
Rosita baru saja tiba di lokasi pesta. Wanita itu turun dari tangga secara hati-hati. Ada sebuah topeng digenggaman tangannya. Malam itu Rosita mengenakan dres merah menyala dengan taburan kristal di bagian dadanya. Dres itu panjang hingga menutupi mata kakinya. Rosita tidak didampingi oleh siapapun. Lara memintanya datang ke lokasi pesta dengan alasan wanita itu adalah sahabatnya sekarang. Dia tidak tahu kalau pesta ini adalah acara yang sengaja disiapkan oleh Lara dan Dokter Alfred untuk membuat Walter dan Rosita jadian. Rosita harus tertarik bahkan jatuh hati sama Walter. Apapun caranya!
Pesta yang tadinya ingin dijadikan ajang untuk mencari jodoh Walter, kini dibatalkan. Pesta ini justru banyak di datangi tamu yang rata-rata berpasangan. Bahkan wanita single tidak di undang agar rencana menyatukan Rosita dan Walter berhasil.
“Kenapa ramai sekali? Semua orang memakai pakaian yang bagus. Itu berarti semua orang yang ada di lokasi pesta ini berasal dari kalangan atas. Apa aku pantas bergabung dengan mereka? Bagaimana kalau caraku bicara atau tingkah lakuku tidak sesuai dengan selera mereka?” guma Rosita di dalam hati. Wanita itu memakai topengnya. Entah kenapa Lara memintanya untuk memakai topeng. Padahal jelas-jelas di lokasi pesta itu tidak ada yang memakai topeng.
Rosita berjalan dengan wajah yang tenang awalnya. Namun, ketika semua mata tertuju padanya, dia mulai gugup. Bahkan melangkah saja menjadi sulit. Kakinya terasa berat. High Heels yang ia pilih malam itu berwarna hitam. Punggungnya yang terbuka membuat semua mata tertuju pada keindahan warna kulit miliknya. Setiap jejak kaki yang dilakukan Rosita memamerkan lekuk kaki jenjangnya yang indah. Ada belahan di samping hingga ke paha. Bibirnya yang merah mengukir senyuman kecil dengan wajah ramah. Dia berusaha menyapa semua orang yang memandangnya. Namun, karena tamunya terlalu banyak. Dia pada akhirnya tidak tahu harus bagaimana lagi.
Rosita mencari-cari Lara di lokasi pesta. Tetapi, wanita itu tidak tahu entah ada dimana. Dokter Alfred dan Walter juga tidak terlihat. “Apa Dokter Alfred tidak diundang di pesta ini? Tapi, mana mungkin,” guma Rosita sambil berjalan menuju ke meja yang berisi dengan minuman aneka warna. Tiba-tiba saja tenggorokannya menjadi kering karena merasa gugup.
“Di mana Nyonya Lara. Apa yang harus aku lakukan sekarang?” ucap Rosita pelan.
Setelah beberapa menit mencari, akhirnya Rosita menemukan keberadaan Lara. Wanita itu tersenyum bahagia. Dia mulai bisa bernapas lega. Rosita meletakkan gelas yang ada di tangannya sebelum berjalan.
Posisi Lara ada di seberang lantai dansa. Mau tidak mau Rosita harus melewati lantai dansa. Walau ini akan membuatnya canggung, namun dia sangat ingin bertemu dan mengobrol dengan Lara daripada berdiri sendirian seperti sekarang.
Rosita terlihat sangat anggun dan seksi. Wanita itu mengukir senyuman indah sambil memperhatikan para tamu undangan. Ketika dia sudah tiba di lokasi dansa, tiba-tiba semua memakai topeng. Wanita itu semakin bingung. Dia terjebak di tengah-tengah dan tidak memiliki jalan untuk keluar. Kedua kakinya melangkah ke kanan ke kiri sambil memamerkan lekuk tubuhnya yang indah.
