
Rosita terus saja kepikiran dengan sikap Walter di kamar tadi. Sekilas pria itu terlihat seperti pria normal. Namun, dalam waktu sekejap dia bisa berubah menjadi pria yang sangat rumit. Sulit dipahami hingga Rosita merasa tidak nyaman ada di dekat Walter.
"Kalau aku mengundurkan diri kira-kira Tuan Walter mengizinkan tidak ya? Aku belum menerima gaji tetapi sudah bekerja. Sepertinya jika sekarang aku mengundurkan diri pihak yang merasa dirugikan hanya aku saja. Tuan Walter tidak akan rugi karena dia belum mengeluarkan uang untuk membayar pekerjaanku. Aku tidak mau terus-terusan terjebak seperti ini. Aku merindukan kehidupanku yang bebas. Aku bisa coba untuk melamar pekerjaan di tempat lain. Ya, walau mungkin gajinya tidak akan sebanyak di sini," gumam Rosita di dalam hati.
Dia merasa sangat lapar. Namun, tubuhnya juga terasa lengket karena berkeringat. Rosita ingin membersihkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum pergi makan siang. setelah makan wanita itu ingin istirahat di dalam kamar. Berharap Walter tidak lagi memanggilnya sampai besok pagi agar dia bisa istirahat dengan tenang.
Baru juga beberapa meter melangkah menuju ke kamar mandi tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Wajah Rosita yang awalnya terlihat berseri kini berubah masam. Ia memutar tubuhnya dan memandang ke arah pintu.
"Siapa sih!" umpatnya kesal. Handuk yang sempat melingkar di bahu ia letakkan kembali. Wanita itu cepat-cepat membuka pintu takut seseorang di depan sana kelamaan menunggu.
Setelah pintu dibuka, Rosita melihat dua pengawal berbadan tegap dengan wajah seram memandangnya dengan tatapan penuh arti. Mereka seperti malaikat pencabut nyawa yang kemunculannya sangat tidak disangka-sangka. Senjata api yang tersemat di pinggang membuat Rosita kesulitan menelan salivanya sendiri.
"Apa lagi sekarang?" gumamnya yang hanya berani di dalam hati saja.
__ADS_1
"Nona, Bos meminta anda untuk menemuinya di kamar," ujar salah satu pengawal.
Rosita mengangguk dengan senyuman terpaksa. "Bukankah tadi dia sendiri yang mengusirku? Kenapa sekarang sudah memintaku kembali? Sebenarnya apa yang dia pikirkan? Apa memang hobinya hanya membuat susah orang lain saja? Masih sakit saja sudah seperti ini. Bagaimana kalau dia sehat? Sepertinya memang aku harus mengundurkan diri saja."
"Sekarang, Nona!" ketus salah satu pengawal lain ketika Rosita tidak kunjung menjawab.
"Ya, tapi aku ingin mandi dulu," Sahri Rosita. Masih dengan senyum agar di nilai sebagai wanita yang ramah.
"Sekarang! Bos Walter tidak suka menunggu!" Sepertinya dua pengawal yang kini berdiri depan Rosita sudah tidak bisa diajak kerjasama lagi.
"Kenapa tiba-tiba perasaanku jadi tidak enak. Apa semua baik-baik saja?" batin Rosita. Mereka masuk ke lift karena memang kamar Rosita ada di bawah sedangkan kamar Walter ada di atas. Namun, satu hal yang membuat Rosita bingung. Kali ini dia naik lift yang berbeda dari sebelumnya. Rosita sempat merasa khawatir. Ketika pintu lift terbuka dan menunjukkan kamar Walter yang tidak terlalu jauh di dekat lift, Rosita kembali merasa lega.
"Ternyata ada lift lain lagi yang menghubungkan langsung dengan kamar Tuan Walter. Mansion ini sudah seperti mall saja."
__ADS_1
"Silahkan, Nona," ujar salah satu pengawal agar Rosita segera masuk.
"Kalian tidak ikut masuk?" tanya Rosita bingung.
"Bos Walter tidak suka keramaian ketika sedang mengeksekusi seseorang, Nona," sahut salah satu pengawal.
"Eksekusi? Maksud kalian apa?" Rosita semakin tidak tenang. Ingin sekali dia lari saja setelah mendengar jawaban pria itu. Namun, itu juga tidak akan mudah. Karena kabur dari mansion juga tidak segampang membalikkan telapak tangan.
"Silahkan, Nona."
Pengawal itu membukakan pintu. Jelas saja Rosita sudah tidak bisa mundur lagi. Ia melangkah pelan dengan wajah ragu-ragu. Padahal sebelumnya dia tidak seperti ini ketika ingin masuk ke dalam. Tetapi, detik ini aura kamar itu berbeda.
"Tuan, ada yang bisa saya bantu?"
__ADS_1
Rosita memandang Walter yang duduk di kursi roda. Pria itu menatap Rosita dengan tatapan yang sangat tajam. Baru juga Rosita melangkah masuk, tiba-tiba dia sudah di suguhkan dengan pemandangan yang membingungkan. Ada foto Alex Moritz di lantai. Anehnya, di dekat foto itu ada tas dan dompet milik Rosita.
"Siapa kau sebenarnya, Rosita? Kau mata-mata yang di bayar Alex Moritz? Atau kau kekasih Alex Moritz yang baru?"