
Walter tiba di lokasi lebih dulu. Pria itu memperhatikan anak buahnya yang ikut sebelum memandang ke depan lagi. Senjata api telah siaga di genggaman. Kapan saja musuh muncul, dia telah siap untuk bertarung. Namun, satu hal yang membuat Walter sedikit tidak tenang. Fabio tidak juga muncul. Padahal sudah hampir 15 menit mereka tiba di lokasi. Biasanya Fabio tidak pernah terlambat seperti ini.
"Apa Bos Fabio tidak bisa keluar karena Nona Lara melarangnya?" gumam Walter di dalam hati.
Karena tidak mau terus menerus memikirkan tentang Fabio, akhirnya Walter kembali mengamati gedung yang ada di hadapannya. Bangunan itu adalah bangunan sekolah yang sudah tidak terpakai. Kebakaran besar membuat bangunan sekolah itu tidak terpakai lagi. Karena bekas bangunan sekolah, markas musuh yang mereka amati kali ini memiliki banyak jendela dan dikelilingi pagar.
Sekilas di lihat memang tidak ada sesuatu yang menarik di sana. Tidak banyak orang yang tahu kalau sebenarnya bangunan itu sekarang digunakan sebagai tempat eksekusi orang-orang penting. Pemilik bangunan itu adalah mafia yang tugasnya sebagai pembunuh bayaran. Sasaran mereka kali ini adalah orang terdekat dari Fabio. Hingga akhirnya, Walter harus turun tangan langsung sebelum orang tersebut celaka.
"Ada berapa orang di dalam?" tanya Walter. Ia mengambil teropong dan mengamati orang-orang yang berjaga di depan gerbang.
"Sekitar 20 orang, Bos. Mereka menggunakan MG-42," jelasnya.
Walter mengeryitkan dahi. Senjata yang di pegang musuh bukan main-main dahsyatnya. Bagaimana tidak. MG-42 dapat mengeluarkan 1.200 peluru per menitnya. Jika tidak pandai menghindar dan bersembunyi, bisa-bisa Walter dan pasukannya mati konyol dalam misi malam ini.
"Setiap senjata memiliki kelemahan. Termasuk senjata canggih yang kini mereka gunakan," jawab Walter dengan santainya. Sepertinya pria itu telah menyimpan cara untuk mengatasi serangan peluru dari musuh.
Tiga mobil sedan berwarna hitam muncul. Walter mengeryitkan dahinya dan berusaha melihat wajah orang yang ada di dalam mobil. Wajahnya semakin serius ketika dia melihat sosok yang akan mereka lindungi ada di salah satu mobil sedan tersebut. Misi akan di mulai. Ada atau tidak adanya Fabio. Karena memang sejak Fabio menikah, Black Dragon telah jatuh ke tangan Walter. Semua pasukan akan patuh dan tunduk atas perintah Walter.
"Ikut aku lima orang. Sisanya tetap di sini dan lindungi kami dengan sniper," perintah Walter.
__ADS_1
"Baik, Bos."
Walter melangkah maju dengan langkah yang cepat namun tetap hati-hati. Ketika musuh sudah tidak lagi terlihat. Ia terus saja memperhatikan kanan dan kiri. Sniper telah berjaga-jaga. Walter melangkah di titik yang selalu kelihatan oleh para sniper miliknya.
"Awas, Bos!"
DUARR DUARR
Walter yang lebih dulu menembak ketika seorang pria muncul secara tiba-tiba. Walau mereka berhasil mengalahkan pria tersebut, tetapi mereka justru mendapat masalah baru. Suara tembakan itu telah terdengar oleh semua orang yang ada di dalam markas. Kini semua orang keluar ingin menangkap seseorang yang mereka anggap sebagai penyusup.
Sniper mulai menembak. Itu menandakan kalau keadaan tidak lagi aman. Walter dan lima pasukan yang ikut bersamanya bersembunyi di balik pagar yang dipenuhi rumput. Mereka harus bisa mengalahkan musuh yang muncul agar bisa masuk ke dalam dan menyelamatkan target.
"Saya akan maju dan mengalahkan mereka semua!" ucap Walter penuh percaya diri.
Ketika beberapa kali menembak, Walter merasa sakit pada bagian tangannya ketika mengangkat senjata apinya ke depan. Wajar memang. Karena memang baru hitungan jam saja dia tertembak. Bukannya istirahat, kini justru pria itu harus bertarung lagi melawan musuh. Siapapun orangnya, pasti akan merasa lelah. Tetapi, walau sedang dalam keadaan sakit. Walter tetap bersikap profesional. Dia bertarung seolah dirinya baik-baik saja.
"Bos, awas!" teriak pasukan yang di bawa Walter. Walter kali ini kebingungan. Musuh muncul dari arah depan, belakang dan samping. Sniper terus saja menolong mereka. Namun, jumlah sniper yang di bawa Walter juga tidak sebanding dengan musuh yang harus mereka hadapi.
Di detik di mana Walter mulai bingung. Fabio muncul bersama pasukan yang lebih banyak lagi. Senyum mengembang di bibir Walter ketika melihat bos nya itu muncul dengan senjata canggih. Ternyata sebuah status pernikahan tidak menghalangi seorang Fabio untuk turun tangan melawan musuh.
__ADS_1
"Apa kau terluka?" tanya Fabio ketika melihat darah yang merembes di baju Walter.
"Tidak, Bos," jawab Walter penuh semangat.
DUARRR
Baru saja Walter mau menembak, tiba-tiba sebuah peluru mendarat di perutnya. Pria itu mematung memandang wajah Fabio. Awalnya Fabio tidak sadar. Orang yang menembak Walter adalah penembak jitu yang tidak tahu dimana keberadaannya.
Walter menunduk dan memegang darah yang mengalir. Fabio menunduk sebelum melebarkan kedua matanya. Pria itu sangat syok melihat keadaan orang kepercayaannya yang tiba-tiba saja menjadi sangat serius.
"Walter, bertahanlah!" ujar Fabio.
Samar-samar Walter masih bisa mendengar dan melihat Fabio. Namun, lama kelamaan semua berubah gelap hingga Walter tidak lagi sadarkan diri.
"Walter!" Fabio menembak musuh yang ingin menembaknya. "Bawa dia ke mansion!"
"Baik, bos!"
Fabio memilih untuk memimpin pasukan dan menuntaskan serangan mereka malam ini. Lima orang yang bersama Walter tadi membawa Walter menuju ke mobil. Salah satu dari mereka segera menekan nomor dokter Alfred. Mereka tidak membawa Walter ke rumah sakit. Di dalam mansion Fabio juga sudah dilengkapi dengan fasilitas yang sama persis dengan rumah sakit. Mereka hanya perlu bantuan dokter saja.
__ADS_1