Suamiku Pinky Boy

Suamiku Pinky Boy
SPB. Bab 34


__ADS_3

Walter dan pasukannya tiba di lokasi. Pria itu mengamati satu persatu penjaga yang ada di depan pagar dengan tatapan yang sangat tajam. BawahanWalter berdiri di belakang dan di samping Walter. Mereka memegang senjata yang siap ditembakkan kapanpun dibutuhkan.


“Mereka ada di dalam, Bos. Pria yang menjadi otak dari masalah ini ada di dalam. Dia sedang bersenang-senang dengan penari wanita yang ia sewa,” jelas bawahan Walter.


“Berani sekali dia tertawa bahagia ketika nyawa istri Dokter Alfred tidak bisa diselamatkan. Sepertinya kita harus membuatnya menyesal sebelum menghabisinya nyawanya,” ujar Walter. Pria itu mengambil remot yang sejak tadi siapkan bawahannya.


Ternyata tanpa menunggu lama, beberapa pasukan Black Dragon berhasil masuk ke wilayah perumahan mewah itu dan memasang bom di dalam tanah yang sengaja di benamkan di beberapa titik. Jika ditotalkan ada sekitar lima titik.


Walter memandang ke depan sebelum suara ledakan pertama terdengar di sana. Letak ledakannya memang sedikit jauh dari Walter. Ketika Walter ingin masuk ke dalam, tiba-tiba Walter di buat kaget dengan hadirnya Fabio di sana. Pria itu berdiri dengan tatapan yang sangat tenang.


Walter menyimpan remot itu dengan sebaik mungkin karena bila salah pencet, rencana mereka bisa gagal. Dengan penuh hormat, Walter membungkukkan tubuhnya di depan Fabio. Diikuti oleh beberapa bawahannya yang masih ada di sana.


“Dia tidak selemah yang kau pikirkan. Harus hati-hati karena mereka jago dalam mengelolah racun,” ucap Fabio memperingati. “Lukamu baru sembuh. Hindari senjata tajam!”


“Baik, Bos. Tapi, kenapa anda harus turun tangan seperti ini? Biar saya yang melakukan tugas ini. Saya bisa menyelesaikannya sendiri,” ujar Walter. Dia tidak mau Bosnya terluka.


“Berdua akan semakin cepat selesai.” Fabio memandang ke depan. “Ayo kita temui mereka. Aku juga ingin tahu, apa alasan mereka melakukan semua ini.”


Fabio jalan lebih dulu. Walter dan yang lainnya kini berada di belakang Walter. Ketika semua orang fokus ke lokasi ledakan, di saat itu juga Fabio dan Walter berhasil masuk ke dalam rumah. Mereka tidak memiliki banyak hambatan karena memang sebagian besar orang di dalam rumah adalah anak buah Fabio dan Walter yang berhasil menyamar.


Lokasi di dalam rumah masih terlihat ramai. Wanita berpakaian seksi dan pria hidung belang berkumpul di sana. Musik yang begitu keras membuat suara ledakan tidak sampai ke telinga mereka. Memang malam itu sepertinya musuh mereka sedang mengadakan pesta minuman keras. Lokasinya di buat sedikit temaran hingga tamu yang datang tidak terlihat dengan begitu jelas.

__ADS_1


Sosok pria yang kini duduk di sebuah kursi yang letakkanya di atas dekat tangga menjadi perhatian utama Fabio dan Walter. Pria itulah target mereka. Mereka tidak mau membuat keributan hingga membuat pria itu kabur.


“Saya akan ke atas untuk menangkapnya Bos,” tawar Walter. Sepertinya dia sudah tidak sabar menghabisi pria itu dan membawanya ke hadapan Dokter Alfred.


“Tidak! Kau jaga di bawah biar aku yang ke atas,” tolak Fabio. Pria itu segera melangkah ke tangga. Sebenarnya Walter sangat mengkhawatirkan Fabio, namun tanpa kerja sama rencana mereka malam itu tidak akan berhasil. Mereka harus segera pulang ke mansion agar tidak ada musuh baru yang mereka temukan di sana.


Fabio disambut beberapa wanita seksi yang berdiri di dekat tangga. Pria itu mengangkat tangannya sebagai tanda penolakan. Kedatangan Fabio mendapat perhatian khusus dari Tuan rumah. Pria itu beranjak dari sofa dan memandang Fabio dengan serius. Anak buahnya terlihat waspada menjaganya takut Fabio memberi ancaman bagi atasan mereka.


