Suamiku Pinky Boy

Suamiku Pinky Boy
SPB. Bab 43


__ADS_3

Bukan hanya Walter saja yang panik melihat Rosita memegang sebuah senjata tajam. Tetapi tetapi dokter Alphard juga panik. Mereka berdua berpikir kalau Rosita ingin bunuh diri. Mereka mengira kalau Rosita belum sembuh dan masih dalam keadaan depresi.


Rosita sendiri terlihat santai saja melihat dua pria yang kini mengkhawatirkannya. Wanita itu memetik sebuah apel yang ada di dekatnya dan mengupas kulitnya secara perlahan.


Walter berjalan selangkah demi selangkah. Ia ingin merebut belati yang kini ada di tangan Rosita. Tidak peduli kalau sekarang benda tajam itu digunakan untuk mengupas kulit buah. Benda itu sangat tidak pantas dipegang oleh wanita yang baru sembuh seperti Rosita.


Dokter Alfred diam di tempat sambil memperhatikan Rosita dengan seksama. Pria itu mungkin juga akan berlari jika Rosita menunjukkan gerak-gerik yang mencurigakan.


Ketika Rosita ingin membelah buah apel, tiba-tiba saja Walter merebut belatih berukuran sedang itu. Dia melemparkannya ke tempat yang lumayan jauh dari jangkauan Rosita.


"Apa yang anda lakukan, Tuan? Kenapa anda melempar pisau itu ke sana? Sekarang bagaimana caranya aku memotong buah ini!" protes Rosita.


"Darimana kau mendapatkan senjata berbahaya seperti itu?" tanya Walter dengan emosi tertahan.


"Aku menemukan benda itu di bawah pohon. Aku pikir itu memang disediakan untuk orang-orang yang ingin memakan buah di sini," jawab Rosita apa adanya. "Apa ada yang salah?"


Dokter Alfred mengambil belatih yang tergeletak di atas dedaunan kering. Pria itu memperhatikan belatih tersebut dan menemukan tulisan Black Dragon di sana. Sudah jelas kalau senjata itu milik pasukan Black Dragon yang mungkin tidak sengaja terjatuh atau tertinggal.


"Apa ini milikmu? Di sini tertulis nama Black Dragon," tanya Dokter Alfred.


"Tidak. Itu tidak milikku," jawab Walter. Pria itu mendekat dan mengambil belatih tersebut sebelum memeriksanya secara detail. Apa yang dikatakan dokter Alfred memang benar kalau belati itu mirip pasukan Black Dragon. Namun, yang jadi pertanyaan Walter. Untuk apa anggotanya ada di kebun ini? Bukankah jika mereka ingin memakan buah mereka hanya tinggal ambil di kulkas dan di dapur? Tidak ada batasan bagi anggota Black Dragon untuk menikmati makanan dan minuman yang ada di mansion ini. Prinsip Fabio, semua yang ada di mansion adalah keluarga. Tidak ada batasan antara atasan dan bawahan kecuali saat sedang bekerja!


"Tapi selama aku berada di kebun ini, aku tidak pernah menemukan orang lain datang selain pekerja kebun. Atau jangan-jangan itu milik pekerja yang bertugas membersihkan kebun dan memetik buah?"


"Tidak mungkin. Yang memiliki senjata ini hanya orang-orang yang selalu ikut bertarung denganku atau dengan bos Fabio," jawab Walter.


Rosita yang merasa bosan membuang apel yang tadi ingin dia makan. Wanita itu berjalan ke arah lain untuk menjauh dari Walter dan dokter Alfred. Dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan dua pria itu. Yang memenuhi pikiran Rosita hanya mencicipi semua buah yang ada di sana sampai dia merasa kenyang.


"Nona, jangan ke sana!" teriak Dokter Alfred. Arah yang dituju Rosita saat ini adalah letak lubang rahasia itu berada. Dokter Alfred tidak mau sampai Rosita masuk ke dalam lubang itu dan celaka.


"Ada apa di sana?" tanya Rosita. Karena ada kalimat larangan dia juga tidak berani melangkah lebih jauh lagi.


"Di sana ada harimau," jawab Walter asal saja. Dia tahu seperti apa jalan pikiran Rosita. wanita itu tidak akan mau menurut jika keadaannya tidak benar-benar berbahaya.