Tiba-tiba saja tangan dingin seorang pria berada di pinggang kanannya. Rosita memiringkan kepalanya ke kiri untuk melihat wajah sang pemilik tangan. Wanita itu terdiam sejenak. Di lihat dari sorot matanya saja ia sudah tahu kalau pria yang berani menyentuhnya adalah Walter. Namun, dia kurang yakin karena malam itu pria di depannya terlihat ramah. Tersenyum manis dan sungguh lembut. Bukankah Walter yang di kenal Rosita adalah seorang pembunuh yang tidak memiliki hati dan sulit untuk berbicara?
“Maaf, anda siapa? Saya tidak kenal dengan anda.”
Rosita berusaha melepas tangan pria itu. Tapi, bukan terlepas dan berhasil menghindar. Justru Rosita bergabung dengan para tamu di lokasi dansa. Pria itu menggerakkan pinggang Rosita dengan ahli. Satu tangannya meraih tangan Rosita lalu membawa wanita itu berputar indah. Rambut Rosita berterbangan saat tubuhnya berputar. Bahkan pria itu mengambil sebagian rambutnya lalu menghirup aromanya dengan penuh perasaan.
Rosita memperhatikan kedua mata indah milik pria yang kini menyentuhnya. Senyum kecil dari bibir pria itu terlihat sedang memujinya. Rosita masih berusaha untuk kabur. Tapi, dengan sangat elegan pria itu menahan gerakannya. Pria itu justru semakin ahli membuat Rosita berdansa dengan indah.
Melihat dansa Rosita yang sangat indah membuat para tamu yang ada di lantai dansa menyingkir. Mereka lebih memilih untuk menonton pertunjukkan dansa daripada harus ikut bergabung. Lampu sorot hanya menerangi tubuh Rosita dan pasangan dansanya.
__ADS_1
Rosita memperhatikan tamu undangan. Wanita itu semakin malu. Perasaannya tidak karuan. Tadinya bahkan dia sempat berpikir untuk menampar wajah pria bertopeng yang sudah memaksanya berdansa. Namun, jika keadannya seperti ini. Dia akan malu sendiri karena di cap tidak profesional.
“Tuan, siapa anda? Tolong lepaskan saya. Saya tidak pandai berdansa,” ucap Rosita dengan nada yang lembut. Berharap pria itu luluh dan mau membebaskannya.
Pria itu hanya mengukir senyuman. Dia meletakkan satu jarinya di bibir Rosita tanpa mau mengatakan satu katapun. Dia kembali mengajak Rosita berdansa dengan begitu indah.
Rosita memandang pria itu sejenak sebelum memutar tubuhnya. Pria itu meletakkan kedua tangannya di lengan Rosita dan membelainya dengan penuh kelembutan dan perasaan. Rosita memejamkan mata saat menikmati sentuhan pria itu. Ia mengukir senyuman tipis lalu memutar lagi tubuhnya. Rosita hampir terhanyut.
Pria itu meletakkan tangannya di paha kiri Rosita. Satu tangan Rosita ia letakkan di pundaknya. Dengan gaya manja, Rosita menjatuhan tubuhnya ke belakang. Secara spontan, tangan pria itu menahan pinggang Rosita. Ia menunduk lalu mendekatkan wajahnya di depan leher Rosita. Napas hangat pria itu bisa dirasakan dengan jelas oleh Rosita. Aroma farpum pria itu membuatnya tidak sadar untuk sementara waktu. Dia seperti terbang melayang. Pria bertopeng itu memperlakukannya dengan begitu manja. Meratukannya hingga membuat Rosita lupa diri kalau dia hanya wanita biasa yang tidak memiliki kelebihan apapun.
“Piby, are you ready?” bisik pria itu dengan suara beratnya.
“Pibi?” Rosita melebarkan kedua matanya. Dia ingat Walter. Hanya Walter yang memanggilnya dengan nama itu.
Rosita mengeryitkan dahinya. Dengan gerakan cepat tubuh Rosita di tarik agar berdiri dan berada di hadapan pria tersebut. Ya, pria itu adalah Walter. Dia harus mengikuti saran Dokter Alfred hingga bisa menghasilkan dansa yang indah seperti ini. Awalnya dia hanya pria kaku yang tidak akan mungkin bisa pandai berdansa. Karena latihan singkat, pria itu akhirnyabisa mengajak Rosita berdansa dengan gaya yang profesional. Ini salah satu bentuk cinta Walter untuk Rosita. Pria itu rela melakukan apapun agar bisa meluluhkan hati pujaannya.
