
Walter memegang pipinya yang tadi sempat di cium oleh Rosita. Pria itu sebenarnya ingin tersenyum bahagia, namun dia masih menahannya. Walter masih ada sedikit rasa gengsi.
Setelah semua pelayan menyimpan hadiah yang diberikan Walter kepada Rosita ke kamar, mereka berdua memutuskan untuk segera sarapan.
Walter memandang Rosita yang kini fokus menyantap sarapan paginya. Wanita itu terlihat sangat bahagia. Senyum manis masih melekat indah di wajahnya. Sampai-sampai dia tidak sadar kalau di depannya ada orang yang sedang berbunga-bunga karena baru saja mendapatkan kecupan cinta.
"Kak, apa aku boleh mandi di kolam ini? Tapi sebelumnya aku ingin foto dulu," ucap Rosita. Dia ingin memberi tahu kepada seluruh dunia, kalau sekarang hidupnya bahagia. Semua orang yang dulu menghinanya harus tahu kalau sekarang Rosita tidak lagi si wanita halu. Dia benar-benar bisa menggapai mimpinya yang dulu terdengar sangat mustahil. Dia di kamar pria kaya raya yang tangguh dan tampan.
Sebenarnya sampai detik ini Rosita masih tidak menyangka. Walaupun Walter terbilang hampir mendekati sempurna, tetap saja pria itu masih memiliki kekurangan. Dia seorang kiriminal. Salah satu sosok yang sangat di benci oleh Rosita. Tetapi sekarang dia sudah bisa menerima kekurangan Walter. Menerima pria itu apa adanya.
"Kau boleh melakukan apapun yang kau suka," jawab Walter. Dia memasukkan roti ke dalam mulutnya sebelum memandang wajah Rosita lagi.
"Kak, ulang tahunku lama lagi. Kenapa harus ada kejutan seromantis ini? Tadi malam saja aku sudah senang. Bagiku itu sudah cukup manis." Rosita memandang ke arah Walter sebelum melahap makanannya. Tatapannya tidak teralihkan ke kolam renang yang kini di isi aneka macam bunga warna warni yang di bentuk sedemikian rupa. Pasti harganya sangat mahal. Seperti itu yang dipikirkan oleh Rosita.
"Aku ingin membahas tanggal pernikahan kita. Tadi malam kita tidak sempat membicarakannya. Untuk membawamu keluar mansion, rasanya waktunya belum tepat. Tadi pasukan Black Dragon bilang ada sosok yang mencurigakan di luar mansion. Aku khawatir mereka dari pihak musuh. Jadi, aku memiliki ide untuk mengubah areal ini menjadi lokasi yang nyaman dan menyenangkan," jelas Walter apa adanya. Mendengar kata musuh membuat Rosita takut. Wanita itu terlihat tidak berselera lagi untuk menghabiskan sarapan paginya. Walter bisa tahu kalau kali ini Rosita ketakutan. Ekspresi wajah wanita itu berubah total. Padahal tadinya terlihat sangat ceria seolah dia orang paling bahagia di dunia ini.
"Kau takut? Apa kau lupa janji yang aku ucapkan tadi malam? Aku akan selalu menjagamu, Pibi. Apa lagi yang kau takutkan sekarang. Siapapun di luar sana. Aku bisa mengalahkannya aku juga bisa melindungimu!"
"Aku tidak takut, kak. Sejak memutuskan untuk menerima Kak Walter dan mencintai Kak Walter, aku tidak lagi takut mati. Tetapi aku takut kehilangan. Aku takut kehilangan Kak Walter. Aku gak siap!" Rosita menunduk dengan wajah sedih. Rasanya Walter menyesal sudah menjelaskan yang terjadi. Andai dia merahasiakannya, mungkin saat ini Rosita masih ceria seperti tadi. Tidak murung dan kepikiran seperti sekarang.
"Maafkan aku." Walter juga terlihat sedih. Namun, apa yang bisa dia lakukan selain menyakinkan Rosita kalau wanita itu pasti akan baik-baik saja.
"Kak Walter gak perlu minta maaf. Ini emang sudah seharusnya terjadi. Cepat atau lambat." Rosita memandang Walter dan mulai kembali tersenyum. Dia memegang tangan Walter dan menatapnya dalam-dalam. "Perlahan. Seiring berjalannya waktu, aku yakin bisa menyesuaikan diri. Mungkin ini semua terlalu cepat hingga aku belum siap." Rosita mengambil sendok lagi dan melahap sarapan paginya. Dia berusaha tersenyum walau sebenarnya di dalam hati dia masih mengkhawatirkan keselamatan Walter.
