
Hari bahagia telah tiba. Siang itu, Rosita terlihat cantik dengan gaun putih yang akan ia kenakan di akad pernikahannya bersama Walter. Sambil menunggu penata rambut memakaikan selendang di kepalanya, Rosita kembali memperhatikan gaun merah muda yang sudah di siapkan di dalam kamar itu. Sangat indah dan mewah. Dia sangat senang karena pada akhirnya Walter mengizinkannya memakai gaun pink. Bahkan Walter juga memakai jas warna pink. Rosita masih belum tahu kalau sebenarnya Walter sendiri juga sangat senang melihat warna pink. Karena warna pink warna favoritnya.
Mesy memperhatikan Rosita dengan tatapan penuh arti. Wanita itu masih belom menemukan cara agar Rosita mengizinkannya untuk tinggal di rumah mereka yang baru nantinya. Setiap kali di tanya, jawaban Rosita selalu sama. Toh, Mesy sendiri sudah diberikan apartemen yang nyaman. Jadi wanita itu tidak perlu merasa tidak enak untuk menolak kakaknya tinggal bersama mereka.
"Kau sangat cantik, Rosi," puji Mesy.
Rosita mengukir senyuman bahagia. "Terima kasih, Kak."
Mesy beranjak dari sofa. Ia berjalan mendekati Rosita ketika penata rambutnya telah pergi karena sudah selesai melakukan tugasnya. "Rosi, apa kau ingat kejadian setahun yang lalu? Ketika aku pergi meninggalkanmu dan kau sendirian di rumah?"
__ADS_1
Rosita mengeryitkan dahinya. Sebenarnya dia tidak suka membahas masa lalu. Apa lagi ini hari bahagianya. Moodnya akan menjadi jelek jika kembali mengingat kenangan buruk itu.
Malam itu, Mesy pergi begitu saja meninggalkan Rosita tanpa memberikan uang atau memberikan solusi atas masalah besar yang mereka hadapi. Rosita sendirian dalam keadaan ketakutan. Sampai-sampai dia mengalami kecelakaan karena di tabrak sebuah taksi malam itu. Sungguh kenangan buruk itu ingin dilupakan oleh Rosita untuk selama-lamanya.
"Aku sudah memaafkan kakak. Kakak tidak perlu membahas masalah itu sekarang. Apa lagi di sini. Sebentar lagi aku akan menikah. Jika Kakak menyayangiku, sebaiknya kakak lupakan saja Kenan buruk yang pernah terjadi. Seperti apa yang aku lakukan selama ini. Aku telah melupakannya." Rosita terlihat kecewa. Hal itu membuat Mesy tidak mau memaksa Rosita untuk mengingatnya lagi. Dia juga sangat menyayangi Rosita dan tidak mau sampai adiknya itu menangis.
"Terima kasih kak." Rosita mulai melangkah meninggalkan ruangan tersebut. Acaranya ada di lantai bawah. Satu lantai dari posisi mereka berada saat ini. Rosita akan menggunakan lift untuk turun. Semua sudah dipersiapkan dan di jaga ketat oleh Pasukan Black Dragon. Rosita tidak perlu merasa khawatir kalau ada orang yang berniat jahat kepadanya.
Mesy memperhatikan satu persatu pengawal yang menjaga mereka. Dia menghela napas panjang. "Black Dragon benar-benar kuat. Aku jadi ragu untuk mengalahkan mereka," gumam Mesy di dalam hati.
__ADS_1
"Kak, apa seperti ini menikah? Aku merasa takut," ucap Rosita sambil berjalan menuju lift.
"Takut? Apa yang kau takutkan?"
"Entahlah. Sekujur tubuhku terasa dingin dan aku tidak bisa bernapas dengan normal. Debaran jantungku menjadi tidak karuan. Aku benar-benar tidak tenang saat ini." Rosita sengaja mengecilkan suaranya agar hanya dia dan Mesy yang dengar.
"Rosi ... semua wanita merasa perasaan yang sama seperti yang sekarang kau rasakan. Kau pasti bisa menghilangkan semua itu setelah kau bertemu dengan calon suamimu. Percayalah pada kakak."
Rosita menghela napas panjang. Dia masuk ke dalam lift bersama dengan Mesy. Wanita itu memandang pantulan dirinya sendiri melalui cermin yang ada di lift. "Kenapa aku merasa sepertinya kak Mesy tidak suka aku menikah dengan Kak Walter? Apa ini hanya firasatku saja?" gumam Rosita di dalam hati.
__ADS_1