
Rosita juga kaget ketika Dokter Alfred berteriak. Wanita itu memandang ke samping. Dia tidak sempat melihat ke samping karena dengan cepat Dokter Alfred menarik tangannya dan memaksanya berdiri. Ular berwarna cokelat berjalan melewati dedaunan yang tadi sempat di duduki Rosita. Rosita segera melangkah mundur dengan wajah pucat. Ia sama sekali tidak menyangka kalau tadi dia duduk di samping ular yang begitu panjang. Memang jika dilihat sekilas, warna ular itu sama dengan dedaunan kering. Wajar saja memang kalau Rosita tidak menyadari keberadaan ular tersebut.
“Jangan bergerak! Jika dia tidak terancam, maka kita akan selamat. Ini salah satu jenis ular yang mematikan. Jika sampai tergigit, kita akan mati dalam hitungan menit saja,” bisik Dokter Alfred memperingati.
Rosita memejamkan matanya sambil memegang lengan Dokter Alfred ketika ular itu berlalu di dekat kakinya. Rasanya Rosita ingin berlari saja. Namun, dia juga tidak mau sampai celaka. Walau dalam keadaan gemetar, Rosita tetap berdiri tanpa melakukan gerakan apapun. Dokter Alfred memperhatikan ular itu dengan saksama. Ketika ular itu sudah benar-benar jauh, dia segera memaksa Rosita melepas lengannya.
“Kita sudah aman, Nona,” ujarnya.
“Bagaimana anda bisa tahu kalau di samping saya ada ular?”
“Karena saya pernah mengalami hal yang sama seperti anda,” sahut Dokter Alfred. Dia melanjutkan perjalanannya.
“Maksud anda, anda pernah hampir di gigit ular?”
“Ya.” Dokter Alfred memandang ke depan dengan bibir tersenyum. “Tapi, kalau di pikir-pikir lagi. Itu musibah yang mendatangkan keberuntungan.”
“Kenapa bisa seperti itu?” Rosita mengeryitkan dahi mendengar cerita Dokter Alfred.
“Karena wanita yang menolong saya adalah wanita yang sekarang menjadi istri saya,” jawab Dokter Alfred sambil memandang wajah cantik istrinya. Sebenarnya dia sangat merindukan istrinya. Selama dia bekerja dengan Fabio, hampir seluruh waktu yang ia punya ia habiskan di mansion. Sampai-sampai istrinya kurang diperhatikan.
Rosita kembali diam mendengar jawaban Dokter Alfred. Rasa capek yang tadi sempat menyiksanya spontan hilang setelah ia melihat ular besar tadi. Kali ini Rosita tidak akan berani duduk sembarangan lagi tanpa perintah dari Dokter Alfred.
Sekitar beberapa kilometer menelusuri hutan, Dokter Alfred menahan langkah kakinya. Dia memandang Rosita yang saat itu terlihat kehausan. Bibirnya sampai kering dan tubuhnya lemas, Hanya saja dia tidak berani mengeluh karena takut merepotkan Dokter Alfred.
“Dok, kenapa anda berhenti?”
“Anda mau minum, Nona?”
Rosita memandang ke tangan Dokter Alfred. Di tangan pria itu tidak ada minum. Bahkan di sekitar mereka juga tidak ada sumber air. Bagaimana bisa Dokter Alfred bertanya seperti itu?
“Memangnya kita punya air untuk di minum?”
Dokter Alfred mengangguk. Dia mendekati semak-semak dan mengambil pisau lipat yang selalu ia bawa. Memotong ranting hingga akhirnya keluarlah air dari dalam sana. Rosita masih tidak percaya. Dengan tangan terlipat di depan dada, ia memperhatikan air itu dengan saksama.
“Itu aman di minum?”
Dokter Alfred mengangguk. Dia menampung air itu dengan kedua telapak tangannya dan meneguknya secara perlahan. Jelas saja hal itu membuat Rosita tergugah. Wanita itu tersenyum sebelum mendekati Dokter Alfred untuk meminum air tersebut.
“Anda tidak pernah mendaki gunung ya Nona?”
__ADS_1
“Tidak pernah!” Rosita masih fokus dengan air di depannya. Rasanya ia ingin sekaligus memenuhkan lambungnya dengan air agar tidak merasa lapar. Setelah Rosita merasa benar-benar kenyang dan tidak haus lagi, ia membasuh wajahnya dengan air tersebut.