“Selamat malam, Tuan. Kalau boleh saya tahu, anda siapa? Sepertinya saya tidak mengundang anda di pesta saya,” ujar pria itu dengan nada yang ramah. Dia juga tidak mau mendapat masalah di malam ini. Dia ingin pestanya berjalan lancar.


Fabio mengangkat senjata api yang ia bawah. Dengan cepat bawahan pria itu juga mengangkat senjata mereka dan mengarahkannya ke Fabio.


Pria itu melebarkan kedua matanya. “Fa Fa Fabio Cassano?” ujarnya terbata-bata. “Apa yang sudah membuat anda datang berkunjung ke wilayah saya, Tuan?”


Fabio mengukir senyuman tipis. “Saya tidak perlu menjelaskannya!”


DUARRRR


Fabio menembak ke vas bunga yang letaknya tidak jauh dari pria itu berdiri. Rasanya dia tidak memiliki banyak waktu untuk berdiskusi. Nyawa harus di bayar dengan nyawa! Seperti itu yang kini ada di dalam pikiran Fabio. Begitu juga dengan Walter.


Pria itu terlihat ketakutan. Namun, entah kenapa Fabio merasa ada yang aneh. Seperti ada jebakan di sana. Fabio memandang ke kanan dan ke kiri. Lokasi mulai tidak kondusif lagi ketika terdengar suara tembakan. Para tamu undangan berlarian menuju ke pintu keluar.

__ADS_1


Ketika lokasi hanya dipenuhi dengan anak buah pria tersebut, tiba-tiba saja pria itu tertawa seperti orang gila. Seolah-olah Fabio bukan lawan yang sebanding dengannya.


"Anda marah karena saya membunuh wanita itu? Seharusnya dokter sialan itu yang saya bunuh. Karena dia! Aku tidak bisa menyelamatkan nyawa istriku! Istriku harus pergi meninggalkan dunia ketika aku gagal membawa penawar racunnya," ujar pria itu dengan sorot mata yang tajam. Berbeda jauh dengan ekspresinya yang pertama tadi.


"Ternyata penawar itu yang menjadi sumber masalahnya," gumam Fabio di dalam hati.


"Sekarang dokter itu sudah kehilangan istrinya. Sepertinya sudah impas! Anda tidak perlu meminta maaf dan saya tidak perlu bertemu dengan anda lagi. Anggap saja masalah ini tidak pernah terjadi!" ujarnya dengan begitu mudah.


Walter yang sudah berdiri di sana hanya bisa mengepal kuat tangannya dengan wajah geram. Ingin sekali dia segera memberi pelajaran. Namun, Fabio belum memberi perintah apapun.


"Tidak ada yang impas. Anda kehilangan istri anda, kamu kehilangan keluarga kami dan anak buah kami. Kami juga kehilangan banyak waktu karena harus datang ke negara ini."


Pria itu melepas jas yang ia kenakan. "Bagaimana kalau kita bertarung saja? Satu lawan satu. Yang menang bisa membunuh yang kalah!" Sorot mata pria itu berubah tajam. Walter segera berjalan mendekati Fabio. Ia tidak mau Fabio bertarung. Walter akan menawarkan diri untuk menjadi pengganti Fabio.


"Bos, serahkan ini sama saya. Anda tidak perlu bertarung. Pikirkan Nona Lara," bisik Walter di telinga Fabio.


Fabio seperti sedang menimang-nimang permintaan Walter. sebenarnya dia ingin bertarung karena memang sudah lama dia tidak mengeluarkan tenaga. Namun, apa yang dikatakan Walter benar. Jika nanti dia pulang dalam keadaan babak belur, Lara akan sedih. Ini masih dalam momen bukan madu. Fabio tidak mau istrinya meneteskan air mata lagi.


"Baiklah," jawab Fabio. Ia memandang ke depan. "Jika kau berhasil mengalahkan dia." Fabio memeluk pundak Walter. "Maka aku akan menyerahkan nyawaku kepadamu! Tetapi, jika kau kalah. Kau dan seluruh pengikutnya harus menjadi budakku!" ujar Fabio mantap.


Walter sempat tercengang mendengar taruhannya. Seharusnya nyawa dia aja yang menjadi taruhannya. Kenapa Fabio harus menjadikan nyawanya sendiri sebagai taruhan. Jika seperti ini, Walter diwajibkan menang. Dia tidak mungkin membuat Lara menjadi janda kan?

__ADS_1


__ADS_2