
"Kepalaku pusing mengitari mansion ini. Bangunannya sangat rumit. Sepertinya benar kata Tuan Walter. Jika bukan orang yang biasa tinggal di sini, tidak mungkin bisa keluar masuk dengan mudah. Bahkan dengan menggunakan peta saja aku berulang kali melewati tempat yang sama."
Rosita mengukir senyuman ketika melihat pintu masuk utama yang kini berdiri kokoh di depannya. Rasanya ingin sekali dia melompat karena kegirangan. Padahal hanya 30 menit waktu yang ia miliki untuk menghirup udara segar. Tetapi, rasanya dia sudah sangat bahagia sekali.
Rosita mendekati dua pengawal yang berjaga di sana. Ia ingin bertanya, dimana mobil yang di maksud Walter berada.
Namun, lagi-lagi langkahnya terhenti ketika melihat beberapa pria berbadan tegap keluar dari sebuah lorong dan melangkah menuju ke posisinya berada.
"Apa yang ingin mereka lakukan?" gumam Rosita di dalam hati.
Satu pemandangan yang membuat Rosita terkagum-kagum. Ternyata, di balik segerombolan bodyguard tersebut, ada sepasang suami istri yang sedang bersenda gurau. Mereka terlihat sedang bahagia ketika membahas sesuatu. Wanita yang tadi sempat di temui Rosita di dekat kolam renang itu kini merangkul lengan suaminya dengan manja. Sesekali dia mencubit perut suaminya ketika sang suami membuatnya melayang dengan pujian.
__ADS_1
"Nyonya Lara?" ujar Rosita yang hanya berani di dalam hati saja. Ia cepat-cepat menunduk mengikuti pengawal dan pelayan lain yang juga berbaris di samping Rosita. "Mereka pasti orang penting di mansion ini. Semua orang tunduk ketika mereka lewat. Sebenarnya ada berapa banyak orang penting yang tinggal di rumah ini," gumam Rosita lagi.
Lara juga tidak terlalu memperhatikan Rosita di antara barisan pengawal dan pelayan yang kini menundukkan kepala. Wanita itu terlalu bahagia karena ingin berlibur dengan Fabio.
Setelah rombongan Fabio dan Lara berlalu, Rosita mengangkat kepalanya dan segera berjalan ke pintu. Wanita itu seperti sudah tidak sabar untuk pergi. Dia juga hanya di beri waktu sedikit. Jadi harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin.
"Kau mau ke mana?"
Rosita memandang pintu itu lagi dengan wajah bingung. "Lalu, jika aku ingin keluar aku harus lewat mana?"
"Kau ini pelayan baru ya? Bagian mansion mana? Belakang atau samping? Kalau bagian depan sih, sepertinya tidak mungkin," hina pelayan wanita tersebut.
__ADS_1
"Saya pelayan pribadi Tuan Walter," sahut Rosita apa adanya. Apa lagi yang bisa ia ungkapkan? Bukankah bekerja di samping Walter sebagai sekretaris pribadinya itu sama saja dengan pelayan pribadi?
Pelayan wanita yang ada di depan Rosita tertawa meledek. "Apa kau bilang? Pelayan pribadi Bos Walter? Sejak kapan Bos Walter membutuhkan pelayan? Wanita lagi!" ungkapnya dengan wajah tidak percaya.
"Aku tidak bohong! Ini buktinya!" Rosita menunjukkan peta yang ada di genggaman tangannya. "Tuan Walter memberiku peta ini agar aku tidak tersesat."
"Semua orang bisa memilikinya agar tidak tersesat di mansion ini!" ketus pelayan wanita itu yang mulai tidak suka. "Kau satu-satunya pelayan songong yang berani mengaku-ngaku sebagai pelayan pribadi Bos Walter. Sepertinya kau harus di hukum!"
Pelayan wanita itu memegang tangan Rosita. Namun, dengan cepat Rosita menangkisnya. Ia melangkah mundur dan menatap wanita di depannya dengan tatapan tajam.
"Hei, pelayan tidak berguna! Urus saja pekerjaanmu. Aku pastikan Tuan Walter mengetahui semua ini agar kau di pecat!" ancam Rosita gantian. Dia segera melangkah ke pintu dan memutuskan untuk mencari sendiri mobil yang dimaksud Walter.
__ADS_1
Setelah Rosita menjauh, seorang pelayan pria mendekati wanita tersebut. "Dia satu-satunya wanita yang bisa masuk ke dalam kamar Bos Walter. Jadi, bersiap-siap angkat koper," ledek pria itu hingga membuat pelayan wanita tersebut menjadi ketakutan.