
Malam kembali tiba. Rosita ada di dalam kamar kakaknya. Dia akan tidur di kamar itu selama beberapa hari ke depan sampai kakaknya kembali sehat. Tanggal pernikahan sudah ditentukan oleh Walter dan Rosita. Mereka akan menikah dua minggu lagi. Sebelum mempersiapkan semuanya, Rosita ingin kakaknya itu tahu kabar baik ini. Namun, entah kenapa keberanian Rosita belum ada untuk menceritakan semua yang terjadi.
“Rosi, kau kenapa? Kau seperti sedang memikirkan sesuatu,” tanya wanita itu bingung.
“Sejak tadi pagi kakak tidak ada cerita bagaimana bisa kakak tiba di kota ini. Bagaimana dengan pria yang sudah menikahi kakak? Bukankah kabar terakhir yang aku terima kalau kakak sudah memiliki anak? Lalu, dimana keponakanku itu?”
Wanita itu terdiam. Dia memandang ke depan dengan tatapan nanar. Sebenarnya dia tidak mau mengatakan apa yang terjadi. Namun, Rosita akan terus bertanya jika dia tidak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
“Suami kakak pergi bersama wanita lain. Sebenarnya kakak belum punya anak. Waktu itu kakak berbohong. Alasan ini yang dia jadikan untuk meninggalkan kakak. Dia menuduh kakak sebagai wanita mandul. Kakak di usir dari rumah. Tidak memiliki barang berharga apapun. Termasuk ponsel. Kakak bisa tiba di kota ini karena bantuan orang baik,” jawab wanita yang biasa di sapa dengan nama Mesy itu.
Rosita semakin tidak berani untuk menceritakan hubungannya dengan Walter. Dia takut kakaknya itu merasa tersinggung. Sejak dulu, masalah sekecil apapun akan selalu menjadi bahan untuk Mesy memarahi Rosita. Sampai sekarang Rosita jadi trauma. Wanita itu akan berpikir puluhan kali sebelum bercerita dengan kakak kandungnya.
“Kak, kita tidur aja yuk. Besok kita harus bangun pagi untuk bekerja,” ajak Rosita. Mesy terlihat tidak tertarik untuk tidur. Dia memiringkan tubuhnya dan memandang Rosita dengan saksama.
“Rosi, aku perhatikan. Sekarang kau semakin cantik. Kulitmu menjadi jauh lebih bersih. Wajahmu juga terlihat semakin segar. Apa gajimu selama bekerja di sini lebih-lebih?”
Rosita diam sejenak. Dia memikirkan jawaban yang tepat agar tidak salah bicara. “Lebih dari cukup kak. Aku merasa tidak melakukan perawatan apapun.”
“Benarkah?” Mesy diam sejenak. Dia tiba-tiba membayangkan wajah Dokter Alfred. Tadi pria itu sempat menemuinya untuk memeriksa keadaannya. Sebenarnya bukan itu saja alasan Walter memanggil dokter Alfred. Walter ingin Dokter Alfred memastikan kalau wanita itu tidak sedang menggunakan topeng apapun. Dokter Alfred bisa mengetahui kalau seseorang sedang menyamar dengan menggunakan topeng. “Rosi, apa kau kenal dengan dokter tadi? Kakak lihat kau sangat akrab dengannya.”
Rosita mengeryitkan dahinya. “Maksud kakak Dokter Alfred?”
__ADS_1
“Ya. Apa namanya Alfred? Apa dia sudah menikah?”
“Dia baru saja kehilangan istrinya, kak. Kenapa? kakak naksir ya sama dokter Alfred?” ledek Rosita.
“Rosi, kau ini bisa saja. Mana mungkin pria tampan dan kaya seperti dia mau sama wanita seperti kita. Apa lagi aku ini janda. Aku hanya sekedar mengaguminya saja. Tidak lebih,” dusta Mesy. Rosita hanya tersenyum mendengar jawaban kakaknya. Dia sendiri juga yakin kalau kakak kandungnya pasti bukan tipe dokter Alfred. Tidak ada niat di hatinya untuk menjodohkan mereka berdua.
“Rosi .... Tuan Walter ganteng juga ya?”
Rosita membisu ketika calon suaminya akan menjadi topik pembasahan selanjutnya. Wanita itu cepat-cepat memejamkan mata agar kakaknya berpikir kalau dia sudah tidur.
“Rosi, kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?” Mesy memandang ke arah Rosita. Dia dibuat kecewa saat itu. “Kau ini cepat sekali tidurnya.” Mau tidak mau Mesy menarik selimut dan ikut tidur bersama Rosita. Wanita itu memandang ke langit-langit kamar sebelum tersenyum manis.