__ADS_1


"Benarkah?" Rosita melebarkan kedua matanya. "Kenapa tidak bilang sejak tadi? Bagaimana kalau aku sampai bertemu dengan binatang buas itu?" Rosita memilih untuk mendekati Walter. Apakah bahaya yang datang, dia yakin kalau Walter pasti bisa melindunginya.


Dokter Alfred menaikan satu alisnya. "Nona, maafkan saya. Masalah di hutan waktu itu, bukan saya tidak ingin membawa anda pergi bersama saya. Tetapi, keadaannya sangat sulit. Saya tidak bisa berlama-lama di sana karena penawarnya harus segera saya berikan kepada Walter. Tetapi, anda harus tahu satu hal. Tidak lama setelah saya berhasil lolos, pasukan Black Dragon datang ke lokasi namun anda sudah tidak ada di sana."


Dokter Alfred berharap Rosita mau memaafkannya. Bagaimanapun juga, hubungan mereka sempat dekat awalnya. Hanya sejak kejadian di hutan itu saja hubungan mereka menjadi renggang seolah mereka sedang musuhan.


"Saya sudah memaafkan anda, Dok. Setelah saya pikir-pikir tidak ada gunanya saya menyimpan dendam pada anda. Kemarin, keadaan saya memang sangat buruk. Saya sendiri hampir tidak menyadarinya. Semua terasa begitu mengerikan hingga saya pikir saya sudah tidak mungkin hidup lagi," jawab Rosita. Wajah wanita itu berubah sedih setiap kali dia ingat kejadian penyiksaan di Belanda.


"Terima kasih, Nona," jawab Dokter Alfred. "Istri saya sangat ingin berteman dengan anda. Dia pernah bilang, wanita seperti anda adalah wanita yang hebat."


Rosita tertawa kecil mendengarnya. "Oh ya? Kalau begitu, pertemukan kami. Mungkin kami bisa menjadi teman," jawab Rosita.


Dokter Alfred dan Walter saling memandang. Ekspresi Dokter Alfred lagi-lagi berubah sedih. Sebenarnya hingga detik ini pria itu juga masih belum percaya kalau istrinya sudah tiada.


"Saya permisi dulu," pamit dokter Alfred tanpa mau menanggapi perkataan Rosita. Rosita hanya diam saja melihat Dokter Alfred pergi. Wanita itu berpikir kalau ada kata-katanya yang salah hingga membuat dokter Alfred tersinggung.


"Tuan."


Walter memandang ke arah Rosita. "Ada apa?"


"Kau tidak salah. Ada satu informasi penting yang belum aku beritahu kepadamu. Tadinya aku ingin memberitahukannya nanti saja. Tetapi karena sudah seperti ini aku terpaksa memberitahukannya sekarang." Wajah Walter berubah serius hingga membuat Rosita semakin deg-degan.


"Informasi penting? Informasi tentang apa, Tuan?"


"Saat kau mengalami koma di Belanda, dokter Alfred dan istrinya datang ke Belanda untuk menjengukmu. Tetapi baru sampai di bandara mereka sudah dihadang oleh orang-orang yang tidak dikenali. Tadinya target mereka adalah dokter Alfred. Ketika mereka ingin mencelakai dokter Alfred, istri dokter Alfred berdiri dan menghalanginya. Hingga akhirnya istri dokter Alfred yang celaka."


Rosita menggeleng dengan tatapan tidak percaya. "Lalu bagaimana sekarang keadaan istri Dokter Alfred? Kenapa dokter Alfred ada di sini. Kenapa dia tidak menjaga dan merawat istrinya sendiri?"


"Karena istrinya sudah tiada. Wanita itu tidak bisa diselamatkan dan sudah dikebumikan di Belanda."


Rosita memegang dadanya karena ada rasa nyeri yang begitu menyiksa sampai membuatnya sesak. Dia merasa sangat menyesal karena sempat berpikir untuk tidak memaafkan Dokter Alfred dan menyalahkan pria itu atas kejadian yang telah menimpanya. Tetapi sekarang, Rosita justru menjadi kasihan dan tidak tega terhadap Dokter Alfred. Dia tahu seperti apa yang sekarang dirasakan oleh Dokter Alfred. Di saat pria itu masih dalam suasana berduka, dia masih sempat merawat Rosita hanya demi menebus kesalahannya terhadap Rosita.


"Saya harus bicara dengan Dokter Alfred." Rosita pergi mengejar Dokter Alfred. Meninggalkan Walter sendiri di tempat itu.

