
Walter membawa Rosita jalan-jalan ke kebun buah yang ada di belakang mansion. Dia tahu kalau Rosita pasti butuh hiburan seperti ini agar dia lekas sembuh dan tidak bersedih lagi. Kebetulan pohon buah yang ada di sana sedang berbuah. Memakan buah langsung dari pohonnya di panas terik seperti ini akan terasa segar. Pohon yang paling banyak jumlahnya adalah pohon apel. Apa lagi buah apel yang di tanam di sana adalah buah pilihan. Walau Walter sendiri tidak pernah datang ke kebun itu, tetapi dia bersedia masuk ke kebun hanya untuk membawa Rosita jalan-jalan agar bisa kembali ceria.
Rosita berjalan sambil memandang ke kanan dan ke kiri. Jika tidak bersama dengan Walter, dia mungkin akan tersesat. Luas mansion itu memang tidak ada tandingannya. Terkadang Rosita sendiri bertanya di dalam hati. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membangun mansion seluas dan semegah itu. Ada banyak sekali pintu yang Rosita sendiri tidak tahu ruangan apa yang ada di baliknya. Belum lagi pengawal yang bekerja di mansion itu sangat banyak jumlahnya. Terkadang kalau tidak terlihat, di ujung lorong sudah ada yang jaga lagi.
“Apa yang kau pikirkan?” tanya Walter. Sejak keluar dari kamar Rosita memang hanya diam saja. Padahal biasanya wanita itu banyak bicara.
“Apa yang harus saya katakan?” Rosita menahan langkah kakinya. Dia merasa curiga karena Walter membawanya ke tempat yang sangat sunyi. Wanita itu takut Walter berniat jahat padanya. “Sebenarnya kita mau ke mana?”
Walter memang belum bilang kalau dia akan mengajak Rosita ke kebun Apel. Tadinya pria itu ingin membuat kejutan. Dia ingin lihat, seperti apa ekspresi bahagia Rosita ketika melihat buah apel berwarna merah yang tumbuh di setiap pohon.
“Ke suatu tempat. Kau pasti akan senang ada di sana. Mungkin tidak mau pergi meninggalkan tempatnya. Bahkan mungkin, kau akan sering-sering datang ke tempat ini sendirian,” jawab Walter.
“Kedengarannya tempatnya sangat menarik. Tetapi sayang, sudah sejauh ini berjalan masih belum sampai juga,” protes Rosita.
“Ada di balik pintu itu,” tunjuk Walter ke pintu berwarna hitam yang berdiri beberapa meter dari posisi mereka berada. Pintu itu akan menghubungkan mereka ke taman buah yang ada di halaman belakang.
“Baiklah. Sekarang ayo kita ke sana. Aku sudah tidak sabar melihat tempatnya. Semoga saja tidak mengecewakan.” Rosita berjalan lebih dulu. Walter masih berdiri pada posisinya. Dia memperhatikan penampilan Rosita yang kini dipenuhi dengan barang-barang berwarna pink. Di mulai dari gaun, tas, pita hingga jam tangan. Semua serba pink. Kecantikan Rosita menjadi sempurna di mata Walter setiap kali wanita itu mengenakan barang berwarna pink.
“Tuan, ayo cepat!” teriak Rosita. Walter melanjutkan perjalanannya mengawal Rosita dari belakang.
__ADS_1
Rosita membuka pintu hitam itu dengan penuh antusias. Ketika pertama kali melihat hamparan kebun buah di hadapannya, dia langsung terdiam. Rosit sangat senang sampai tidak tahu harus berkata apa. Tempat itu sangat indah dan sempurna.
“Surga?” puji Rosita dengan kedua mata yang berbinar. Rasanya masih seperti mimpi bisa melihat langsung kebun yang dilengkapi pohon buah sebanyak ini. Aneka buah favorit Rosita ada di sana. Di mulai dari jeruk, apel, cerry, anggur dan banyak lagi yang tidak bisa dilihat oleh Rosita secara langsung karena terlalu luas. Di dekat pintu itu sangat dekat dengan pohon apel. Pohonnya juga tidak terlalu tinggi. Tanpa pikir panjang dan permisi sama Walter, Rosita segera berlari menuju ke pohon apel tersebut.
