
Rosita terlihat ragu untuk menerima lamaran Walter. Wanita itu takut menikah dengan pria pembunuh seperti Walter. Penyiksaan yang pernah ia alami membuat trauma yang begitu dalam. Rosita takut! Sangat sangat takut!
"Bagaimana ini? Apa aku tolak saja? Tetapi, kenapa aku sangat ingin menerimanya. Bahkan melihat Kak Walter berlutut seperti ini membuatku ingin menangis bahagia. Aku tidak menyangka dia akan melamarku secepat ini. Apa dia percaya kalau aku ini wanita yang cocok untuknya?" gumam Rosita di dalam hati.
Bukan hanya Walter saja yang kini menunggu jawaban Rosita dengan jantung berdebar. Tetapi Lara, Fabio, Dokter Alfred serta semua tamu undangan yang hadir juga sedang menunggu jawaban Rosita. Mereka semua berharap agar Rosita mau menerima lamaran Walter. Mereka berani jamin kalau Walter adalah pria yang setia. Sudah pasti bisa melindungi Rosita dari bahaya dan menjamin wanita itu hidup bahagia.
"Kak Walter, Maaf. Tapi, aku tidak bisa ...." Rosita menundukkan kepalanya. Dia malu karena tahu semua orang pasti akan kecewa. Wanita itu tidak sanggup berlama-lama ada di sana. Ia memutar tubuhnya dan berlari pergi.
Walter berdiri dengan wajah kecewa. Ide Lara dan dokter Alfred harus gagal dan menyisakan rasa sakit yang begitu luar biasa di hati Walter.
Ketika Rosita ingin naik tangga, tiba-tiba Walter berteriak.
"Rosita , Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di hari yang akan datang. Malam ini, Aku melamarmu, karena aku ingin membuatmu bahagia. Bukan membuatmu menangis! Aku terbiasa berjuang dalam segala hal. Kali ini aku akan berjuang untuk mendapatkan hatimu. Aku tidak akan menyerah Rosita. Tidak akan!"
Rosita berhenti. Dia menghapus air matanya. Perasaannya begitu campur aduk hingga dia tidak tahu harus bagaimana. Bahkan rasa menyesal mulai muncul hingga membuatnya ingin kembali dan menerima lamaran Walter.
__ADS_1
“Rosita , Aku memang bukan pria yang baik. Aku hanya seorang pembunuh yang dikenal sebagai pria tidak memiliki perasaan. Tidak memiliki hati! Mungkin jika kau menikah denganku kita akan lalui hari-hari dengan pertempuran dan darah di mana-mana. Tapi satu hal yang harus kau ketahui Rosita. Aku pasti akan menjaga istriku sampai titik darah penghabisan. Aku janji tidak akan membiarkanmu celaka. Aku janji akan menjagamu dengan sepenuh hati. Meskipun nyawaku yang menjadi taruhannya!"
Rosita memutar tubuhnya lagi. Dia memandang Walter sambil menghapus air mata yang terus saja menetes dengan deras. perlahan wanita itu mulai melangkah. Dia tidak lagi menghiraukan orang-orang yang menatapnya. Rosita hanya fokus kepada Walter. Pria yang sudah berani melamarnya dan berjanji akan menjaganya dengan sepenuh hati.
"Jika aku tidak pandai bergaya, kau mau menerimaku?" tanya Rosita.
Walter mengangguk. "Ya."
"Jika aku tidak bisa memasak, apa kau tetap mau menjadi suamiku?"
"Jika aku ini bodoh! Tidak tahu apa-apa. Apa mau mengajariku?"
Walter tersenyum. Baginya ini pertanyaan bodoh. Memutuskan untuk mencintai Rosita, sudah pasti Walter telah siap menerima kekurangan wanita itu.
"Aku akan menerimamu apa adanya. Aku mencintaimu karena hatiku berkata kaulah yang pantas ada di sini!" Walter menepuk dadanya sendiri. "Bukan karena hal lain."
__ADS_1
Tangis Rosita semakin menjadi. Wanita itu berlari dan memeluk Walter. Tangisnya pecah ketika Walter membalas pelukannya dan merengkuhnya dengan penuh kehangatan.
"Aku mau. Aku mau menikah denganmu," jawab Rosita.
Sorak tepuk tangan meramaikan lokasi pesta tersebut. Lara harus menghapus air matanya karena terharu melihat pemandangan yang ada di depannya. Sedangkan Dokter Alfred melipat kedua tangannya dengan bibir tersenyum. "Belajar dari mana dia? Kenapa Walter bisa mengatakan kalimat semanis itu?" gumamnya di dalam hati.
"Mana cincinnya?" tanya Rosita. Ia melepas pelukannya dari Walter. Dia memamerkan jari manisnya di depan Walter. "Kau mau cincinnya ada di sini."
Walter segera mengambil cincin dari dalam kotak dan menyematkannya di jari manis Rosita. pria itu mencium punggung tangan Rosita dengan penuh penghayatan.
"Aku mencintaimu ...."
"Aku juga mencintaimu," jawab Rosita. Wanita itu memeluk Walter dengan wajah bahagia.
Walter memandang ke arah Dokter Alfred dan Lara. Dia seperti sedang mengucapkan terima kasih. Tanpa bantuan mereka, dia tidak mungkin bisa mendapatkan Rosita.
__ADS_1
"Mereka keluargaku. Aku bahagia memiliki keluarga seperti mereka," gumam Walter di dalam hati.