
Rosita mengeringkan rambutnya dengan hair dryer di dalam kamar mandi. Senyum di bibirnya tidak juga luntur. Masih terbayang jelas bagaimana manisnya Walter memperlakukannya tadi malam. Rosita merasa sangat di hargai hingga dia rela melepas kehormatannya untuk suami tercinta. Walau rasa sakitnya masih tersisa sampai sekarang, tetapi Rosita tidak mempedulikannya lagi. Dia terlalu bahagia hingga sakit seperti itu tidak terlalu terasa.
Walter masuk ke dalam kamar mandi dengan rambut acak-acakan. Wajahnya masih kusut karena dia baru saja bangun tidur. Walau begitu, tetap saja dia terlihat sangat tampan walau belum mandi.
Rosita menunduk ketika Walter memandangnya di cermin. Walter menaikan satu alisnya sebelum mendekati Rosita dan memeluknya dari belakang.
"Kenapa kau tidak mau memandangku? Hem?" Walter mengecup leher Rosita. Sepertinya sekarang di sana letak ciuman favoritnya. Setelah percintaan tadi malam, Walter menjadi candu setiap kali melihat leher jenjang istrinya. Ia ingin menciumnya setiap kali melihatnya.
"Aku malu," jawab Rosita. Dia memandang ke depan hingga mereka saling memandang melalui cermin.
__ADS_1
"Malu?" Walter memutar tubuh Rosita. Dia mengusap pipi wanita itu sebelum mengangkatnya dan mendudukkannya di meja wastafel. "Kita sudah menikah. Kenapa kau masih malu?"
"Karena ... Kak Walter jauh berbeda. Sebelum menikah Kak Walter tidak seperti ini. Aku sampai berpikir kalau kak Walter tertukar di tengah jalan sebelum menikah." Rosita memang terlihat sangat polos. Hal itu membuat Walter tertawa geli.
"Aku seperti ini karena aku berdiri di depanmu, Pibi. Aku tidak mungkin bersikap seperti ini di depan Black Dragon." Walter mengambil hair Dryer yang baru saja diletakkan oleh Rosita di sana. "Apa sudah selesai?"
Rosita mengangguk pelan. "Tapi, kalau basah lagi juga gak masalah."
"Baiklah, kau yang memaksa baby."
__ADS_1
...***...
Mesy melempar belatih ke dinding yang sudah tertempel foto Walter di sana. Wanita itu terlihat tidak bersemangat hari ini. Dia ingin segera bertemu dengan Rosita dan memastikan Rosita ada di pihaknya. Namun, penjagaan di sana sangat ketat. Mesy sendiri tidak diberi izin untuk bertemu dengan Rosita pagi ini. Alasan semua penjaga mengatakan kalau Walter sendiri yang meminta agar tidak ada yang mengganggu mereka. Walau itu seorang Fabio.
"Bagaimana kalau Rosita jatuh cinta kepada pria itu? Bagaimana kalau dia sampai mengandung anak pria brengsek itu? Apa dia mau meninggalkannya? Apa dia mau membantuku untuk membunuhnya?"
Mesy menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Dia sekarang masih berada di hotel yang sama dengan Rosita dan Walter. Walau tadi malam sudah jelas-jelas Rosita memintanya untuk pulang ke apartemen, tetapi tetap saja Mesy tidak mau dan bertahan di hotel tersebut. Walaupun dia tidak bisa menginap di kamar yang ada di dekat Rosita, tetapi setidaknya mereka masih satu gedung.
"Rosita tidak mengangkat teleponku. Ini benar-benar di luar dugaan. Tadinya aku pikir semua akan mudah, tetapi setelah di jalani semua rencanaku menjadi berantakan. Seharusnya aku tadi malam sudah menemui Rosita agar mereka tidak sempat melakukan malam pertama. Tetapi, Aku gagal bertemu dengannya hingga semua menjadi berantakan seperti ini."
__ADS_1
Mesy memiringkan tubuhnya. Dia meletakkan foto berukuran kecil yang sejak tadi ada di genggaman tangannya. Di dalam foto itu ada foto empat orang. Dua di antaranya adalah Mesy dan Rosita. Di belakang mereka berdiri orang tua mereka.
"Ma, Pa. Aku janji, Walter pasti bisa mendapatkan balasan atas perbuatannya."