Suamiku Pinky Boy

Suamiku Pinky Boy
SPB. Bab 46


__ADS_3

Walter berlari menuju ke arah mansion bagian depan. Langkahnya sangat cepat hingga membuat siapa saja yang melihatnya terlihat khawatir. Tidak biasanya Walter bertingkah sepanik itu. Sebagian pengawal justru ikut Walter berlari di belakangnya. Mereka takut kalau ada penyusup yang berhasil masuk ke dalam wilayah mansion.


Walter tidak menghiraukan pengawal-pengawal yang mengikutinya di belakang. Pria itu terlalu panik hingga tidak sadar lagi dengan keadaan sekitar. pikirannya hanya dipenuhi dengan Rosita, Rosita dan Rosita. jangan sampai wanita itu pergi tanpa izin darinya.


Walter berhenti di depan lift agar ia bisa segera tiba di wilayah depan bangunan mansion itu. Karena jalan di dalam bangunan mansion itu sangat rumit. Salah jalan bisa membuat orang yang ada di dalamnya tersesat. Seperti yang sekarang terjadi pada Walter. Jika dia tidak menggunakan lift itu untuk turun dan menuju ke lantai depan, maka dia harus menggunakan tangga dan menempuh jarak hingga beberapa kilometer jauhnya.


"Tuan, lift rusak," ucap seorang pria yang memang bertugas untuk berjaga-jaga di sekitar lift.


Mendengar kabar itu membuat Walter mengernyitkan dahi dengan tatapan tidak percaya. Sejak mansion itu dibangun Ini pertama kalinya ia mendengar kalau lift itu tidak bisa digunakan. Orang-orang yang bekerja itu menjunjung jiwa profesional. Rasanya Walter masih tidak percaya mendengar kabar lift itu tidak bisa digunakan.


"Apa kerjaanmu selama ini? Kau makan gaji buta!" umpat Walter geram. Dia sampai mengepal kedua tangannya dengan tatapan menikam. Ingin sekali ia menghajar pengawal yang ada di depannya. Namun waktu yang ia miliki tidak banyak. dia harus segera mengejar Rosita dan mencegah Wanita itu pergi.


"Maafkan saya, Tuan." Pengawal itu hanya bisa menunduk dan takut memandang wajah walter.


Walter memukul pintu lift dengan sangat kuat sebelum berlari menuju ke jalan lainnya. Lagi-lagi pengawal yang sejak tadi mengikuti Walter ikut berlari tanpa sepengetahuan Walter.


Walter menjejaki tangga dengan langkah yang sangat cepat. Selip sedikit saja bisa membuatnya jatuh tergelincir. Pria itu terlihat kelelahan. Entah perjuangan seperti apa yang sekarang ia lakukan. Padahal jelas-jelas wanita yang ia kejar tidak mempedulikan dirinya. Namun dia dengan sadar ingin mempertahankan wanita itu agar tetap di sisinya.


Setelah menempuh jarak hampir dua kilometer akhirnya Walter berhasil tiba di depan. Ya, di pintu depan. Pria itu berdiri dan mengatur napasnya. Ia melihat Dokter Alfred dan Lara berdiri di sana. Walau dia tahu Lara yang sudah menyebabkan Rosita pergi, tetapi dia tidak akan berani berkata kasar yang membuat Lara tersinggung.


"Ada apa? Kenapa kau membawa semua orang ke sini?" protes Dokter Alfred.


Lara hanya tersenyum sambil memalingkan wajahnya ke arah lain. Rasanya ia masih tidak percaya kalau Walter bisa tiba dengan waktu yang sesingkat itu. Padahal mereka sudah membuat skenario agar lift tidak bisa digunakan.


"Semua orang?" Walter memutar tubuhnya. Kedua matanya melebar melihat pasukan Black Dragon berbaris di belakangnya dengan membawa senjata lengkap. Mereka seperti ingin perang.


"Hei, apa yang kalian lakukan? kalian mengikutiku?" protes Walter tidak suka.


"Anda berlari dengan wajah yang begitu panik. kami pikir ada musuh yang telah menyerang mansion Bos. Maafkan kami telah mengikuti anda. tapi anda tidak menyuruh kami pergi sejak tadi. Hingga akhirnya kami berpikir kalau Anda memang butuh bantuan kami," jawab salah satu pasukan Black Dragon.


"Bubar!" ketus Walter. "Jika dalam hidup ke lima kalian belum pergi juga, aku akan-"

__ADS_1


belum siap Wolter menghitung, pasukan Black Dragon sudah pergi meninggalkan wilayah tersebut. mereka tidak mau mendapat hukuman dari Walter. Walau sebenarnya mereka ingin tahu apa yang telah terjadi hingga membuat Walter sepanik itu.


Dokter Alfred dan Lara saling memandang dengan senyum tertahan. setelah Wolter memandang ke arah mereka, mereka berdua bertingkah dengan wajah yang cukup serius.


"Ada yang ingin kau sampaikan Walter?" tanya Lara.


Walter diam sejenak. Dia juga harus memastikan Kalimat yang ingin ia ucapkan tidak menyinggung perasaan Lara.


"Nyonya, apa anda mengusir pekerja yang tinggal di rumah ini?"


"Maksudmu pelayan wanita?" sahut Lara.