“Nona, cepat. Kita bisa kemalaman,” ucap Dokter Alfred.
Rosita memandang aliran air itu lagi. Kali ini airnya semakin deras hingga membuat Rosita melangkah mundur dengan wajah takut. “Apa yang terjadi?”
Dokter Alfred memandang ke atas. “Sepertinya sumber airnya sudah kita temukan. Tetapi, itu tidak penting lagi. Sekarang ayo kita lanjutkan perjalanan kita,” ajak Dokter Alfred. Rosita memandang sumber air itu lagi sebelum berjalan pergi.
“Dari mana anda tahu kalau akar itu ada airnya?”
“Itu jenis tumbuhan yang akarnya bisa menyimpan air. Biasanya airnya hanya sedikit. Tetapi, seperti sumber airnya sangat dekat hingga airnya bisa sebanyak itu.”
“Anda sangat pintar, Dok. Dari mana anda mendapatkan ilmu seperti itu? Apa di sekolah kedokteran di pelajari?”
“Istri saya yang mengajarkan saya banyak hal,” jawab Dokter Alfred. Kali ini Rosita justru menjadi penasaran dengan sosok wanita yang sudah dinikahi oleh Dokter Alfred.
“Istri? Wanita itu pasti bahagia sekali memiliki suami seperti dokter Alfred, hingga akhirnya dia memberi banyak pelajaran kepada suaminya agar bisa tetap bertahan hidup ketika berada di tengah hutan,” gumam Rosita di dalam hati.
Mereka berjalan terus menembus kesunyian hutan. Suara penghuni hutan terus saja terdengar hingga membuat Rosita terkadang ingin berhenti saja. Semakin ke dalam juga semakin dingin dan gelap. Pohon-pohon semakin banyak yang tinggi hingga menghalangi cahaya matahari.
“Dok, dimana rumah nenek itu? Apa benar ada rumah di hutan ini? Bagaimana dia bertahan hidup jika lokasinya seperti ini?” protes Rosita. Kali ini Dokter Alfred hanya diam saja. Dia berjalan ke depan karena dia yakin tidak lama lagi mereka akan sampai di tempat tujuan.
Sebuah rumah dengan dinding anyaman bamboo membuat Rosita dan Dokter Alfred tersenyum. Adanya asap dari belakang rumah membut mereka yakin kalau rumah itu berpenghuni. Mereka berdua sama-sama berjalan mendekati rumah. Dokter Alfred berharap hari ini juga bisa mendapatkan penawar racunnya dan segera memberikannya kepada Walter.
“Siapa kalian?”
Suara seorang nenek membuat Rosita dan Dokter Alfred berhenti. Mereka memandang ke belakang dan melihat seorang wanita tua berdiri di sana. Wanita itu sudah hampir bungkuk hingga ia membutuhkan tongkat untuk berjalan. “Untuk apa kalian datang ke sini?” tanya nenek itu lagi.
“Nek, kami-”
“Maria! Panggil saya Maria!” ketus nenek itu. Dia seperti tidak suka di panggil nenek padahal dari informasi yang di dapat Dokter Alfred, usia nenek itu sudah hampir 70 tahun.
“Nek, nama saya Rosita. Ini kakak kandung saya Alfred. Kami ke sini ingin meminta bantuan nenek.” Rosita mulai berakting. Walau ini sulit, tapi ia harus melakukannya.
“Apa kalian datang untuk meminta penawar racun?” tebak Maria. Nenek itu duduk di kursi kayu yang ada di depan rumah sebelum menatap Dokter Alfred dan Rosita bergantian.
“Benar, Maria. Untuk suami saya. Dia diracuni oleh rekan kerjanya. Saya takut suami saya tidak selamat. Saya lagi hamil. Saya tidak mau anak saya lahir dan ayahnya sudah tidak ada.” Nada bicara Rosita terdengar menyedihkan. Hal seperti itu menambah keyakinan si nenek kalau tamunya kali ini memang benar-benar membutuhkan. Bukan untuk tindak kriminal atau kejatahatan yang merugikan orang banyak.
“Mana sampel racunnya?” tanya nenek itu.
__ADS_1
Dokter Alfred cepat-cepat mengeluarkan sampel racun yang ia bawa di dalam tas. Memberikannya kepada Maria untuk diketahui kira-kira jenis seperti apa penawarnya.