Walter memilih duduk di kursi yang sudah disediakan. Dia memandang sekeliling kebun. Biasanya sudah ada pekerja yang bertugas memanen buah yang sudah matang.. Tetapi hari ini tidak terlihat satu pekerjapun di sata. Termasuk tukang bersih kebun.
“Tuan, apa saya boleh memakan semua buah yang ada di sini?” teriak Rosita. Di tangannya sudah ada apel merah yang siap di gigit. Wanita itu hanya membersihkan apel yang ia petik dengan baju sebelum mengigitnya dengan rakus. “Apa aku boleh membawa beberapa apel ketika pulang ke apartemen nanti?” teriaknya lagi.
Walter hanya mengangguk. Di dalam hati Walter sendiri berkata. Kalau Rosita tidak akan pergi dari mansion. Wanita itu akan tetap ada di mansion apapun caranya.
Rosita melompat kegirangan. Wanita itu sudah lupa dengan rasa lelah yang sempat ia rasakan tadi. Semua telah terbayar dengan melihat aneka buah di hadapannya. Ya, memang sesimpel itu hal yang membuatnya bahagia. Rosita biasa hidup sederhana. Tidak harus mendapat hadiah mahal dan mewah untuk membuatnya bersyukur. Bisa makan buah semanis dan sebanyak itu secara gratis saja sudah membuatnya berulang kali bersyukur.
“Kau di sini ternyata.”
Walter memandang ke samping dan melihat Dokter Alfred ada di sana. Dia bergeser untuk memberi ruang kepada Dokter Alfred agar bisa duduk.
"Apa yang anda lakukan di sini
Dokter Alfred memandang ke depan sebelum menjawab pertanyaan Walter. "Dari semua tempat yang ada di mansion ini. Tempat ini adalah tempat favoritku. Hampir setiap hari aku datang ke sini. Bahkan aku tahu buah mana besok yang akan dipetik dan buah mana yang sudah dipetik. Melihat beberapa pekerja memanen buah membuatku sedikit lupa akan kesedihanku." Dokter Alfred memandang ke arah Walter lagi. "Lalu apa yang kau lakukan di sini?"
__ADS_1
Walter mencari-cari keberadaan Rosita. Wanita itu tidak terlihat lagi hingga membuat Walter panik. Dia beranjak dari kursi dan mencari ke segala arah.
"Apa yang kau cari?" tanya Dokter Alfred.
"Di mana dia?"
"Dia? Dia siapa?"
"Rosita aku datang ke sini bersama dengannya. Tadi dia ada di sana untuk memetik buah apel."
Dokter Alfred juga ikut beranjak dari kursi. "Aku pernah menelusuri perkebunan ini. Di tengah-tengah pepohonan itu ada sebuah lubang yang sengaja dibuat untuk jebakan."
Walter melebarkan kedua matanya. "Kenapa tidak bilang sejak tadi?" umpatnya kesal. Pria itu segera berlari untuk memastikan Rosita baik-baik saja. Begitu juga dengan Dokter Alfred yang kini berlari di belakang Walker. Mereka sama-sama menuju ke tempat perkebunan apel yang terdapat lubang jebakan.
"Rosita!" teriak Walter. "Dimana lubangnya!" umpat Walter panik.
"Di sana!" tunjuk Dokter Alfred. Pria itu jalan di depan untuk memimpin jalan. Baru setengah jalan, mereka sudah berhasil menemukan Rosita. Wanita itu berdiri sambil memegang sebuah belatih. Walter dan Dokter Alfred menahan langkah kaki mereka.
"Rosita, apa yang kau lakukan? Darimana kau mendapatkan senjata itu?"
__ADS_1