Suamiku Pinky Boy

Suamiku Pinky Boy
SPB. Bab 19


__ADS_3

Rosita tersadar dan segera mengangkat tangannya. Memalingkan wajahnya agar tidak bertatap langsung dengan Walter. Dalam hati ia mengumpat karena sudah melakukan kesalahan sefatal itu.


"Tanganku ini. Kenapa tidak bisa dikondisikan. Kalau sudah seperti ini, aku harus apa?" umpatnya sambil memejamkan mata.


"Kau mau membantuku mengganti perban atau tidak!" ketus Walter ketika Rosita tidak lagi melakukan apapun.


"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak sengaja." Rosita mengambil perban dan menyiapkan semua alat medis yang akan ia gunakan. Menarik nafas agar bisa bekerja dengan maksimal. Tidak lagi tergoda dengan dada bidang dan tato maco pria jagoan di depannya.


"Apa kau pernah merawat seseorang sebelumnya?" tanya Walter penasaran. Jelas saja dia juga tidak mau ambil resiko. Walter tidak mau sampai Rosita salah tindakan dan membuat lukanya semakin parah.


"Pernah, Tuan." Rosita tersenyum seolah sedang membayangkan sesuatu. "Kakak saya seorang perawat di sebuah rumah sakit. Saat itu kamu pernah melihat seorang kakek terjatuh dari sepeda. Kami menolongnya dan saya membantu kakak saya membersihkan luka dan membalut lukanya. Hanya itu pengalaman saya. Tetapi, secara garis besar saya tahu trik mengganti perban. Anda tidak perlu khawatir," jawab Rosita dengan mata berkaca-kaca. Entah kenapa setiap kali mengucapkan sesuatu yang berhubungan dengan kakaknya, Rosita tidak lagi bisa tegar. Rasanya ia ingin menangis karena terlalu rindu.


"Sekarang dimana dia?"


Rosita yang tadinya sudah membuka semua kancing kemeja Walter kini mematung. Wanita itu memandang Walter dan tersenyum pahit. "Tuan, bisakah anda membuka kemeja anda ini? Saya akan membantu anda."


Walter mengangguk. Ia membuka kemeja yang sudah kotor itu dibantu oleh Rosita. Setelah tubuh Walter bertelanjang dada. Kini hanya terlihat perban kotor karena darah yang merembes. Rosita membuka perban itu dengan hati-hati.


"Kenapa dia jadi sedih? Apa aku salah bicara?" batin Walter sambil memperhatikan kedua mata Rosita yang terlihat sedih.


"Tuan, apa anda bisa maju sedikit? Saya kesulitan memutar perbannya," pinta Rosita. Walter hanya memajukan tubuhnya tanpa mau menjawab. Pria itu lagi-lagi tertarik memperhatikan kedua mata Rosita.


Rosita terlihat sangat telaten mengganti perban di perut Walter. Setelah berhasil membuat perban lama, ia segera mengganti perbannya dengan yang baru. Rosita merasa merinding ketika melihat langsung luka bekas operasi di perut Walter. Namun, ia tidak mau Walter mengetahuinya.


"Pantas saja lukanya mudah sekali berdarah. Separah itu luka yang di alami Tuan Walter. Jika luka itu ada di tubuh saya, saya rasa saya tidak akan sanggup menahan sakitnya. Sebenarnya apa yang sudah dia lakukan hingga bisa mendapat luka seperti itu," gumam Rosita yang hanya berani di dalam hati saja.

__ADS_1


Rosita memutar-mutar perban di perut Walter agar perban itu tidak lepas. Memang harus tebal agar lukanya tertutup rapat. Bentuk lukanya tergores hingga membuat kulit Walter terkoyak ke samping pinggang. Bayangi saya Rosita sudah merasa ngeri.


"Sudah selesai, Tuan." Rosita ingin membuang perban yang kotor dan meletakkan kotak P3K kembali ke tempatnya. Tetapi, ketika Rosita ingin beranjak tiba-tiba Walter memegang tangannya dan memaksanya duduk kembali.