Nenek itu memandang botol kecil di tangannya dengan alis saling bertaut. Wanita itu mencium aroma darah yang ada di dalam botol sebelum mengeluarkannya setetes. Dia memperhatikannya lagi seperti sedang mendiagnosa sebuah penyakit.
Rosita dan Dokter Alfred saling memandang dengan wajah bingung. Jika di lihat sekilas, tingkah laku nenek itu terlihat tidak menyakinkan. Namun, Dokter Alfred yakin informasi yang ia dapat tidak mungkin salah. Hanya nenek ini yang bisa mengobati penyakit Walter agar pria itu bisa sehat total.
“Saya baru saja membuat penawarnya. Beberapa waktu yang lalu, seorang pria datang ke sini untuk menyembuhkan istrinya. Kenapa jaman sekarang banyak sekali orang yang keracunan. Terutama orang kota,” ujar nenek itu. Ia masuk ke dalam rumah tanpa mau mengajak Rosita dan Dokter Alfred masuk ke dalam.
“Sekarang bagaimana?” tanya Rosita.
“Ikuti saja apa yang ingin dia lakukan. Setelah kita berhasil mendapat penawarnya, saya akan kirimkan kode kepada Black Dragon untuk turun tangan menolong kita agar bisa keluar dari hutan ini,” jawab Dokter Alfred. Rosita mengeryitkan dahinya.
“Bisa seperti itu? Kenapa tidak anda lakukan sejak tadi agar kita tidak perlu capek-capek jalan ke tempat ini!” protes Rosita dengan suara berbisik.
“Hanya bisa di pakai satu kali. Jika keadaan tidak darurat, sebaiknya tidak kita gunakan. Sampai sini anda paham, Nona?”
Rosita memandang ke dalam rumah lagi. “Ya, saya paham.”
Rosita memutar tubuhnya untuk memandang keadaan di sekitar sana. Entah kenapa dia merasa tidak ada yang tidak beres. Seperti sedang di awasi, namun siapa?
“Ini obat penawarnya.” Nenek itu muncul sambil membawa sebotol kecil obat penawar untuk Walter. “Simpan dengan baik karena obat penawar ini yang terakhir. Tidak bisa di dapatkan lagi karena bahan utamanya tumbuh lima tahun sekali.”
Dokter Alfred menerima penawar itu dengan senyuman. Di detik yang sama, terdengar suara tembakan yang membabi buta. Dokter Alfred segera mendorong nenek itu dan Rosita masuk ke dalam. Ia cepat-cepat memasukkan penawarnya ke dalam tas agar aman dan memberikan kode bahaya kepada pasukan Black Dragon.
“Siapa kalian? Kenapa kalian ingin menghancurkan tempat tinggal saya?” protes Maria.
Rosita hanya bisa diam ketakutan. Dokter Walter masih fokus menyelamatkan penawar tersebut. “Kita harus pergi dari sini,” ujar Dokter Alfred. Dia tidak mau sampai tertangkap dan kehilangan penawar tersebut.
“Tidak semudah itu!” Maris memegang pisau dan menarik Rosita. Wanita itu meletakkan pisau di leher Rosita. Sedikit saja Rosita bergerak, pisau tajam itu akan mengiris lehernya. “Kalian orang jahat ya?”
“Tidak, Maria. Kami juga tidak tahu siapa mereka,” sahut Rosita.
“Kalau begitu, wanita ini tetap di sini. Anda pergi saja sana. Saya akan menjadikan wanita ini jaminan agar saya bisa tetap selamat!”
Dokter Alfred jelas saja tidak setuju. Ia datang bersama Rosita dan harus pulang bersama wanita itu juga. Sayangnya, gerombolan yang menyerang semakin dekat. Dokter Alfred kali ini tidak dihadapkan pilihan lagi. Pria itu memandang Rosita yang kini mulai menangis karena ketakutan.
“Maafkan saya,” ujar Dokter Alfred sebelum pergi.
“Jangan tinggalkan saya!” teriak Rosita. Bersamaan Dokter Alfred kabur, pintu rumah terbuka lebar. Segerombolan pria bersenjata berdiri di sana dan menodongkan senjata mereka.
__ADS_1
“Angkat tangan dan jangan bergerak!”