
Lara menjatuhkan gelas berisi jus jeruk yang baru saja dia ambil dari meja. Jelas saja hal itu membuat Fabio yang baru saja masuk ke dalam kamar mandi keluar lagi. Pria itu khawatir dan segera berlari mendekati Lara. Lara hanya mematung melihat pecahan kaca dan tumpahan jus yang berserak di lantai. Wanita seperti syok padahal hanya memecahkan satu gelas saja.
"Chubby, apa yang terjadi? Apa kau terluka?" Fabio menarik tubuh Lara dan memeluknya. Pria itu memeriksa sekujur tubuh istrinya terutama bagian tangan. "Apa ada yang terluka? Hemm?"
Lara menggeleng. Dia memperhatikan suaminya yang hanya menggunakan handuk di pinggang sebelum menghela napas. "Tiba-tiba saja firasatku tidak enak. Aku kepikiran Alfred."
"Dokter Alfred maksudmu?" tanya Fabio untuk memastikan.
"Ya," jawab Lara cepat.
"Chubby, kau memikirkan pria lain di saat kita sedang bulan madu? Apa kau sering menelepon dia?"
"Tentu saja tidak. Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak memegang ponsel selama bulan madu? Begitu juga denganmu yang tidak boleh bertemu siapapun selama kita bulan madu," sahut Lara.
"Ya. Tidak ada yang berani menemuiku dan aku juga tidak ada menemui mereka. Kau bersamaku selama 24 jam. Bahkan keadaan Walter saja aku tidak tahu. Apa dia sudah sadar atau sudah sembuh. Aku tidak tahu. Demi kau Chubby ...."
__ADS_1
"Baiklah. ini pengecualian. Bagaimana kalau kita ambil ponsel kita dan kita hubungi orang yang ingin kita ketahui kabarnya?"
"Maksudmu kau ingin menghubungi Dokter Alfred?" Kedua alisnya saling bertaut. Terlihat jelas kalau dia sedang cemburu.
"Ya. Apa lagi yang kau pikirkan, sayang. Alfred sudah seperti kakak bagiku. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Dia juga sudah menikah dan sangat menyayangi istrinya," jelas Lara agar Fabio tidak terus-menerus salah paham.
"Baiklah, tapi teleponnya setelah aku mandi. Itu juga harus di depanku!" pinta Fabio.
"Hemm, baiklah."
"Siapa mereka?" tanya Lara dengan wajah takut.
Fabio memandang satu persatu sosok yang turun dari kapal. Pria itu menurunkan senjata apinya ketika dia kenal dengan orang yang kini menuju ke tempatnya.
"Mereka pasukan Black Dragon," jawab Fabio. "Aku akan menemui mereka. Sepertinya ada informasi penting yang harus di sampaikan secara langsung."
__ADS_1
"Ganti baju dulu. Aku akan menemui mereka di depan."
"Tidak perlu. Biarkan mereka menunggu. Istriku harus tetap di kamar!" perintah Fabio. Lara hanya bisa menghela napas dan menganggap setuju. Setelah menikah memang pria itu semakin sangat-sangat posesif terhadap dirinya.
Fabio masuk ke dalam kamar mandi untuk menyelesaikan mandinya yang tertunda. Sedangkan Lara duduk di sofa sambil memandang ke luar jendela. "Semoga saja mereka datang dengan membawa kabar baik."
Di sisi lain, Alex yang baru saja tiba di apartemen Rosita hanya tersenyum sinis melihat barang-barang Rosita yang rata-rata berwarna pink. Pria itu ingin tertawa namun, ia juga tidak mau tertawa di depan anak buahnya. Sesekali dia memegang barang Rosita sebelum meletakkannya kembali ke tempatnya.
"Wanita itu pergi ke Belanda. Sampai sekarang belum kembali. Kabar terbaru yang saya dapat, Walter juga pergi ke Belanda, Bos," ujar pria yang menjadi bawahan Alex Moritz tersebut.
"Tadinya aku pikir dia wanita yang berguna. Ternyata dia sama sekali tidak penting bagi keluarga Alessandro. Hanya sekedar wanita biasa yang ditemukan di tengah jalan. Sungguh buruk. Sebentar lagi statusnya juga tidak akan jelas. Sepertinya kita tidak membutuhkannya lagi."
Alex mengambil satu foto yang terletak di atas meja dan membantingnya ke lantai. "Aku ingin tahu apa yang mereka lakukan selama di Belanda! Cek juga bagaimana pertahanan mansion saat ini."
"Baik, Bos!"
__ADS_1