Walter diam sejenak. Kali ini tebakannya sudah pasti kalau wanita yang dimaksud oleh Lara adalah Rosita. "Apa kesalahan yang sudah dia perbuat hingga anda mengusirnya tanpa ijin dari saya, Nyonya? Bukankah orang-orang yang bekerja di bawah perintah saya hanya boleh pergi dari rumah ini atas izin saya?"


Lara menaikkan satu alisnya. "Dia pelayan yang bekerja di bawah perintahmu, Walter? Maafkan aku. Aku tidak tahu, jadi aku asal saja mengusirnya. Dia telah melakukan sebuah kesalahan yang tidak bisa aku maafkan."


Walter berusaha meredam emosi yang mulai naik ke permukaan. Masih membayangkan ekspresi Rosita ketika di usir oleh Lara, membuatnya sakit hati.


"Saya permisi, Nona. Saya harus mengejarnya dan membawanya kembali ke rumah ini. Dia tidak boleh pergi dari rumah ini!" Nada bicara Walter mulai meninggi pertanda kalau dia telah Kesu mengendalikan emosinya.


"Maafkan saya, Nyonya. Tapi, saya harus mengejarnya. Ada urusan penting yang belum saya selesaikan dengannya."


"Tunggu!" Lara menghadang Walter. Jelas saya itu membuat Walter berhenti lagi. Lara berdiri di depan pintu. Tidak mungkin dia mendorong Lara. Itu akan menimbulkan masalah baru dengan Fabio nantinya. "Tolong antarkan sahabatku berbelanja. Dia membutuhkan beberapa barang untuk dipakai di pesta nanti."


"Maaf, Nyonya. Tapi saya tidak bisa melakukannya. Saya harus-"


"Nyonya, saya tidak berhasil menemukan barang yang anda minta."


Tiba-tiba Rosita muncul dengan penampilan yang sangat rapi. Wanita itu menggenakan dres warna hitam yang membuatnya terlihat sangat berkelas. Lara dan Dokter Alfred saling memandang sebelum mengukir senyum.


Walter memutar tubuhnya ketika dia mendengar suara yang sangat tidak asing baginya. Melihat Rosita ada di sana membuatnya terdiam. "Kenapa Rosita bisa di sini? Bukankah seharusnya dia sudah di usir?" gumam Walter yang hanya berani di dalam hati saja.

__ADS_1


"Rosita, sepertinya Dokter Alfred saja yang mengantarkan kau belanja hari ini. Walter harus mengejar pelayan wanita yang baru saja aku usir," ucap Lara tanpa memandang Walter.


"Nyonya, sepertinya saya tidak peduli lagi dengan pelayan wanita itu," sahut Walter. "Saya akan mengantarkan Rosita-"


"Panggil dia nona Rosita, Walter! dia sekarang sudah resmi menjadi sahabatku!" ketus Lara.


Walter memandang Rosita sejenak sebelum mengangguk pelan. "Maafkan saya, Nona Rosita. Saya akan mengantarkan anda pergi untuk berbelanja."


"Uh, sayang sekali. Padahal tadinya aku sudah senang di tugaskan mengantar Nona Rosita," ujar Dokter Alfred dengan ekspresi kecewa.


"Baiklah. Sekarang pergilah. Jangan pulang terlalu malam!" perintah Lara.


Walter memandang Rosita dengan wajah gembira. Walau ia sendiri tidak tahu bagaimana prosesnya sampai Rosita naik pangkat menjadi sahabat Lara, tetapi saat ini dia merasa jauh lebih lega dan sangat senang. Wanita yang ia cintai, akan selalu ada di atap yang dia tempati.


Rosita mengangguk setuju. "Saya permisi dulu, Nyonya."


"Hati-hati di jalan Rosita. Dan jangan panggil aku nyonya. Kau bisa panggil aku Kak Lara," sahut Lara dengan senyuman.


Rosita terlihat bahagia. "Baik, Kak."


Walter melirik dokter Alfred sebelum mengikuti Rosita dari belakang. Walau kini posisinya terbalik, tetapi Walter sangat menikmatinya.


"Nona Rosita, saya akan membukakan pintunya," ujar Walter ketika Rosita ingin buka pintu sendiri. Wanita berhenti dan memandang Walter. Rasanya dia masih canggung jika bersikap seperti sekarang. Bukankah awalnya dia hanya seorang pelayan pribadi? Kenapa sekarang dia harus menjadi nona muda?


"Tuan, maafkan saya," ucap Rosita dengan wajah menyesal. "Saya sendiri tidak menyangka kalau Nyonya Lara."


Walter memandang wajah Rosita hingga beberapa detik sebelum meresponnya. "Anda cocok di panggil, Nona."


"Apa bisa jika tidak ada orang anda panggil Pibi saja? Itu jauh lebih nyaman," tawar Rosita.


Walter sempat tersentuh mendengar permintaan Rosita. Pria itu mengangguk sambil tersenyum bahagia. "Silahkan masuk, Pibi."

__ADS_1


"Terima kasih, Kak Walter," sahut Rosita sebelum masuk ke dalam. Walter mematung mendengar panggilan yang baru saja diucapkan oleh Rosita. Rasanya ia ingin terbang melayang saat ini.


"Kak Walter?"


__ADS_2