__ADS_1
"Apa seperti ini yang dirasakan oleh Nyonya Lara? Waktu itu aku berpikir kalau dia terlalu berlebih-lebihan dengan menahan Bos Fabio keluar untuk bertarung. Ternyata setiap wanita memang sama. Mereka tidak pernah mau mengizinkan pasangannya pergi agar tidak celaka. Mungkin ini pertanda baik. Pertanda kalau Rosita benar mencintaiku," gumam Walter di dalam hati.
"Kak, sebenarnya aku memikirkan sebuah rencana sejak tadi malam. Mungkin ini bisa kita lakukan setelah kita menikah." Ekspresi wajah Rosita berubah serius hingga membuat Walter lagi-lagi memikirkan hal yang aneh-aneh.
"Apa yang kau pikirkan?" Walter terlihat sangat antusias menunggu penjelasan dari Rosita.
Rosita menyudahi sarapannya. Ya, memang dia sudah kenyang. Bahkan makanan di atas piring juga tinggal sedikit. Wanita itu meneguk air putih sebelum memandang wajah Walter. Dia sempat-sempatnya menarik napas hingga membuat Walter menjadi khawatir.
"Setelah menikah, ajari aku bertarung agar aku bisa ikut kemanapun Kak Walter pergi."
Walter melebarkan kedua matanya. Ini permintaan yang konyol. Bagaimana bisa Walter bertarung jika dia harus membawa istrinya? Oke, Rosita akan latihan. Tetapi, kemampuan wanita itu tidak akan sehebat pasukan milik Black Dragon yang sekarang memang sudah terlatih bertahun-tahun. Sehebat apapun Rosita, belum tentu dia bisa mengalahkan musuh. Bahkan melindungi dirinya sendiri dari serangan musuh saja patut di pertanyakan.
"Tidak, aku tidak setuju! Itu ide yang buruk." Walter mengambil air putih di depannya dan meneguknya perlahan. Setelah gelasnya kosong, dia memandang Rosita lagi. "Aku tidak mau kau celaka."
"Belum tentu kau bisa menembak dan menghindar dari peluru yang mengincarmu. Pibi, pertarungan yang aku lakukan bukan sebuah lelucon. Ini bukan sekedar permainan yang ada di game. Jika mati ya tidak akan bisa hidup lagi. Nyawa kita, yang satu-satunya kita miliki harus dipertaruhkan! Jika hilang tidak akan bisa kembali," jelas Walter berharap Rosita paham. Namun sepertinya wanita itu tidak paham juga. Dia justru terlihat marah dan tidak terima. Walau sebenarnya yang dijelaskan Walter masuk akal. Tetapi prinsip Rosita, hidup bersama mati bersama.
"Ajari aku sampai benar-benar hebat!" pintanya lagi. Walter bersandar sambil berusaha menahan emosinya. Sebelum masalah ini terjadi, Dokter Alfred pernah menasehatinya.
Jika sudah siap untuk menikah, maka harus siap dengan kekurangan pasangan kita. Perdebatan mungkin akan terjadi setiap hari. Namun jangan pernah terpancing emosi. Karena emosi bukan sebuah solusi, tetapi akan menjadi pemicu masalah baru.
"Baiklah," jawab Walter pasrah. Dia memijat dahinya sendiri. Mendengar jawaban dari Walter membuat Rosita kegirangan.
"Terima kasih, sayangku. Aku semakin cinta padamu," puji Rosita.
__ADS_1
Walter hanya menghela napas sambil tersenyum melihat tingkah laku Rosita yang menggemaskan.
Ponsel Walter yang bergetar di atas meja berdering. Pria itu segera mengangkat panggilan masuk tersebut tanpa mau menundanya lagi. Tertulis kalau di sana pasukan Black Dragon yang menghubungi.
"Bos, kami berhasil menangkap sosok mencurigakan yang selama ini ada di dekat mansion. Dia seorang wanita. Penampilannya sangat berantakan. Dia berpura-pura gila dan ketakutan," jelas pria di dalam telepon.
"Dimana dia sekarang?"
"Ada di depan pagar, Bos."
"Baiklah, aku akan segera ke sana." Walter memutuskan panggilan masuknya.
"Siapa Kak?" Rosita juga terlihat panik.
"Pasukan Black Dragon." Walter beranjak. "Aku harus pergi."
"Kemana? Aku ikut?" Rosita juga ikut berdiri.
Walter terlihat ragu untuk mengajak Rosita. Tetapi meninggalkannya sendirian di sini itu sama saja membuatnya sedih. Bukankah hari ini Walter ingin membahagiakan Rosita? Jika Rosita sampai sedih, rencana untuk menentukan tanggal pernikahan bisa gagal.
"Baiklah. Tapi turuti apa yang aku katakan nanti."
"Baik, Tuan," jawab Rosita sambil hormat.
__ADS_1
Walter menggandeng tangan Rosita. Pria itu tidak mau tunangannya jauh-jauh darinya. "Ayo kita harus segera pergi."