"Aku harap, hari esok jauh lebih baik."
Walter meletakkan foto-foto Mesy yang ia dapatkan dari rekaman cctv. Foto itu menjadi bukti kuat kalau Mesy memang benar kakak kandung Rosita. Bukan penyusup seperti yang dipikirkan pasukan Black Dragon. Kini Walter berpikir untuk bersikap baik kepada calon kakak iparnya. Walter tidak mau sampai hubungannya dan Rosita tidak mendapat restu dari Mesy. Apapun caranya akan dilakukan Walter. Yang penting pernikahannya dan Rosita bisa berjalan dengan lancar.
Dokter Alfred juga ada di dalam ruangan itu. Namun, pria itu lebih tertarik membaca sebuah majalah. Dia tidak mau melihat bukti-bukti yang ditunjukkan pasukan Black Dragon. Toh, memang sejak awal Dokter Alfred sudah bilang kalau wajah Mesy wajah asli. Bukan memakai topeng seperti apa yang mereka pikirkan. Tetapi, Walter sulit untuk percaya hingga akhirnya dia meminta pasukannya untuk melakukan semua penyelidikan ini.
"Dok, apa anda sudah melakukan apa yang saya perintahkan tadi?" Walter bersandar dan memandang ke arah Dokter Alfred. Wajahnya terlihat sangat serius hingga membuat Dokter Alfred tidak berani bercanda detik ini.
"Sudah." Dokter Alfred melirik jam di tangannya. "Mungkin sekarang obatnya sudah bekerja," sambungnya lagi.
__ADS_1
Dokter Alfred sengaja memberikan obat penenang kepada Mesy agar Walter bisa bertemu dengan Rosita. Hanya ini yang bisa dia lakukan. Rosita belum mengizinkannya untuk membongkar hubungan mereka. Walter cukup menghargai keputusan Rosita. Dia juga butuh waktu untuk mempersiapkan diri sebelum menjadi seorang suami.
"Baiklah. Aku akan menjemputnya." Walter beranjak dari kursi kerjanya. Pria itu tidak langsung berjalan ke pintu. Dia menuju ke lemari hias yang dilengkapi cermin di sana. Pria itu merapikan penampilannya. Memakai farpum yang sudah disediakan.
Dokter Alfred hanya bisa geleng-geleng saja. Pria tangguh yang tadinya sering bau anyir kini selalu wangi parfum. Tangannya tidak lagi digunakan untuk membunuh tetapi lebih sering untuk mengelus rambut Rosita. Ini perubahan yang bagus. Dokter Alfred sangat senang melihatnya.
"Apa mau aku bantu?" tawar Dokter Alfred ketika Walter masih fokus menata penampilannya.
"Tidak!" tolak Walter. Dia memutar tubuhnya dan memandang Dokter Alfred. "Saya bisa melakukannya sendiri." Tanpa banyak kata lagi, Walter pergi meninggalkan dokter Alfred. Sedangkan Dokter Alfred sendiri, memilih untuk kembali ke kamarnya. Memang belum waktunya untuk tidur. Tetapi, Dokter Alfred ingin berbaring di ranjang daripada harus menunggu ruangan kosong seperti ini.
Walter menahan langkah kakinya ketika melihat Rosita sudah muncul di hadapannya. Wanita itu terlihat sangat cantik dengan gaun warna pink dan sepatu warna pink. Hati Walter benar-benar melayang dibuatnya. Ia sangat menikmati penampilan Rosita malam itu.
"Kak, apa aku terlalu lama? Aku harus memastikan dulu kalau Kak Mesy sudah tidur atau belum," ucap Rosita mencari alasan ketika Walter memandangnya dengan begitu serius.
"Tidak. Aku baru keluar. Apa kau sudah siap?" tanya Walter.
Rosita mengeryitkan dahinya. "Siap?"
Walter memberikan tangannya untuk di rangkul oleh Rosita. "Kita akan jalan-jalan menikmati kota pada malam hari."
Rosita mengangguk setuju. "Baiklah. Aku senang jalan-jalan malam," jawab Rosita penuh semangat. Walter hanya diam saja sambil berjalan membawa Rosita menuju ke arah lift.
__ADS_1
Dokter Alfred yang baru saja keluar dari ruangan menahan langkah kakinya. Dia memperhatikan Walter dan Rosita yang terlihat begitu mesra. Rasanya dia mulai iri melihatnya. "Andai saja Ines masih hidup," gumamnya di dalam hati.