Suamiku Pinky Boy

Suamiku Pinky Boy
SPB. Bab 47


__ADS_3

Beberapa saat yang lalu.


Rosita ingin pergi menjauh dari lokasi agar tidak sampai ketahuan oleh Lara dan Dokter Alfred. Sialnya, ada pengawal pria yang menangkapnya dan menuduhnya sebagai mata-mata saat itu. Memang bisa dibilang tingkah laku Rosita sangat mencurigakan. Wanita itu menguping secara sembunyi-sembunyi dan ingin pergi secara diam-diam.


Pengawal itu langsung membawa Rosita ke tempat Dokter Alfred dan Lara berada. Di saat itu, Lara dan Dokter Alfred tidak langsung berpikiran jelek. Mereka masih mau mempercayai penjelasan Rosita. Bahkan meminta pengawal yang sempat menangkap Rosita untuk pergi.


"Nona, anda mendengar pembicaraan kami? Maaf karena sudah membahas tentang anda," ucap Dokter Alfred dengan senyuman. Pria itu sudah tidak bisa mengelak lagi karena Rosita pasti mendengar semua obrolannya bersama Lara.


"Maaf, Tuan. Maafkan saya." Rosita memandang Lara. "Maafkan saya, Nyonya. Saya tidak ada maksud untuk menguping. Kebetulan saya lewat dan saya segan berlalu di depan anda."


"Rosita, aku tidak marah. Duduklah." Lara menunjuk sofa yang ada di dekatnya. Mau tidak mau Rosita duduk di sana. Walau terlihat canggung, tetapi wanita itu berusaha menempatkan dirinya.


"Rosita, kebetulan kau sudah ada di sini. Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan langsung padamu. Aku harap, kau tidak keberatan untuk menjawabnya dengan jujur." Ekspresi wajah Lara terlihat serius hingga membuat debaran jantung Rosita menjadi tidak karuan.


"Ada apa, Nyonya?"


"Sebentar lagi kami akan mengadakan sebuah pesta. Pesta ini kamu adakan agar Walter bisa menemukan jodohnya. Dia sudah lama bekerja bersama suami saya. Selama ini hidupnya hanya dihabiskan untuk melindungi suami saya dari bahaya. Sampai-sampai dia lupa untuk memikirkan dirinya sendiri." Lara menahan kalimatnya. "Saya ingin Walter menemukan wanita yang benar-benar tulus mencintainya. Ya, mengingat jaman sekarang ini sangat sulit menemukan wanita yang mau menerima kekurangan pasangan. Mereka hanya mau kelebihannya saja. Jadi, saya tidak mau sampai Walter bertemu dengan wanita seperti itu!"


Rosita memandang ke arah Dokter Alfred sebelum mengangguk. "Lalu, apa yang bisa saya bantu Nyonya?"


"Menurutmu, wanita seperti apa yang cocok untuk menjadi pendamping Walter? Apa dia harus cantik? Atau berkelas? Atau biasa saja?"


Rosita diam sejenak. Wanita itu seperti sedang memikirkan sesuatu. Dia memandang Lara setelah menemukan jawaban yang pas untuk menjawab pertanyaan Lara.


"Cantik, sukses tidak menjamin seorang wanita akan setia, Nyonya. Terkadang yang biasa saja juga bisa terlihat sempurna. Dia memang kurang dalam hal materi. Tapi, kebanyakan wanita yang sederhana justru lebih sering tampil apa adanya. Dia akan selalu menutupi kelemahan pasangannya dengan kelebihan yang ia miliki," jawab Rosita dengan ekspresi wajah yang serius.


"Seperti itu ya? Baiklah. Aku akan menyimpan saran yang kau berikan." Lara diam sejenak. Lagi-lagi diamnya wanita itu membuat Rosita menjadi canggung. Dokter Alfred sendiri lebih tertarik untuk duduk menjadi pendengar setia. Pria itu mengambil ponselnya dan mengotak-atik layarnya untuk mencari kesibukan sendiri.


"Rosita, apa kau sudah memiliki pacar?"

__ADS_1


Rosita tertegun beberapa saat mendengar pertanyaan Lara. "Pacar, Nyonya?"


"Ya, pacar. Walter bilang kalau kau sudah cukup lama tinggal di mansion ini. Apa pacarmu tidak marah? Dia tidak mencarimu?"


"Saya tidak memiliki pacar, Nyonya."


"Benarkah? Bagaimana kalau kau saja yang menjadi pacar Walter?"


Rosita lagi-lagi di buat syok oleh Lara. Bagaimana bisa wanita itu melamarnya menjadi pacar Walter sedangkan Rosita sendiri tidak tahu bagaimana perasaannya terhadap Walter. Terkadang dia benci sama Walter. Terkadang justru rindu. Rosita masih dilema dengan perasaannya sendiri. Mungkin jika Walter bukan seorang pembunuh, Rosita tidak akan sebimbang ini.


"Saya tidak tahu, Nyonya," jawab Rosita tanpa memandang.


"Tidak tahu?" Lara menaikkan satu alisnya. Melihat ekspresi Rosita saat ini membuat Lara yakin, ada perasaan cinta di dalam hati Rosita untuk Walter. Walau itu cuma sedikit.


