
"Pembunuh! Dia seorang pembunuh!"
Walter belum bisa menghilangkan kata-kata itu dari ingatannya. Sebenarnya apa yang dikatakan Rosita benar. Wanita itu tidak salah mengatakan Walter seorang pembunuh. Karena memang pekerjaannya adalah membunuh orang. Terutama orang yang berusaha mengusik ketenangan keluarga Cassano. Tetapi entah kenapa hati Walter terasa sakit ketika bibir Rosita yang mengatakan kalimat seperti itu. Sejelek-jeleknya julukan yang pernah dia dengar, baru kali ini hatinya terasa sakit. Biasanya dia tidak terlalu peduli. Apa lagi sampai mengingatnya hingga seperti ini. Hidupnya jadi berantakan hanya karena Rosita memandangnya sebagai seorang pembunuh. Bahkan Walter jadi tidak semangat untuk beraktivitas.
"Apa dia tidak berpikir dulu sebelum mengatakan kalimat seperti itu? Sepertinya aku sudah terlalu lembek padanya hingga dia kurang ajar seperti ini. Apa dia lupa kalau aku ini atasannya. Orang yang membayar gajinya. Masih dalam situasi kontrak kerja saja sudah seperti ini. Bagaimana nanti jika dia sudah putus kontrak? Mungkin dia akan mengataiku lebih parah lagi!" umpat Walter di dalam hati. Sejak tadi ia melewati beberapa penjaga. Jelas saja dia tidak berani mengumpat secara langsung karena takut ada yang dengar.
Walter memutuskan duduk di dekat kolam renang untuk merenung. Ini satu tindakan yang bisa dibilang aneh. Seorang bos mafia seperti Walter jarang-jarang bisa galau seperti ini. Memilih kolam renang sebagai tempat melepas bosan lagi. Pria itu terlihat tidak bersemangat menjalani hari-harinya. Padahal setiap orang yang memandangnya akan berkata kalau dirinya adalah manusia yang sempurna. Sekarang justru Walter terlihat seperti pria paling menyedihkan yang pernah ada di dunia ini. Entah dimana wajah sangar yang selama ini melekat pada dirinya.
"Kau memikirkan perkataan Rosita?" tanya Dokter Alfred. Sebenarnya dia sudah tahu kalau sudah pasti Walter sedang memikirkan Rosita dan semua yang dikatakan oleh wanita itu. Namun, entah kenapa Dokter Alfred ingin bertanya langsung dengan Walter.
Walter enggan memandang wajah Dokter Alfred. Mendengar suaranya saja sudah cukup membuat Walter tahu kalau pria yang mendekatinya adalah Dokter Alfred. Pria itu mengambil ponselnya dan mencari kesibukan sendiri. Ia tidak mau bicara atau menjelaskan apapun kepada Dokter Alfred. "Aku sedang memeriksa laporan bulanan. Aku sangat sibuk. Tolong jangan ganggu aku!" ketus Walter.
Dokter Alfred tertawa mendengarnya. Dia justru mengabaikan perkataan Walter dan tetap memilih duduk di samping pria tangguh itu. "Sejak kapan anda memeriksa laporan dengan ponsel? Dimana laptop anda, Bos? Oh ya, biasanya juga anda selalu meminta bawahan Anda yang melakukannya. Anda pria yang tidak terlalu teliti dengan laporan bulanan," ledek Dokter Alfred.
"Sekarang aku sudah berubah. Aku ingin mengembangkan perusahaan agar lebih maju lagi. Soal laporan akan masuk di email. Jadi, aku bisa membukanya dengan media apapun. Entah itu laptop atau ponsel sekalipun?" ketus Walter tidak suka. Pria itu masih menunjukkan kepalanya seolah-olah dia sedang sangat sibuk saat ini.