__ADS_1


Walter mengepal kesepuluh jarinya melihat Rosita kini mengejar Dokter Alfred. Dadanya seperti terbakar. Walter rasanya ingin berteriak dan mencegah Rosita pergi. Namun, entah kenapa dia tidak bisa melakukannya.


Tanpa di sadari Walter, sedikit demi sedikit rasa cinta mulai timbul di dalam hatinya. Ini bukan sekedar perasaan kagum karena Rosita pecinta warna pink. Semua ini murni karena cinta.


"Dokter Alfred!" teriak Rosita ketika dia melihat Dokter Alfred berada di ambang pintu. Pria itu menahan langkah kakinya dan memutar tubuhnya. Ia memandang ke arah Rosita dengan alis saling bertaut.


"Ada apa, Nona? Kenapa anda meninggalkan Tuan Walter sendiri di kebun?"


Rosita mengatur napasnya yang tersengal. Wanita itu memandang Dokter Alfred dengan mata berkaca-kaca. "Maafkan saya. Saya sama sekali tidak tahu kalau sebenarnya istri anda ...." Rosita menahan kalimatnya.


Dokter Alfred tersenyum kecil. "Anda tidak salah, Nona. Semua sudah menjadi bagian dari takdir. Saya pergi meninggalkan anda bukan karena marah dengan anda. Tetapi karena saya ingin memberikan waktu untuk anda berduaan dengan Tuan Walter," jawab Dokter Alfred. Pria itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. "Sejak anda ada di dekat Tuan Walter, Tuan Walter berubah menjadi lebih baik. Dia lebih sering tersenyum dan yang paling penting dia tidak suka marah-marah lagi. Karena melihat anda dan Tuan Walter yang sangat cocok, akhirnya saya memutuskan untuk menjodohkan kalian."


Rosita melebarkan kedua matanya. Suasana yang seharusnya dipenuhi air mata kini telah terganti. "Apa maksud Anda, Dok? Saya dan Tuan Walter hanya sebatas bawahan dan atasan. Tidak lebih. Saya tidak pantas menjadi jodohnya. Itu mimpi yang terlalu tinggi," sangkal Rosita.


"Anda tidak menyukai Walter, Nona?"


Rosita diam sebelum menunduk. Jelas saja dia tidak bisa menjawabnya. "Soal itu ...."


"Saya akan membantu anda jika anda memang menyukai Tuan Walter," sahut Dokter Alfred memberi solusi. Rosita menggeleng cepat. Sepertinya wanita itu tidak setuju dengan ide yang diberikan Dokter Alfred.


"Jangan."


"Kenapa?"


"Saya dan Tuan Walter tidak akan pernah berjodoh. Kami memiliki jalan pemikiran yang berbeda. Biarlah kami seperti ini. Antara atasan dan bawahan. Sebentar lagi juga saya akan pergi meninggalkan mansion ini," jawab Rosita dengan senyuman. "Dok, terima kasih karena sudah mendukung saya dengan Tuan Walter. Tetapi maaf. Sampai kapanpun kami tidak akan bisa bersatu. Saya tidak siap memiliki suami pembunuh seperti Tuan Walter!"


Deg. Walter yang sejak tadi ada di sana hanya berdiri dengan tatapan tidak terbaca. Dokter Alfred memandang ke arah Walter dengan wajah bersalah. Seharusnya dia tidak membahas masalah ini sekarang. Walau awalnya buat baik, tapi tetap aja endingnya justru membuat Walter menjadi sakit hati.


"Dia membunuh karena untuk melindungi keluarganya, Nona." Walau keadaan sudah kacau balau, tetapi Dokter Alfred tetap berusaha mengetahui sebenarnya bagaimana perasaan Rosita terhadap Walter.


"Ada banyak cara yang bisa digunakan untuk membela keluarga, Dok. Pembunuh selamanya akan tetap dijuluki sebagai pembunuh!"


Kali ini Walter tidak bisa berdiri di sana lebih lama lagi. Wajahnya sangat kecewa. Pria itu pergi melalui pintu lainnya. Dokter Alfred memandang ke arah Walter sebelum memandang Rosita lagi.

__ADS_1


"Nona, anda bisa ke kembali ke kamar anda. Apa anda ingat jalan menuju ke kamar anda? Jangan lupa untuk meminum obatnya."


"Baiklah." Rosita pergi meninggalkan dokter Alfred. Sedangkan Dokter Alfred sendiri, memilih untuk mengejar Walter untuk memastikan Kalau pria itu baik-baik saja.


__ADS_2