Beberapa menit kemudian, dansa itu berada pada puncaknya. Rosita mengalungkan satu tangannya di leher Walter lalu menjatuhkan tubuhnya ke belakang. Tangan pria itu menahan pinggangnya. Kedua matanya menatap mata Rosita tanpa berkedip.
Sorak tepuk tangan terdengar begitu meriah. Suara tepuk tangan itu menyadarkan Rosita dari lamunannya sejenak. Walter membantunya berdiri. Ia menyelipkan rambut Rosita ke belakang telinga. “Kau sangat cantik malam ini,” puji Walter lagi.
Rosita masih mematung memperhatikan Walter. Rasanya seperti mimpi bisa mendapatkan pujian dari pria seperti Walter. “Kak, apa ini Kak Walter?”
Walter membawa Rosita ke meja yang berisi minuman. Dia tahu kalau wanita itu pasti kehausan. Dia mengambil dua gelas minuman dan memberikannya satu kepada Rosita sebelum dia meminumnya sendiri. Rosita memilih untuk segera meneguk minuman itu. Sambil menelan minumannya, lagi-lagi dia memperhatikan Walter dengan saksama.
“Bravo! Bravo, Walter!” teriak Dokter Alfred. Pria itu sangat bangga melihat Walter. “Kau memang hebat!”
“Dokter Alfred?” Lara mengeryitkan dahinya. Karena merasa terlalu panas Rosita melepas topengnya. Walter melirik Rosita sebelum melepas topengnya juga. Pria itu kembali meneguk minumannya sampai habis.
__ADS_1
“Kalau kita berjuang demi cinta, rasanya tidak ada lelahnya. Bukankah begitu Walter?” ledek Dokter Alfred.
“Cinta? Apa maksud anda, Dok?” tanya Rosita bingung.
“Rosita, malam ini kau sangat cantik.”
Lara muncul bersama dengan Fabio. Wanita itu terlihat sangat anggun dengan gaun hitam yang begitu pas ditubuhnya. Dia merangkul lengan suaminya dengan manja dan mengukir senyuman yang begitu indah.
“Saya ....” Rosita merasa malu. Dia memandang Lara lagi dan memujinya. “Anda juga sangat cantik.”
Lara hanya bisa tersenyum. Dia memandang Walter yang saat itu berdiri sambil memikirkan sesuatu. “Apa kau sudah siap?”
Walter tiba-tiba berubah gugup. Pria itu memandang Dokter Alfred seolah meminta persetujuan pria itu atas keputusan yang akan ia ambil. Dokter Alfred sendiri hanya mengangguk setuju. Dia menepuk pelan pundak Walter dan mendekatinya.
“Kau pasti berhasil!” bisiknya pelan.
Walter memandang ke arah Rosita. Di belakang wanita itu muncul beberapa pelayan yang sedang membawa bunga. Lokasi berubah menjadi romantis. Lampu di buat temaram hingga perhatian semua orang lagi-lagi hanya tertuju kepada Walter dan Rosita.
Rosita yang bingung, melangkah mundur sambil memperhatikan keadaan sekitar. “Ada apa ini?” tanyanya pelan.
Walter menghela napas panjang sebelum memandang ke arah Rosita tanpa berkedip. Walau terkesan sangat mendadak dan terlalu cepat, tapi dukungan dari Dokter Alfred dan Lara bisa membuat Walter berani melakukan semua ini.
“Kenapa Kak Walter memandangku seperti itu? Sebenarnya apa yang dia pikirkan?” gumam Rosita di dalam hati.
Walter berlutut di depan Rosita. Dia mengambil cincin yang sudah ia persiapkan di dalam saku. Membuka kotak biru itu dan memamerkan cincin berlian yang ia pesan khusus untuk Rosita.
“Rosita, apakah kau mau menikah denganku?”
__ADS_1