
Rosita termangu mendengar pertanyaan Walter. Rasanya pertanyaan itu seperti pertanyaan yang aneh dan gak harus di jawab. Kenapa harus bertanya seperti itu? Sedangkan dia baru tadi mendengar namanya. Bagaimana bisa Walter menuduhnya sebagai kekasih Alex Moritz. Bahkan lebih parahnya. Orang bayaran Alex Moritz. Seorang mata-mata!
Seumur hidup Rosita, tidak pernah menyangka akan mendapat tuduhan separah ini. Bahkan memukul nyamuk saja tidak mati, bagaimana bisa Walter menuduhnya sebagai seorang mata-mata?
"Maaf, Tuan. Tapi saya tidak mengerti apa maksud Anda." Rosita memungut tas dan dompet miliknya yang tergeletak di lantai. Memasukkan dompet ke dalam tas sebelum memandang wajah Walter lagi. "Kenapa tas ini bisa ada di sini? Bukankah tadi ada di mobil?" gumamnya yang hanya berani di dalam hati saja. Dia tidak akan berani menanyakan hal itu secara langsung di depan Walter.
"Kau takut?" Walter tidak bisa duduk tenang di kursi rodanya. Lagi-lagi pria itu mengabaikan nasehat Dokter Alfred. Dia berdiri dan berjalan agar bisa lebih dekat dengan Rosita. "Kau takut ketahuan? Kau pasti tidak menyangka kalau aku bisa membongkar rencanamu secepat ini kan!"
Walter benar-benar marah. Tetapi marahnya terlihat aneh. Marah Walter tidak seperti sedang memergoki seorang pengkhianat. Melainkan memergoki pacar selingkuh. Sungguh lucu karena marah pria itu sama sekali tidak menakutkan. Semua barang masih ada pada tempatnya. Biasanya setiap kali Walter marah, semua barang itu sudah berserak di lantai. Belum lagi mengeluarkan senjata untuk mengancam musuh agar bisa segera berkata jujur.
"Sebenarnya Tuan Walter ini kenapa sih!" gumam Rosita di dalam hati lagi. Rosita semakin bingung. Namun, ada rasa sakit hati ketika di tuduh melakukan sesuatu yang sama sekali dia tidak tahu.
"Tuan, ada yang ingin saya katakan. Sepertinya saya bukan kriteria pelayan yang cocok merawat anda. Saya sudah memutuskan untuk mengundurkan diri saja dari pekerjaan ini. Toh saya belum menerima gaji, jadi anda tidak rugi!" ucap Rosita. Wanita itu sama sekali tidak paham kalau bukan sekarang waktu yang tepat untuk mengatakan kalimat seperti itu.
Walter semakin emosi. Pria itu tidak suka Rosita seperti ini. Dia maunya Rosita mengaku kalau memang apa yang ia katakan benar. Dan meminta maaf. Atau memohon ampun. Bukan pergi mengundurkan diri seperti apa yang baru saja diucapkan Rosita.
"Kau mau pergi setelah rencana licikmu ketahuan! Kau benar-benar licik, Rosita!" Bahkan Walter tidak mau lagi memanggil Rosita dengan sebutan Pibi.
__ADS_1
Walter menarik tangan Rosita dan menggenggamnya dengan kuat. Sangat kuat hingga Rosita kesakitan. Tas yang sempat di genggaman Rosita kembali tergeletak di lantai.
"Tuan, lepaskan. Sakit ...," lirih Rosita dengan wajah memohon. Berharap Walter mau luluh dan segera melepaskannya. Namun, Walter pria yang keras hati. Tidak akan mungkin hatinya luluh hanya dengan mendengar rengekan Rosita.
"Kau harus di hukum! Kau tidak akan bisa keluar dari sini tanpa izin dariku!"
Rosita mulai meneteskan air mata. Kali ini bukan tangannya saja yang sakti. Tapi hatinya juga. Rosita tidak tahu harus bagaimana lagi. Ia sama sekali tidak mengerti dengan tuduhan yang dimaksud Walter. Bahkan ada masalah apa antara Walter dan Alex Moritz saja dia tidak tahu.
"Tuan, saya ingin jujur. Tapi, tolong lepaskan tangan saya. Tolong."
Walter menghempaskan tangan Rosita hingga wanita itu melangkah mundur. Walter memegang perutnya yang terasa nyeri. Rosita melirik ke perut Walter yang lagi-lagi pendarahan.
"Cepat katakan!" ketus Walter. Pria itu seperti sudah tidak sabar mendengar pengakuan Rosita.
"Baiklah. Pertama-tama saya ingin minta maaf karena sudah membohongi anda." Rosita mengusap pergelangan tangannya yang memerah.
Rosita menarik napas dan memejamkan mata sejenak. Rasanya dia tidak menyangka akan secepat ini mengatakan yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
"Saat anda menabrak saya di jalan kemarin, sebenarnya saya ingin pergi untuk melamar kerja."
Walter mengeryitkan dahinya. Dari cerita awalnya saja Walter sudah merasa tidak yakin kalau kejujuran Rosita menyangkut Alex Moritz.
"Saya memutuskan untuk membatalkan interview dan mendatangai perusahaan tempat anda bekerja. Saya pikir dengan luka di kaki ini, saya bisa mendapatkan posisi yang bagus tanpa harus interview. Dan, ternyata semua berjalan sesuai dengan rencana. Saya berhasil bekerja di perusahaan itu tanpa-"
"Lalu, apa hubunganmu dengan Alex Moritz? Apa yang sudah dia perintahkan! Berapa dia membayarmu, Rosita!"
Walter mendekati wajah Rosita hingga posisi mereka sangat dekat. Rosita memandang wajah Walter dengan mata berkaca-kaca.
"Alex Moritz? Saya tidak mengenalnya, Tuan. Saya-" Rosita mengepal kuat tangannya sebelum menatap wajah Walter lagi. "Saya hanya tidak sengaja menabrak mobil pria itu lalu tiba-tiba Dokter Alfred menarik saya pergi dari sana. Saya tidak mengenalnya!" Rosita mengacungkan dua jari hingga berbentuk V. "Sumpah, Tuan. Sumpah. Saya tidak bohong."
Cup.
Walter tiba-tiba saja mencium Rosita. Bibir mereka saling bersentuhan. Entah apa yang ada di pikiran pria itu. Padahal topik pembahasan mereka belum selesai tetapi dengan lancangnya Walter mencium wanita yang baru ia kenal satu hari itu.
Rosita yang syok hanya mematung tanpa melakukan apapun. Dia menekan dada Walter sambil mengatur irama jantungnya yang tidak karuan. "Apa ini?" gumamnya di dalam hati.
__ADS_1
Walter ambruk. Pria itu terjatuh dengan mata terpejam. Rosita segera memegang Walter agar kepalanya tidak terbentur.
"Tuan, bangun tuan." Rosita menepuk pipi Walter. Meletakkan pria itu di atas pangkuan. "Tolong! Tolong!"