"Apa yang kau pikirkan?"


Rosita terlihat bingung. Padahal dia tidak membahas apapun saat ini. Bagaimana bisa Walter bertanya seperti itu. "Apa maksud Anda, Tuan? Memangnya apa yang saya pikirkan?"


Walter melepas tangan Rosita. Ia memalingkan wajahnya. "Untuk apa aku peduli padanya? Saat ini hal yang harus aku lakukan adalah menyelidiki Rosita dan memastikan wanita itu tidak terlibat dengan Alex Moritz," gumam Walter di dalam hati.


"Tuan, apa saya boleh keluar sebentar untuk membuang perban ini? Saya juga ingin mengambil obat dan makan siang untuk anda."


"Sebaiknya kau istirahat saja. Aku akan meminta pelayan lain untuk membawakan makan siangku!"


Rosita tertegun sejenak. "Kenapa Tuan Walter jadi berubah baik seperti ini? Apa dia berterima kasih karena sudah aku bantu mengganti perbannya? Ehm, mikir apa aku ini. Mungkin Tuan Walter bosan melihat wajahku. Bukannya pelayan di ruang ini cantik-cantik?" gumam Rosita di dalam hati.


"Mau, Tuan. Saya sangat senang bisa diberi izin istirahat." Rosita berdiri di samping ranjang dan menunduk hormat. "Terima kasih, Tuan. Saya permisi dulu."


Walter hanya berdehem tanpa memandang. Bahkan ketika Rosita pergi meninggalkan kamar, Walter sama sekali tidak melihat wanita itu. Sampai akhirnya pintu tertutup rapat kembali, baru Walter memandang ke arah Rosita berada tadi.


Walter mengambil ponselnya dan menekan nomor seseorang. Ia ingin memberi perintah untuk melakukan penyelidikan terhadap Rosita. Walter tidak akan bisa tidur dengan nyenyak jika penyelidikan ini belum mendapat jawaban.


"Aku mau kalian bawa informasi tentang Rosita. Apapun itu, bawa ke hadapan saya!"


"Baik, Bos."

__ADS_1


Walter segera memutuskan panggilan telepon tersebut. Ia meletakkan ponselnya lagi di nakas sebelum lanjut bekerja.


Suara ketukan pintu kembali terdengar. Walter memalingkan wajahnya dan memandang ke pintu. "Masuk!"


Pintu terbuka dan seorang pria berjaket hitam masuk ke dalam. Lagi-lagi Walter menundah kerjaannya.


"Ada apa?"


"Kami di minta Dokter Alfred untuk mengambil tas Nona Rosita yang tertinggal di mobil, Bos."


Walter kembali fokus dengan tas yang di jinjing anak buahnya. "Letakkan di sana!" tunjuk Walter di dekat kakinya.


Pria itu segera meletakkan tas tersebut di tempat yang sudah di tentukan Walter. Setelah itu mereka menunduk hormat untuk berpamitan.


"Bagaimana dengan mobilnya? Apa kerusakannya parah?"


"Lumayan parah, Bos. Mungkin butuh waktu sekitar satu minggu untuk memperbaikinya."


Walter diam sejenak sebelum mengangguk. "Sekarang kalian boleh pergi."


Pengawal itu segera pergi setelah mendapat perintah. Tidak lupa mereka menutup kembali pintu kamar.


Walter melirik tas milik Rosita yang kini ada di dekat kakinya. Tanpa meminta persetujuan pemiliknya, Walter segera mengambil tas milik Rosita. Dompet milik Rosita menjadi perhatian utama Walter. Pria itu mengambil dompet Rosita dan membukanya.


Kedua matanya melebar ketika melihat foto seorang pria yang sangat ia benci tersemat di dalam dompet tersebut.

__ADS_1


"Alex Moritz? Kenapa foto pria itu ada di sini?"


__ADS_2