Suamiku Pinky Boy

Suamiku Pinky Boy
SPB. Bab 26


__ADS_3

Rosita masih tidak percaya kalau sekarang dia berada di sebuah penjara dengan kaki dan tangan yang terikat. Penampilannya sungguh berantakan. Seseorang memotong rambutnya hingga pendek. Pakaian yang ia kenakan koyak dan kotor. Aroma tubuhnya sungguh tidak sedap karena jika ingin buang air besar atau air kecil, ia harus melakukan di situ juga. Ia di siksa seolah-olah dia itu orang yang sangat berbahaya dan banyak merugikan orang lain.


Bibir Rosita pucat. Ia seperti tidak memiliki semangat untuk hidup. Rosita merasa lelah dan lemah. Selama di dalam tahanan itu, dia hanya di beri makan dua hari sekali. Itu juga makanannya sangat tidak enak. Di perbolehkan mandi namun dia harus bertelanjang di depan semua pria. Jelas saja Rosita menolak dan akhirnya dia harus menahan bau busuk yang melekat di tubuhnya.


Hatinya terus saja menyalahkan Dokter Alfred. Bukan hanya Dokter Alfred yang jadi sasaran. Bahkan Rosita juga menyesali pertemuannya dengan Walter. Andai saja mereka tidak pernah bertemu maka semua ini tidak akan terjadi.


Nenek Maria tidak tahu entah dimana. Mereka di bawa ke tempat yang berbeda. Sepertinya mereka tahu kalau Nenek Maria memiliki kemampuan membuat penawar racun. Hingga akhirnya mereka membawa Nenek tua itu untuk dimanfaatkan.


Suara langkah kaki seseorang membuat Rosita membuka matanya. Ia bahkan sudah tidak sanggup mengangkat kepalanya sendiri karena terlalu lemah. Lalat yang berterbangan membuat Rosita ingin berteriak. Sayangnya tenggorokannya kering hingga ia kesulitan untuk berucap. Bahkan lidah dan bibirnya sariawan hingga meninggalkan rasa perih yang begitu menyiksa.


Seorang pria masuk ke dalam penjara itu dan duduk di depan Rosita. Ia memperhatikan Rosita dari ujung kaki hingga ujung kepada. Wajahnya seperti menghina penampilan Rosita saat itu. Namun, pria itu sepertinya tahu kalau wajah Rosita sangat cantik. Hanya saja kini penampilannya yang kotor membuat kecantikan itu tidak terlihat.


"Kirimkan seseorang untuk memandikan wanita ini! Sepertinya dia akan bernilai mahal malam ini," perintah pria itu kepada pria di belakangnya.


Dari nada bicaranya saja Rosita sudah tahu kalau pria di depannya memiliki niat jahat. Namun, mau bagaimana lagi? Bicara saja tidak sanggup apa lagi berteriak?


Pria itu mendekati Rosita. Tetapi, baru beberapa langkah dia sudah tidak sanggup karena aroma tubuh Rosita sungguh menyiksa. Dia meludah tepat di hadapan Rosita.


"Wanita yang sungguh menjijikkan. Jika malam ini kau tidak memberiku keuntungan yang besar, aku akan menjadikanmu makanan serigala peliharaanku! Sudah sampai beberapa hari tetapi tidak ada tanda-tanda seseorang mencaimu! Sepertinya kau benar-benar wanita yang tidak berguna!" umpat pria itu. Dia segera pergi setelah puas menghina Rosita.


Rosita tersenyum pahit mendengar penghinaan pria itu. Dia berusaha lagi membuka tali ikatan di tangannya sampai-sampai tanpa sadar, pergelangan tangannya mengeluarkan darah. Itu juga akhirnya tali tersebut tidak terlepas.

__ADS_1


"Perih. Ini sungguh perih," keluh Rosita di dalam hati. Wanita itu meneteskan air mata sebelum memejamkan mata. Hanya tidur yang bisa membuat Rosita melupakan kesengsaraan ini.


Di sisi lain, Walter telah berhasil mengantongi informasi mengenai lokasi tempat Rosita di sekap. Namun, pria itu juga tidak bisa gegabah. Dia harus menyusun strategi agar bisa menyelamatkan Rosita tanpa harus membuat wanita itu celaka.


Berdasarkan informasi yang di dapat Walter, Rosita di tangkap oleh segerombolan pemburu yang ada di hutan. Lalu wanita itu di jual kepada sebuah komplotan yang suka menjual wanita.


