga saya," sahut Dokter Alfred lagi. Pria itu melirik Rosita yang hanya diam kebingungan sebelum memandang Fabio lagi. "Pergilah. Temani Lara. Dia akan marah jika tahu kau pulang ke mansion."
"Aku segera terbang ke sini setelah tahu keadaan Walter. Aku sangat mengkhawatirkannya," sahut Fabio. Ia memijat pangkal hidungnya.
"Selalu ada masa dimana kita jatuh sakit. Sekuat apapun tubuh kita. Maka dari itu, aku selalu bilang untuk tidak memaksakan diri."
Fabio melirik jam di pergelangan tangannya. "Aku harus pergi."
"Hati-hati di jalan," ujar Dokter Alfred sambil menepuk pundak Fabio. Pemimpin geng Black Dragon itu pergi bersama rombongan setelah melihat keadaan Walter langsung.
"Aku curiga kalau pisau yang digunakan untuk menusuk Walter mengandung racun. Itu yang membuat Walter mengalami luka yang serius," jelas Dokter Alfred walau tanpa di tanya.
"Racun?" Rosita mengeryitkan dahinya. "Bukan karena dia banyak gerak?"
"Itu juga. Dia memang pria yang tidak bisa diam." Dokter Alfred memandang Rosita. "Apa yang terjadi? Salah satu pengawal bilang. Walter sempat marah dan memanggil anda ke kamarnya. Apa terjadi sesuatu saat itu?"
"Tuan Walter marah-marah. Aku sendiri tidak tahu kenapa dia bisa menuduhku seperti itu." Rosita cemberut membayangkan teriakan yang keluar dari mulut Walter.
"Menuduh?"
"Tuan Walter berpikir kalau aku memiliki hubungan dengan Alex Moritz. Padahal aku baru bertemu dengannya satu kali. Anehnya kenapa foto pria itu ada di dalam dompetku. Apa dia sengaja ingin memfitnahku?"
"Seharusnya Walter tahu bagaimana liciknya Alex Moritz selama ini. Aku belum pernah melihat Walter segegabah ini mengambil keputusan. Apa pria itu cemburu?" gumam Dokter Alfred di dalam hati.
__ADS_1
"Dok, apa anda bisa membantu saya?"
"Bantu apa?"
"Bersihkan nama saya. Katakan kepada Tuan Walter kalau saya tidak memiliki hubungan apapun dengan pria bernama Alex Moritz!"
"Itu masalah yang mudah. Sekarang ada masalah yang lebih sulit."
"Apa itu dok?" Rosita mengeryitkan dahinya.
"Saya butuh obat penawar untuk racun yang ada di tubuh Walter. Sepertinya saya tahu dimana letak obat penawar ini."
"Lalu, kenapa anda tidak membelinya?"
"Karena tidak mungkin di jual. Obat ini akan diberikan secara cuma-cuma kepada seorang yang membutuhkannya," sahut Dokter Alfred lagi.
"Wah, ini namanya keberuntungan?" ujar Rosita mantap. "Kenapa tidak anda minta saja? Kita sedang membutuhkannya untuk Tuan Walter."
Dokter Alfred memandang Rosita. "Tidak semudah itu. Tidak bisa di dapatkan dengan cara di paksa. Anda bisa membantu saya, Nona?"
"Bantu? Apa yang bisa saya bantu?" Rosita terlihat tidak tenang lagi.
"Bantu saya mendapatkan obat penawarnya. Mungkin anda bisa membantu saya untuk meminta obat ini dari seorang nenek yang ada di sebuah desa. Saya pernah dengar kalau dia membuat obat penawar untuk segala racun. Setelah kita mengetahui jenis racun yang ada di tubuh Walter, kita akan berangkat ke sana untuk meminta penawarnya. Bagaimana?"
Rosita seperti keberatan. Namun, menolak juga bukan solusi yang tepat. "Baiklah. Kalau boleh saya tahu. Dimana tempat nenek itu tinggal?"
"Di Belanda, Nona."
"Belanda? Kenapa jauh sekali!"
__ADS_1