__ADS_1
"Apa baru kali ini hatimu terasa sakit? Apa rasanya seperti direma*s terus di buang?" Dokter Alfred memandang ke arah Walter. "Atau rasanya seperti di iris belatih yang tajam? Aku memang tidak pernah merasakannya jadi tidak tahu seperti apa rasanya. Tetapi, dari cerita yang aku dengar. Seperti itulah rasanya. Ketika wanita yang kita cintai berkata kalau dia-"
"Apa yang anda katakan? Saya sama sekali tidak mengerti!" potong Walter. Walau pria itu tahu arah bicara Dokter Alfred kemana. Tetapi tetap saja dia tidak mau menanggapinya.
Dokter Alfred menepuk pundak Walter hingga beberapa kali. "Bos, anda sudah jatuh cinta! Akui saja!" Dokter Alfred menepuk pundak Walter sekali lagi dengan penuh semangat Senyum pria itu seperti memaksa Walter untuk berkata jujur. "Cinta harus diperjuangkan! Jangan dibiarkan pergi begitu saja. Kalau kau biarkan dia pergi dan menjauh, nanti kau sendiri yang akan menyesal."
"Dok, saya sedang sibuk. Tolong pergi dari sini!" sahut Walter tanpa mau memandang.
"Oke, Oke!" Dokter Alfred beranjak dari sofa. "Jika kau butuh bantuan untuk mendapatkan hati Nona Rosita, datang saya kepadaku. Aku akan membantumu untuk meluluhkan hatinya."
Setelah Dokter Alfred pergi, Walter menurunkan ponselnya. Dia meletakkan telapak tangannya di dada. "Kenapa dia tahu kalau ada rasa sakit yang aku rasakan di sini? Apa sekarang jantungku mulai lemah? Apa aku mengidap penyakit serius karena pernah mengalami koma?" gumam Walter dengan wajah bingung.
Dokter Alfred tertawa membayangkan ekspresi Walter. Walau dia sendiri tidak tahu pada akhirnya Walter dan Rosita berjodoh apa tidak, tetapi melihat kisah mereka berdua yang sekarang saja sudah menjadi hiburan tersendiri bagi Dokter Alfred.
"Alfred, apa yang terjadi? Kenapa kau terlihat bahagia sekali? Apa yang membuatmu bahagia seperti ini?" tanya Lara yang kebetulan melihat Dokter Alfred yang tertawa sambil berjalan.
__ADS_1
"Lara, apa yang kau lakukan di sini?" Dokter Alfred mendekati Lara. Pria itu juga kini lebih memilih jaga jarak karena dia tahu kalau Fabio sempat cemburu padanya.
"Aku mencarimu. Ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan kepadamu, Alfred."
"Baiklah. Kita bisa duduk di sana?" Dokter Alfred menunjuk sofa yang ada di ruang televisi. Lara menyetujuinya sebelum berjalan lebih dulu menuju ke sofa tersebut.
"Jadi, apa yang ingin kau sampaikan? Wajahmu terlihat sangat serius," tanya Dokter Alfred ketika dia sudah duduk.
"Aku ingin mengadakan pesta. Kak Bi yang memintanya. Entah kenapa tiba-tiba dia kepikiran dengan masa depan Walter. Dia tahu kalau Walter itu pria yang begitu dingin dan tidak memiliki perasaan. Kak Bi yakin, sampai tua Walter pasti akan hidup sendiri. Maka dari itu Kak Bi memintaku mengundang seluruh wanita cantik yang ada di kota ini. Berharap salah satu dari mereka bisa meluluhkan hati Walter. Tidak perlu kaya, yang penting dia baik dan pengertian," jelas Lara. Wanita itu memandang ke depan sambil memikir ulang, apa ide suaminya ini sudah tepat atau belum. Mengingat, jodoh tidak harus di tetapkan oleh orang lain. Tapi, sesuai dengan ketentuan hati yang menjalaninya.
Dokter Alfred sama sekali tidak menyangka kalau Lara dan Fabio juga memikirkan masa depan Walter. Sama seperti yang sekarang dia pikirkan.
"Aku setuju. Tetapi, sebenarnya sudah ada wanita yang mengisi hati Walter. Sayangnya, dia tidak mau mempertahankan wanita itu agar menetap di hatinya."
"Siapa? Apa kau juga kenal?"
__ADS_1