Sebenarnya detik ini Walter juga masih belum tenang. Dia takut datang terlambat. Dia takut ketika nanti berhasil menghancurkan markas orang yang sudah menyekap Rosita, justru Rositanya sudah tidak ada di sana. Hal yang paling menakutkan bagi Walter adalah melihat wanita itu sudah tidak bernyawa. Walter tahu, bagaimana menderitanya Rosita saat ini. Hanya membayangkannya saja sudah membuat Walter prihatin.


"Bos, malam ini mereka akan pergi ke kota. Penjara bawah tanah adalah tempat semua wanita yang ingin mereka jual di sekap Bos. Kemungkinan Nona Rosita ada di penjara itu. Tetapi, kita tidak bisa masuk ke sana. Akses ke dalam hanya satu jalan. Tidak ada jalan lainnya lagi. Jika sampai ketahuan, mereka akan meledakkan penjara bawah tanah untuk menghilangkan barang bukti. Ini bukan sekali dua kali mereka lakukan. Saya takut, Nona Rosita celaka jika kita sampai salah ambil tindakan," jelas pria itu dengan wajah yang serius.


"Berapa orang yang menjaga di depan pintu masuk?"


"Sekarang kita fokus ke lima orang yang ada di depan. Kita harus bisa menjadi bagian dari mereka agar bisa memeriksa keadaan di dalam bawah tanah." Walter melepas jaket dan meletakkan barang-barang bawaannya di bawah.


"Apa yang ingin anda lakukan, bos?"


"Saya akan turun tangan langsung," sahut Walter.


"Tidak, Bos. Serahkan tugas ini kepada kami," tolak pengawal itu. Dia tidak mau sampai Walter celaka. Apa lagi pria itu baru saja terbangun dari masa-masa kritisnya.


"Jangan! Rosita ada di tempat ini karena untuk menyelamatkan nyawaku. Bukankah setimpal jika nyawa di bayar nyawa?"

__ADS_1


Walter mengantongi belatih kecil miliknya dan bejalan maju dengan penuh waspada. Bawahan Walter segera mengambil tindakan. Sebagian naik ke atas pohon untuk menjaga Walter dengan sniper. Sisanya mengikuti Walter dari belakang namun tetap memberi jarak agar tidak ketahuan musuh.


Walter bersembunyi di balik pohon ketika empat orang penjaga sedang asyik mengobrol sambil memainkan kartu. Pria itu mengincar seorang pria yang saat itu sedang tidur. Walter berjalan mengendap-endap sebelum membius pria yang tidak tadi. Setelah berhasil, Walter segera menarik pria itu. Di bantu oleh bawahannya.


Tanpa pikir panjang, Walter melepas pakaian pria itu dan mengenakannya. Dia ingin segera masuk ke dalam penjara bawah tanah untuk mencari keberadaan Rosita.


"Bos, biar kami yang mengamankan pria ini!" ucap bawahan Walter.


Walter mengangguk. Dia segera beranjak dan berjalan santai menuju ke tempat tidur. Empat rekan yang tadi sedang main kartu memandang ke Walter. Tetapi, karena sedang asyik, mereka kembali melanjutkan permainan.


"Tadi bos meminta kita untuk membersihkan wanita yang baru datang itu! Apakah orang yang bertugas untuk melakukannya sudah sampai?" tanya salah satu pengawal itu.


"Dia masih di jalan. Sebaiknya kita tunggu saja." Pria itu memandang Walter yang duduk di atas tempat tidur. "Hei, tukang tidur! Pergilah ke dalam dan bawa keluar tahanan nomor 10. Ingat, jangan sampai salah lagi. Kau akan kami hukum jika melakukan kesalahan lagi!" ancamnya dengan wajah serius.


Walter hanya mengangguk sebelum masuk. Pria itu mengepalkan kedua tangannya untuk menahan emosi yang sudah naik ke ubun-ubun. Walter tidak suka diperintah dengan kasar seperti itu. Tetapi, karena sedang dalam misi penyamaran, pria itu tidak terlalu mempermasalahkannya.


Walter menahan langkah kakinya ketika sudah tiba di dalam. Pria itu ingin muntah. Ia menutup hidungnya dengan tangan. Tangannya yang satu mencari-cari sesuatu yang bisa menutup mulut dan hidungnya. Pria itu menemukan masker di dalam saku. Sesegera mungkin Walter menggunakan masker tersebut lalu dia lanjut jalan.


Langkah Walter terhenti melihat wanita berambut pendek yang kini dalam posisi menunduk. Wanita itu seperti sedang tidur. Ia sama sekali tidak peduli ketika Walter memandangnya seperti itu.


"Rosita? Apa benar dia Rosita?"

__ADS_1


__ADS_2