"Saya ...." Rosita memandang Dokter Alfred. Ia tadi sudah bilang sama Dokter Alfred, kalau dia tidak akan mungkin mencintai Walter karena Walter seorang pembunuh. Bagaimana mungkin sekarang dia bilang dia juga memiliki rasa sana Walter. Dokter Alfred akan menilainya sebagai wanita yang tidak teguh pendirian.


"Rosita, apa kau mau menjadi sahabatku? Kebetulan aku butuh teman."


"Maaf, Nyonya. Tapi, saya masih tidak paham dengan pembahasan kita hari ini. Sebenarnya apa yang ingin anda katakan Nyonya? Apa anda sedang mengerjai saya. Saya tahu saya ini wanita miskin. Tetapi, saya memiliki harga diri. Tolong jangan permainkan perasaan saya seperti ini. Saya tidak siap, Nyonya."


Lara dan Dokter Alfred menjadi bingung mendengar perkataan Rosita. Sejak awal mereka tidak memiliki niat apapun untuk mengerjai Rosita. Bagaimana mungkin Rosita memiliki pemikiran seperti itu?


"Rosita, kau sudah salah paham. Aku dan Dokter Alfred tidak sedang mengerjaimu." Lara diam sejenak. "Aku akan mengadakan pesta. Aku butuh teman untuk pergi ke sana ke mari. Fabio tidak akan mengizinkan Dokter Alfred selalu ada di sisiku. Dia pria pecemburu. Selama masa mudaku, aku tidak memiliki teman dekat. Aku kesulitan mencari teman. Melihat caramu berbicara aku menjadi tertarik. Sepertinya kita sangat cocok jika jadi teman. Rosita, kau harus percaya padaku. Tidak ada niat sedikitpun untuk mengerjaimu."


Rosita merasa malu. Dia menundukkan kepalanya karena tidak berani memandang Lara lagi. "Maafkan saya, Nyonya."


"Baiklah. Masalah Walter kita lupakan saja. Karena aku sudah resmi menjadi sahabatku, berarti mulai dari sekarang kau tidur di kamar tamu yang letaknya tidak terlalu jauh dari kamarku. Ini akan memudahkan ku jika ingin bertemu denganmu. Bagaimana?"


"Baiklah, Nyonya."

__ADS_1


"Oke, Rosita. Aku memiliki sebuah rencana. Apa kau mau membantuku?"


"Rencana apa Nyonya?"


Lara memandang Dokter Alfred. Dokter Alfred sendiri juga bingung sebenarnya apa yang sudah direncanakan oleh Lara.


"Kau akan tahu sendiri nanti. Ikuti saja apa yang aku perintahkan. Sudah pasti tidak akan merugikanmu," jawab Lara dengan senyuman.


...***...


Rosita masih belum bisa melupakan pertemuannya dengan Lara dan Dokter Alfred tadi. Tiba-tiba saja derajatnya naik menjadi sahabat Lara. Rosita yang tadinya sudah memutuskan untuk pergi dari mansion sekarang justru berubah pikiran. Dia akan melalui hari-hari bersama Lara. Tidur di kamar mewah dan yang paling penting. Mendapatkan fasilitas elit dari Lara.


"Apa yang kau pikirkan? Bisakah kau jelaskan sebenarnya apa yang telah terjadi hingga kau sekarang resmi menjadi sahabat Nyonya Lara?" tanya Walter. Pria itu melirik Rosita melalui spion.


"Saya juga tidak tahu Kak. Sampai sekarang saya masih bingung. Kenapa tiba-tiba Nyonya Lara menjadikan saya sahabatnya."


"Nyonya Lara mungkin merasa bosan. Selama ini dia sendirian ketika Bos Fabio pergi keluar. Sepertinya keputusan Nyonya Lara sangat tepat dengan memilihmu untuk dijadikan temannya. Kau wanita yang baik, Rosita."


Rosita seperti melayang di puji seperti itu oleh Walter. Wanita itu memalingkan wajahnya ke luar jendela karena tidak mau Walter menyadari wajahnya yang kini tersipu malu..


Walter mengambil ponselnya ketika tahu ada pesan masuk di sana. Pria itu membuka pesan tersebut dan membacanya dengan saksama.


Tiba-tiba saja Walter menginjak rem hingga membuat mobil tersebut berhenti mendadak. Rosita yang tadinya gak fokus hampir saja terbentur kursi yang ada di depannya.


"Ada apa?" tanya Rosita. Dia memandang ke depan untuk melihat sebenarnya apa yang terjadi di sana hingga membuat Walter memberhentikan mobil mereka secara mendadak.


"Tidak ada." Walter memasukkan ponselnya ke dalam saku. Pria itu merema*s stir mobil dengan begitu kuat sebelum melajukan mobilnya lagi.


"Walter, tolong jaga calon istriku!"

__ADS_1


Walter menambah laju mobilnya ketika pesan singkat dokter Alfred kembali mengiang di dalam ingatanya. Pria itu ingin segera tiba di mall agar bisa kembali pulang. Sejujurnya pria itu ingin menagih penjelasan dari Dokter Alfred langsung. Pria itu harus menjelaskan maksud dari pesan yang baru saja ia kirimkan.


"Aku akan membunuhmu, Dokter Alfred. Dia baru saja kehilangan istrinya. Bagaimana bisa dia berpikir untuk menikah lagi. Secepat ini?" Bukankah dia pernah bilang kalau dia sangat mencintai istrinya!"


__ADS_2